Oleh: Sumarni, S.Pd.I*
Lembaga Pendidikan merupakan suatu wadah dalam membina siswa yang bertujuan untuk menjembatani siswa menggapai cita-cita dan masa depan yang lebih baik. Sekolah-sekolah di perdesaan sering menjadi topik perbincangan tentang keberadaanya. Dalam hal ini berkenaan dengan Sumber daya manusia, sarana dan prasarana dan akses jaringan menjadi keluh kesah yang sudah menahun diperbincangakan.
Untuk itu, maka dibutuhkanlah kepala sekolah yang mampu menjawab dan mengatasi permasalahan tersebut. Mengingat betapa pentingnya peranan kepala sekolah dalam memfasilitasi tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa, tentu ini menjadi tanggung jawab yang harus segera diselesaikan, baik berupa memberi pelatihan bagi sumber daya manusia yang ada dalam rangka mencerdaskan siswa-siswinya, mengupayakan fasilitas yang bisa diberdayakan dan yang sudah ada untuk menutup kurangnya sarana dan prasarana dalam mendukung program sekolah dalam hal ini menghidupkan budaya baca dan berupaya mencari akses jaringan di tempat lain untuk mencari materi-materi tentang pembelajaran dan bahkan untuk menyelesaikan tugas jika itu membutuhkan akses jaringan. Tentu hambatan tersebut bukan menjadi rintangan dalam rangka untuk mencerdaskan generasi anak bangsa yang mampu bersaing dengan siswa-siswi yang bersekolah di daerah perkotaan.
Menghidupkan budaya baca di sekolah perdesaan tentu merupakan tanggung jawab pihak sekolah, dalam hal ini kepala sekolah, guru, staf, siswa, masyarakat sekitar sekolah dan bahkan bekerja sama dengan wali murid untuk menjadi pengawas bersama dengan anak-anak didik kita. Oleh sebab itu pentingnya melibatkan semua komponen sekolah dalam rangka menghidupkan budaya baca di sekolah perdesaan.
Melihat kondisi siswa yang masih belum lancar membaca tentu menjadi perhatian bagi kepala sekolah. Dalam realisasi program budaya baca di sekolah misalnya, kepala sekolah tidak hanya berada di belakang layar (behind the scene) saja tetapi kepala sekolah menjadi pioneer dengan selalu terlibat aktif dalam program dan agenda yang dilaksanakan sekolah khususnya dalam upaya mengembangkan budaya baca di sekolah.
Jika dikaitkan dengan program literasi membaca, maka program budaya baca yang diselengarakan di sekolah termasuk dalam dimensi kompetensi manajerial. Kepala sekolah berpartisipasi aktif dengan berusaha untuk hadir tepat waktu untuk menjadi teladan bagi semua komponen di lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan kepala sekolah juga untuk menumbuhkan sikap partisipatif semua komponen sekolah dalam menghidupkan program budaya baca di sekolah Dasar Negeri No 42 Pekan Gedang.
Sekolah Dasar Negeri No 42 Pekan Gedang merupakan sekolah yang berada di perdesaan tepatnya di Kabupaten Sarolangun Kecamatan Batang Asai, dalam hal ini telah berkomitmen untuk menghidupkan program budaya baca bagi peserta didik. Program ini dinamakan “Jumpa Sinabu” yang merupakan kolaborasi literasi Al-qur’an dan buku bacaan yang dilaksanakan setiap Jum’at pagi.
Budaya baca yang diterapkan di sekolah ini bukan hanya berfokus pada pengetahuan umum melainkan mengedepankan pengetahuan yang berkenaan dengan keagamaan Ibadah Praktis bagi siswa-siswinya seperti Sholat, baca Alqur’an dan baca Surah Yasin bersama yang dipimpin oleh Guru Pendidikan Agama Islam yang melibatkan seluruh masyarakat sekolah.
Dalam menerapkan budaya baca pihak sekolah memiliki perpustakaan dimana masing-masing siswa diberikan kebebasan untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan sesuai dengan tema yang mareka minati. Selain dari pada itu Kepala sekolah juga telah berupaya membuat pojok baca, dimana masing-masing siswa membaca buku di luar perpustakaan dengan menikmati pemandangan alam terbuka.
Kegiatan ini tidak terlepas dari pantauan dan kerja sama dengan masing-masing guru dan wali kelas guna memfasilitasi belajar siswa. Sebagaimana yang kita ketahui, guru adalah contoh, diguguh dan ditiru. Sebagai seorang guru tentu bertanggung jawab dalam rangka mendidik siswa-siswinya. Bukan hanya itu saja, sebagai seorang pendidik tentu harus memberi pendidikan dan melahirkan siswa-siswi yang terdidik, baik itu sikap dan prilakunya.
Keaktifan kepala sekolah tentu menjadi tauladan bagi masyarakat sekolah, dimana kepala sekolah selalu memainkan peranya sebagai pemimpin. Terlebih sekolah yang ia pimpin merupakan sekolah yang berada di perdesaan tentu ini merupakan tentangan dengan keberadaanya. Kepala sekolah harus menerapkan budaya disiplin dan bertanggung jawab sehingga melahirkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang professional dalam rangka mencerdaskan anak bangsa yang mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lainya. Hal ini dapat terlihat dimana kepala sekolah sudah dapat mengaplikasikan perananya sebagai pemimpin, disiplin, tepat waktu dan bertanggung jawab.
Oleh sebab itu keberadaan sekolah di perdesaan bukanlah merupakan suatu hambatan yang harus dikeluhkan. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk memajukan sekolah yang kita pimpin, seperti mengadiri webinar, pelatihan dan kegiatan apa saja yang dapat membangun sekolah diperdesaan agar menjadi lebih baik.
Penulis adalah: Kepala Sekolah SD 42 Pekan Gedang
Gubernur Al Haris Apresiasi Kontribusi Ponpes Sulthon Fattah Bangun SDM Jambi

