JAMBERITA.COM - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Pinto Jayanegara membeberkan kronologis singkat terkait dengan permasalahan uang staf honor yang bernama Rahma Syifa. Secara rinci Ia pun memberikan klarifikasi tentang kejadian itu yang tak habis fikir permasalahan ini melebar kemana mana.
"Kita buka sejarahnya, dia waktu itu minta ketemu karena ada uang nya dia dan uang perjalanan dinas nya belum sampai ke dia, tanggal 8 Mei 2024 dia datang, disitu kita tanya ya, kenapa Syifa," tanya Pinto.
"Ini ada uang saya belum dibayar pak. Oh ya apa itu, ini bon (hutang) spanduk, coba saya lihat. Inikan Januari kenapa nggak ngomong dari kemarin, sebesar Rp 1 juta. Yaudah saya bilang ke staf saya, ini kayak ini langsung dibayar saja kalau emang uang nya dipakai," ujar pinto menceritakan sekaligus menirukan pembicaraan Syifa.
Setelah itu kata Pinto, Syifa kembali mengeluarkan secarik kertas dengan beberapa catatan terkait dengan uang perjalanan dinas, sehingga Ia pun meminta kepada Syifa agar catatan yang ditunjukkan itu dirapikan dengan ketikan komputer, karena menurut Pinto Ia juga baru mengetahui tentang uang perjalanan dinas Syifa.
"Lalu dia nambah lagi, keluar kertas yang lain, ini juga ada hak saya yang lain belum saya terima pak. Terus, itu apa ya. Perjalanan dinas, ya coba kamu rapikan dulu dibuat tanggal berapa kemana saja yang jelas, jadi kita bisa croscek, disini saja kan di rumah dinas ada komputer kan, tapi dia nggak mau, mau nya sekarang juga berdasarkan kertas itu," ungkapnya.
Pinto menjelaskan dari permintaan agar dirapikan itu, Syifa pun mulai tampak emosional. Untuk menghindari keributan Pinto meminta Sekwan waktu itu ada disebelah nya agar mengarahkan Syifa merapikan apa yang diajukannya terkait perjalanan dinas Syifa.
"Bu Sekwan tenangin dulu deh, kalau sudah tenang saya keluar lagi, lalu saya masuk ke dalam gitu. Kalau pertanyaan nya uang nya dimana itu sudah ada di Sekwan tinggal diberikan kepada dia, cuman kan harus terinci," jelasnya sampai saat ini uang tersebut belum sampai ke Syifa."Iya, nampak nya begitu," tambah Pinto.
Pada sebenarnya, Pinto mengaku selama ini ia tidak mau ikut campur tentang uang honor dan perjalanan dinas setiap Staf yang bekerja. "Karena untuk mengambil uang itu harus langsung yang bersangkutan, mereka yang ber dinas mereka lah yang mengurus kan begitu, nggak bisa diambil oleh orang lain. Itu sepengetahuan saya ya, yang menerima langsung dan ada tanda terima," tegasnya.
Pinto mengaku selama Ia menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD, baru ini lah kejadian seperti ini terjadi. Sepintas Ia baca juga dari kertas yang ditunjukkan Syifa itu juga tertera soal biaya percetakan tetapi bukan percetakan yang selama ini Ia berlanganan dan dibayar disetiap akhir bulan.
"Kita bayar disetiap akhir bulan, ada yang bayar, bukan Syifa karena bukan tupoksi nya urus spanduk. Nah itu bukan langganan saya, saya lihat dia sudah mulai emosional pula. Yaudah saya tinggal daripada nanti rukit jadi selesaikan saja, kebetulan saat itu saya baru saja sampai, tanggal 8 itu ya, disitu ada Sekwan terus semua staf saya ada disitu," ujarnya.
Sejauh ini sejak awal Syifa hendak datang untuk bertemu kata Pinto terkait uang itu tentu pasti dibayarkan apa yang dipinta. Artinya ada sesuatu apa yang menjadi hak Syifa belum sampai ketangannya, tetapi yang apa yang dipinta itu lebih terinci agar jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.
"Kalau yang bon itu jelas sejuta, itu sudah mau kita bayar kan, tapi kalau yang secarik kertas itu tidak jelas, itu apa. Kita kan biasanya kalau dikantor standar nya ini (surat) pemohon tanggal sekian merasa belum, nanti kan kita kroscek dengan data Sekwan seperti apa," kata Pinto di hari itu ia bertahan meminta agar catatan Syifa lebih terinci dan jelas.
Setelah tanggal 8 Mei 2024, Ia sudah mengutus staf nya untuk menghubungi Syifa agar permasalahan itu segera diselesaikan, diawali dengan pertemuan antara staf ke Syifa, lalu kemudian tidak bisa dihubungi sampai akhirnya berkepanjangan.
"Ada kita sudah ingatkan, setelah siang di rumah dinas siang, malam kita ingatkan lagi agar Syifa rapikan saja agar dibayarkan. Besoknya dihubungi ada pertemuan diluar tidak mau di rumah dinas, lalu ketemu, kemudian selanjutnya tidak bisa dihubungi lagi oleh staf kita," pungkasnya.(afm)
UNJA Bedah Isu Ekosistem Ekonomi Digital: Masyarakat Harus Paham Regulasi dan Risiko Pinjol
Pengwil Ikatan Sarjana Melayu Indonesia Jambi 2026-2030 Dilantik
Pinto ke DPD Golkar Provinsi Jambi Klarifikasi Persoalan Syifa : Mereka Peduli ke Kadernya
Jelang Pilwako dan Pilgub Jambi, KPU Kota Jambi Matangkan Persiapan Daftar Pemilih

