Oleh: Fajar Nugraha
Awal pekan menjemput, Senin (3/11/2025) Gubernur Riau Abdul Wahid membuka lembaran hari baru dengan jiwa yang bergelora, membakar semangat dalam setiap relung hati. Setiap langkahnya perwujudan dari tekadnya yang membara, membangun kembali peradaban Melayu yang pernah jaya.
Wahid masih berdiri di panggung yang sama, mengenakan jubah tanggung jawab yang berat. Ia masih tampak bugar dan bersemangat memimpin apel penyegaran aparatur sipil Satuan Polisi Pamong Praja di Lapangan Helipad rumah dinasnya, bahkan orang nomor satu di Riau ini memberikan petuah penting kepada para aparat penegak Perda ini untuk menjadi teladan dan garda depan dalam menegakkan aturan di lingkungan pemerintahan. Ia juga menekankan pentingkannya tindakan tegas, beretika, dan menjaga marwah daerah, namun dalam tetap dilakukan secara santun dengan nilai nilai kemanusiaan.
Ada pepatah lama yang berkata, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Namun, di bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, langit yang dulu dijunjung tinggi sudah ternoda oleh ulah tangan penguasa sendiri. Pemimpin kala itu, yang namanya dahulu dielu-elukan sebagai harapan baru anak negeri, kini sudah tercatat dalam lembaran hitam sejarah daerah kita sendiri.
Belum genap dua tahun kepemimpinannya kala itu, ketika rakyat masih menaruh harap pada janji perubahan, petaka datang mengetuk pintu rumah dinas. Layaknya pohon muda yang rebah diterpa badai, kursi kekuasaan yang ia duduki ternyata berdiri di atas pasir rapuh bukan di atas fondasi amanah.
Pemimpin masa itu yang sebelumnya dikenal sebagai bupati muda penuh karisma, tersandung batu yang ia tumpuk sendiri. Uang dan kekuasaan menjadi racun manis yang menumpulkan nurani. Ia tak hanya memungut gratifikasi, tapi juga menabur suap ke 53 anggota dewan, seolah gedung DPRD bukan lagi rumah bagi suara rakyat, melainkan pasar tempat dagang kepentingan.
Pepatah orang tua kita dulu mengatakan, “air yang tenang jangan disangka tiada buaya.” Di balik senyum pemimpin, ternyata bersembunyi jebakan yang menelan kepercayaan publik. Rakyat menitipkan amanah dengan penuh harap, namun amanah itu dijual dalam gelap, digadai demi kepentingan pribadi dan kemewahan sesaat.
Majelis hakim akhirnya mengetuk palu: enam tahun penjara dan denda setengah miliar rupiah. Namun nilai hukum tak pernah sebanding dengan harga kepercayaan yang hilang. Uang bisa dikembalikan, tapi kehormatan yang tercoreng sulit disucikan.
Perbuatan Zumi Zola gubernur pada masanya adalah cermin bahwa kekuasaan tanpa kejujuran hanyalah rumah kaca yang mudah pecah. "Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Ia mungkin telah menyesal dan bersikap sopan di pengadilan, namun sejarah tetap menulisnya dengan tinta tebal seorang pemimpin yang jatuh karena mengkhianati janji.
Kini, setelah bebas bersyarat, langkahnya kembali menapaki bumi. Entah sebagai pelajaran, entah sebagai peringatan bagi mereka yang masih duduk di singgasana kekuasaan. Karena sejarah telah berkali-kali mengingatkan
“Ketika amanah diingkari, maka rakyat akan menjadi hakim yang lebih tajam dari palu pengadilan.”
Dan mungkin, di setiap detik kebebasannya hari ini, Zumi Zola akan terus mendengar gema suara rakyat Jambi suara yang dulu memuja, lalu kecewa, kini hanya berbisik lirih Kami pernah percaya, dan kami pernah dikhianati.
Kisah kelam itu bukan sekadar catatan masa lalu, tapi cermin bagi pemimpin masa kini. Bagi Gubernur Jambi yang kini mengemban tampuk kuasa, sejarah ini seharusnya bukan hanya dikenang, tetapi dijadikan pagar nurani.
Jangan sampai bara api yang dulu membakar negeri ini kembali menyala karena kelalaian yang sama.
Ingatlah, rakyat bukan sekadar angka dalam laporan pembangunan, mereka adalah jiwa yang menitipkan harapan di pundak pemimpin. Kekuasaan itu seperti bara di tangan, jika tak hati-hati menggenggam, ia akan melukai diri sendiri.
Pepatah orang tua kita dulu berkata, “Tinggi duduk di kursi, rendah jangan dipandang sepi.”
Maka, ketika langit kekuasaan terasa tinggi, jangan lupa menunduk menatap bumi tempat rakyat berpijak. Sebab dari sanalah suara kejujuran dan doa keikhlasan berangkat.
Sahut Situmorang mengatakan pola korupsi Indonesia sama aja, cuman di Riau ini lagi apes nya aja.
Jambi Dalam Bayang Bayang Rasuah, Berkaca Pada Pengalaman Terdahulu dan Pesan Moral Dari Riau
Semoga dari Sungai Kampar hingga Batanghari, arus sejarah ini menjadi peringatan bahwa negeri Melayu akan tetap mulia, selama pemimpinnya tahu malu, tahu diri, dan tahu amanah.(*)
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jambi Pelalawan Riau*
Filosofi Gajah PSI sebagai Kekuatan, Kebijaksanaan, dan Kepedulian
Momentum HUT ke-26 : Meneguhkan Semangat Kebersamaan Menuju Sarolangun MAJU
Pangkas Birokrasi, RSUD Raden Mattaher Siapkan Layanan Uronefro Terpadu Pasien Gagal Ginjal



