Oleh: Lisa Gusmanita, S.ST., M.E.*
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi baru-baru ini merilis angka inflasi Juni 2022. BPS Provinsi Jambi menyebutkan bahwa inflasi Kota Jambi sebesar 1,55 persen dan inflasi Kota Muaro bungo sebesar 1,43 persen. Inflasi gabungan kedua kota ini sebesar 1,53 persen. Dari 24 kota IHK di Sumatera, sebanyak 22 kota mengalami inflasi dan hanya 2 kota yang mengalami deflasi. Yang menjadi perhatian, kedua kota inflasi di Provinsi Jambi menorehkan catatan 5 besar kota dengan tingkat inflasi tertinggi. Di tingkat nasional, dari 90 kota IHK se-Indonesia, sebanyak 85 kota mengalami inflasi dan 5 kota lainnya mengalami deflasi. Posisi 2 kota Inflasi di Provinsi Jambi masuk 10 besar kota dengan inflasi tertinggi. Kota Jambi menduduki peringkat ke-7 dan kota Bungo peringkat ke-9.
Komoditi Penyumbang Inflasi di Kota Jambi dan Muaro Bungo
Jika ditilik lebih dalam, inflasi Juni 2022 didorong oleh naiknya indeks harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Di Kota Jambi, kelompok pengeluaran ini mengalami kenaikan indeks harga sebesar 5,04 persen dengan andil yang sangat dominan sebesar 1,5727 persen. Begitu pula inflasi di Kota Bungo, indek harga kelompok pengeluaran mengalami kenaikan sebesar 4,73 persen dengan andil yang juga sangat dominan sebesar 1,5370 persen. Komoditi utama yang memberikan andil terbesar inflasi Kota Jambi dan inflasi Kota Muara Bungo adalah cabai merah. Di Kota Jambi, cabai merah menempati posisi pertama penyumbang inflasi dengan andil sebesar 1,1988. Di Kota Muara Bungo, cabai merah juga mendominasi bahkan memberikan andil yang lebih besar yaitu sebesar 1,8099 persen
Selorohan “tanpa lauk, makan cabe dengan kerupuk pun jadi” ternyata bisa berbeda makna dengan kondisi sekarang. Harga cabai merajai harga kelompok kebutuhan pokok Jambi setelah daging sapi bahkan berada jauh diatas harga daging ayam ras yang berada pada kisaran Rp.40.000-Rp.50.000 per kg. Dikutip dari data kementrian Perdagangan (Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan), pada 2 Juni 2022 cabai merah besar bergerak dari harga Rp.51.500 per kg dan harga cabai merah keriting dari harga Rp.52.500 per kg. Harga kedua komoditi tersebut terus merangkak naik, hingga puncaknya pada 16 Juni cabai merah besar mencapai Rp.81.000 per kg dan cabai merah keriting Rp.82.000 per kg. Harga kedua komoditi ini hingga akhir Juni 2022 masih berada diatas Rp.50.000 per kg.
Produsen Pemegang Kunci pada Komoditi Inflasi
Kenaikan harga kebutuhan bahan pokok memang sering terjadi, apalagi menjelang perayaan hari besar agama. Kenaikan harga cabai pun juga termasuk yang tidak dapat dielakkan. Cita rasa pedas di lidah memang sudah sangat identitik bagi masyarakat Indonesia. Meskipun kenaikan harga yang meroket, bahkan dengan “sambil menggerutu” ibu-ibu tetap akan membeli komoditi ini. Pentingnya cabai merah ini bagi masyarakat, sangat menggelitik apa yang menjadi penyebab sering terjadinya pergolakan harga pada komoditi ini terutama di Provinsi Jambi.
Keseimbangan harga dalam suatu pasar akan tercapai pada titik ekuilibrium dimana tingkat permintaan akan sama dengan tingkat penawaran. Jika tingkat permintaan tetap sedangkan tingkat penawaran menurun akibat kelangkaan suatu produk maka akan mendorong kenaikan harga pada produk tersebut yang dalam hal ini adalah cabai merah. Menurut Kepala dinas perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, Kemas Muhammad Fuad dalam Median Indonesia 15 Juni 2022, semakin pedasnya harga cabai di Jambi terjadi akibat masih minimya pasokan cabai dari daerah produsen lokal maupun produsen di luar Jambi seperti Bengkulu, Medan, dan Pulau Jawa. Kepala dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi, Yon Heri dalam Jambi Link 24 Juni 2022, juga menjelaskan bahwa harga cabai yang meroket dikarenakan beberapa faktor yang dialami produsen seperti gagal panen dan juga biaya produksi yang mahal. Pemerintah daerah tidak dapat melakukan intervensi pasar karena permasalahan terjadi di tingkat produsen.
Pemenuhan kebutuhan cabai-cabain di Jambi memang tidak hanya bertopang dari produksi lokal tetapi juga produksi dari luar daerah. Distribusi dari daerah pemasok sangat mempengaruhi tingkat harga cabai di Jambi. Intervensi pasar memang sulit untuk dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi pemerintah dapat melakukan intervensi preventif agar kenaikan harga cabai dapat ditekan. Memperbaiki rantai distribusi, menambah jumlah pemasok, dan memperkuat kerjasama dengan wilayah pemasok sangat diperlukan. Yon Heri menambahkan bahwa selama ini pasokan kebutuhan bahan pokok dari luar daerah selalu lancar. Pemerintah daerah bahkan Bulog pun sulit melakukan intervensi dikarenakan Bulog tidak memiliki komoditas cabai dan sayuran. Penyebab kenaikan harga komoditas ini biasanya disebabkan oleh kegagalan panen, kemudian produsen membuka hubungan bisnis dengan pihak lain.
Di Provinsi Jambi, pemasok lokal untuk sayur-sayuran terutama cabai berasal dari Kabupaten Kerinci. Menurut data BPS Provinsi Jambi (2022), Kabupaten Kerinci mendominasi produksi tanaman sayuran tahun 2021 di Provinsi Jambi seperti cabai merah (86,97 persen), cabai rawit (66,78 persen), dan bawang merah (92,92 persen). Meskipun begitu, Kabupaten Kerinci sebagai sentra perkebunan juga memperoleh dampak dari kegagalan produksi komoditi cabai. Kenaikan harga cabai memang terjadi secara umum di banyak wilayah termasuk di Kabupaten Kerinci. Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bidang Perdagangan Kabupaten Kerinci, Taufik dalam Jambi Ekspres 15 Juni 2022, langka dan mahalnya harga cabai di kerinci terjadi akibat kegagalan panen. Sentra perkebunan di Kayu Aro, Renah Pemetik, dan Gunung Raya mengalami penurunan produksi cabai dimana hasilnya turun drastis dikarenakan cabai banyak yang rontok terserang hama lalat buah.
Tanaman cabai memang merupakan salah satu tanaman primadona para petani. Akan tetapi membudidayakan bukan semudah membalik telapak tangan. Cabai merah sangat sensistif terhadap perubahan kelembaban udara dan sangat mudah diserang oleh hama dan penyakit seperti hama lalat buah. Perbaikan tata cara budidaya yang efisien sangat diperlukan sehingga tanaman cabai dapat bertahan dari perubahan cuaca dan gangguan alam.
Rekomendasi dan Saran
Masyarakat Jambi memang sudah terbiasa mengkonsumsi cabai merah segar. Pengendalian harga cabai pun dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan dari diri sendiri. Penggunaan cabai merah kering atau cabai merah olahan dapat dijadikan alternatif cara mengkonsumsi cabai yang bijak. Budidaya cabai merah di pekarangan juga sangat direkomendasikan kepada masyarakat. Pemerintah daerah dapat melakukan program “gerakan tanaman pekarangan” dan membagikan bibit cabai dan sayur-sayuram secara gratis ke masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jambi lebih memfokuskan intervensi preventif sehingga kenaikan harga dapat ditekan dari tingkat produsen. Penambahan wilayah pemasok cabai merah dapat menjadi salah satu solusi menekan harga cabai merah yang tentu saja dengan tetap memperhitungkan keuntungan secara ekonomi. Selain itu Pemerintah Provinsi Jambi dapat menggenjot produksi lokal dengan melakukan sosialisasi cara budidaya cabai yang efisien dan cara mengendalikan hama yang ramah lingkungan serta murah dan mudah dilakukan oleh petani. Selain itu, bantuan secara langsung dari pemerintah juga sangat diperlukan seperti penyaluran bibit gratis ke petani, pemberian pupuk bersubsidi, dan juga peralatan pengendalian hama baik alat mekanis maupun obat-obatan kimia pembasmi hama.(*)
Penulis adalah: Statistisi Muda, BPS Provinsi Jambi*
Kretifitas Mahasiswa melalui Mata Kuliah Islamic Entrepreneurship
Perpres Batubara Cari Aman, Memfasilitasi Eksplorasi Tanpa Pelestarian


Menambal Asa di Jalur Penyangga : Komitmen PUTR Jambi Benahi Infrastruktur Jalan Padang Lamo



