JAMBERITA.COM - Setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN). Tahun 2024 ini merupakan HGN ke 64. Tema Hari Gizi Nasional tahun 2024 mengangkat tentang MP-ASI Kaya Protein Hewani cegah stunting. Stunting masih menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat sampai saat ini. Apakah stunting itu? Apakah dampak stunting? Apa yang menyebabkan stunting dan bagaimana cara menanggulanginya ? kita akan membahasnya satu persatu.
Apakah stunting itu?
Menurut peraturan presiden no 72 tahun 2021 bahwa stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronik yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan menurut usia yang berada dibawah-2 standar deviasi pada kurva pertumbuhan WHO yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No.2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Jadi penetapan stunting menurut peraturan tersebut adalah melalui pengukuran Panjang/tinggi badan anak balita lalu dibandingkan dengan standar. Apabila panjang/tinggi badan anak berada dibawah standar maka anak tergolong stunting (pendek)
Apa dampak stunting?
Balita yang stunting merupakan tanda balita tersebut mengalami gangguan gizi dan Kesehatan dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini berdampak pada balita berupa dampak jangka pendek berupa terganggunga perkembangan otak, metabolisme tubuh dan pertumbuhan fisik, serta dampak jangka panjangnya adalah kecerdasan yang tidak maksimal, anak mudah sakit serta anak akan lebih tinggi berisiko menderita penyakit diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker pada saat dewasa.
Seberapa besar masalah stunting di Indonesia dan Provinsi Jambi?
Masalah stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 21,6% (Survei Status Gizi Indonesia, 2022) terjadi penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 24,4%. Sedangkan untuk Provinsi Jambi berdasarkan survey yang sama terjadi penurunan stunting dari 22,4% tahun 2021 menjadi 18% tahun 2022. Meskipun mengalami penurunan namun masih perlu upaya besar untuk mencapai target penurunan stunting pada tahun 2024 sebesar 14%.
Apa Penyebab Stunting?
Stunting dapat terjadi sejak sebelum lahir, hal ini dapat dilihat dari prevalensi stunting berdasarkan kelompok usia hasil SSGI 2022, dimana terdapat 18,5% bayi dilahirkan dengan panjang badan kurang dari 48 cm. Dari data tersebut kita dapat melihat pentingnya pemenuhan gizi ibu sejak hamil. Hasil yang cukup memprihatinkan dari survei yang sama adalah risiko terjadinya stunting meningkat sebesar 1,6 kali dari kelompok umur 6-11 bulan ke kelompok umur 12-23 bulan (13,7% ke 22,4%). Hal ini menunjukkan ‘kegagalan’ dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) sejak usia 6 bulan, baik dari segi kesesuaian umur, frekuensi, jumlah, tekstur dan variasi makanan.
Pencegahan dan Penanggulangan Stunting Melalui aspek Makanan ?
Salah satu strategi pencegahan dan penanggulangan stunting adalah melalui pemberian Makanan Pendamping ASI yang tepat dan berkualitas dimulai usia 6 bulan. Dimasa ini sangat penting untuk memperhatikan dan menjamin kecukupan energi dan protein pada anak untuk mencegah terjadinya stunting. Protein hewani penting dalam penurunan stunting. Studi yang dilakukan oleh Headey et.al (2018) menyatakan bahwa ada bukti kuat hubungan antara stunting dan indikator konsumsi pangan yang berasal dari hewan, seperti daging, ikan, telur dan susu atau produk turunannya (keju, yoghurt, dll). Penelitian ini juga menunjukkan konsumsi pangan berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis
lebih menguntungkan daripada konsumsi pangan berasal dari hewani tunggal. Konsumsi protein hewani pada balita masih rendah karena berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), konsumsi telur, daging, susu dan produk turunannya di Indonesia termasuk yang rendah di dunia: konsumsi telur antara 4-6 kg/tahun; konsumsi daging kurang dari 40 g/orang, serta konsumsi susu dan produk turunannya 0-50 kg/orang/tahun.
Perbaikan gizi masyarakat pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan konsumsi beragam makanan bergizi dan mengandung protein hewani setiap kali makan akan berdampak pada penurunan stunting. Bayi harus mendapatkan ASI eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupannya melalui terlaksananya inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian ASI saja yang diberikan kepada bayi kapanpun bayi membutuhkan (on demand). Setelah bayi berusia 6 bulan, pemberian ASI tetap dilanjutkan disertai dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang memenuhi syarat tepat waktu, adekuat dan kaya protein hewani, aman dan diberikan dengan cara yang benar. Pastikan setiap kali makan MP ASI mengandung protein hewani dan pastikan pula anak dipantau pertumbuhannya setiap bulan. Apabila berat badan anak tidak naik, segera periksa ke dokter di puskesmas. Hari Gizi Nasional ke-64 merupakan momentum yang baik untuk menggaungkan “MP-ASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting” dengan rangkaian kegiatan di tingkat pusat hingga ke tingkat Masyarakat serta melibatkan berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta.
Selamat Hari Gizi Nasional Ke 64
Bersama kitab isa cegah stunting
Penulis : Fery T Sihotang, SKM,M.Kes (Praktisi Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Jambi)
Gubernur Al Haris Fasilitasi Kepulangan 3 Warga Jambi Korban Scam Kamboja, 1 Orang Malah Menghilang
Tegas! Kanwil Kemenkum Jambi Ke Majelis Pengawas : Periksa Jika Ada Dugaan Pelanggaran Notaris
SAH Serukan Gerakan Sadaqah Tani Jadi Solusi Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan di Jambi
PEJABAT UIN STS JAMBI: Jadilah Pohon Rindang di Tengah Padang


Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Kembali Ditahan di Rutan Jambi


