Oleh: Riqky Ananda Putra*
Indonesia sebagai bangsa besar, harus mengenal sejarahnya, mengingat banyaknya peristiwa sejarah yang telah banyak terjadi. Tentu jauh sebelum itu wilayah yang disebut Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Nusantara. Berbagai kerajaan berada dalam wilayah Nusantara dahulunya pernah berkembang, dari awal berdiri sampailah dengan keruntuhan kerajaan tersebut.
Nusantara hampir tidak pernah luput dari penjajahan bangsa asing. Sumber daya alam yang melimpah jadi incaran. Beberapa bangsa yang pernah menjajah Indonesia seperti diantaranya Portugis (1509 – 1595), Spanyol (1521 – 1529), Belanda (1602 – 1942), Inggris (1811 – 1816), Jepang (1941 – 1945), sehingga pada akhirnya dengan perjuangan yang terus dilakukan, Republik Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Beranjak dari segenap historical yang telah dialami bangsa indonesia, hal tersebut menjadi sebuah pelajaran bagi segenap masyarakat Indonesia untuk menjadikan sebuah penanaman nilai-nilai berupa sikap cinta tanah air tecermin dalam perilaku membela, menjaga, dan melindungi tanah air guna diwujudkan dalam sebuah wawasan nusantara.
Mengenai sebuah wawasan nusantara, dari Samsul Wahidin mendefinisikan suatu cara pandang, cara memahami, cara menghayati, cara bersikap, cara bertindak, cara berpikir, dan tingkah laku bagi bangsa Indonesia sebagai hasil interaksi psikologis, sosiokultural dalam arti luas dengan aspek-aspek asta grata. Maka secara substansi dapat dipahami mengenai wawasan nusantara ialah perspektif terhadap bangsa dengan tujuan menjaga persatuan dan kesatuan, yang dimanifestasikan dengan mengutamakan kepentingan nasional dibanding kepentingan pribadi, kelompok atau golongan tertentu. Tujuan dari wawasan nusantara tersebut sangat berguna sebagai pedoman, motivasi, dorongan, dan rambu-rambu dalam menentukan kebijaksanaan, keputusan, Tindakan dalam berhidupan berbangsa dan bernegara.
Himpunan Mahasiswa Islam sebagai organisasi mahasiswa yang terbesar dan tertua di Indonesia yang didirikan di Yogyakarta pada 5 Februari 1947 yang diawali oleh ide dari Lafran Pane bersama dengan 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam yang sekarang dikenal dengan Universitas Islam Indonesia, senantiasa komitmen mengawal misi Keislaman dan Keindonesiaan. Mengingat sesuai apa yang ditanamkan tokoh pendiri HMI yang merupakan Pahlawan Nasional yaitu Prof. Lafran Pane, beliau menyampaikan “Dimanapun kau berkiprah tak ada masalah, yang penting semangat keislaman-keindonesiaan itu kau pegang terus”. Tentunya HMI dalam mewujudkan kemaslahatan Umat dan Bangsa harus terus-menerus berkontribusi dan konsisten dalam khittah perjuangan dalam implementasinya terhadap semua aspek kehidupan menuju peradaban yang maju “baldatun thayyibatun” dengan kader HMI sebagai insan kamil serta peradaban yang diisi oleh Civil Society (Masyarakat Madani). Gagasan besar tersebut mengacu dari landasan ideologi dan doktrin perjuangan bagi kader-kader HMI yaitu Nilai-nilai Dasar Perjuangan yang digagas oleh Nurcholis Madjid. Sehingganya kader HMI telah memiliki landasan perjuangan yang kemudian diaktulisasikan dalam berkehidupan. Tidak sebatas itu saja, dalam menjalankan landasan perjuangan HMI, bahwa Nilai-nilai dasar perjuangan mengarah dalam konteks Keislaman, dan Basic Demand Bangsa Indonesia (BDBI) dijadikan landasan perjuangan dalam konteks keindonesiaan. Karena kedua konteks Keislaman dan Keindonesiaan harus terus berdampingan dalam gerak perjuangan HMI.
Membahas lebih dalam mengenai Basic Demand Bangsa Indonesia (BDBI) yang terus digaungkan, bahwa BDBI dijadikan sebuah nilai penopang dalam aspek keindonesiaan dalam menegaskan arah perjuangan HMI terhadap konteks keindonesiaan. Sesuai dari apa yang dijelaskan oleh Fakhruddin Muchtar sebagai perumusnya, bahwa seperti halnya akidah keislaman yang terakomodir dengan baik dalam Nilai-nilai Dasar Perjuangan, Nasionalisme kebangsaan HMI harus ditampung dalam sebuah teks yang utuh, berwibawa, dan berdiri sendiri ke dalam Basic Demand Bangsa Indonesia. Sehingganya HMI yang konsisten dalam mengawal misi keislaman dan keindonesiaan sesuai dengan harapannya, dapat menjadi pelopor kemajuan peradaban bagi umat dan bangsa. BDBI tersebut sesungguhnya berangkat daripada kelahiran HMI itu sendiri dengan rumusan tujuan seperti pada pasal 5 Anggaran Dasar (AD) dalam rangka menjawab dan memenuhi kebutuhan dasar (basic demand) bangsa Indonesia setelah mendapatkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 guna memformulasikan dan merealisasikan cita-cita hidupnya.
Saat ini, dengan kondisi dan situasi bangsa Indonesia yang seringkali mengalami problematika berbangsa dan bernegara seperti terjadinya sebuah polarisasi sosial yang mengakibatkan adanya disintegrasi bangsa akibat dikotominya keutuhan atau persatuan suatu bangsa sehingga menyebabkan perpecahan. Bahwa bangsa Indonesia dapat maju dengan fundamental rasa persatuan yang dibalut dengan Bhineka Tunggal Ika yaitu moto dari bangsa Indonesia ini. Sehingganya, melanjutkan pembahasan dari ranah perjuangan HMI, maka Basic Demand Bangsa Indonesia (BDBI) ini diharapkan dapat menjadi sebuah jembatan dalam menguatkan wawasan nusantara yang bertujuan sebagai kontruk berpikir, dan bertindak, yang kemudian diimplementasikan dalam kemajuan bangsa Indonesia, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai pelopor terdepan dalam mewujudkannya.(*)
Penulis adalah: Peserta Advance Training/LK-III Badko HMI Jambi*
Eksperimen Tari “Naek Bubung” dalam Festival Tari Lah Puah Jelipung Tumbum
Kepala Sekolah: Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah Perdesaan
Gubernur Al Haris Apresiasi Kontribusi Ponpes Sulthon Fattah Bangun SDM Jambi

