Budaya Minang Idenntik dengan Tawar-menawar (Ago Maago atau paago)



Minggu, 19 Juni 2022 - 21:54:51 WIB



Oleh: Sri Handayani*

 

 

Di Minang terdapat berbagai macam ragam tradisi adat, serta budaya yang menarik untuk di bahas. Tradisi merupakan sebuah kegiatan seperti acara-acara adat yang dilakukan di waktu tertentu. Contohnya tradisi makan bajamba, upacara turun mandi, balimau, batagak pangulu, batagak kudo-kudo, pacu jawi, batabuik, serta pacu itiak. Nah berbeda dengan budaya, budaya merupakan suatu kegiatan yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya di Minang juga beragam misalnya budaya merantau sejak zaman dahulu, budaya tawar menawar (ago maago), dan lain sebagainya.

Di Minang identik dengan budaya tawar- menawar (ago maago). Kenapa disebut identik ago maago atau tawar menawarnya lebih menekan dari pada dari daerah lain diluar Minang. Ago maago terjadi antara penjual (nan mangaleh) dan pembeli. Mengapa sangat identik ago maago di Minang karena harga yang diletakkan oleh penjual (nan mangaleh) sangat tinggi contohnya harga yang disebut kepada pembeli bisa saja dua kali lipat dari harga aslinya. Oleh sebab itu pembeli yang berasal dari Minang menawar juga tidak tanggung-tanggung. Misalnya penjual (nan mangaleh) menyebutkan harga suatu produk yang di jual seharga Rp.240.000 maka ditawar (diago) seharga Rp.150.000. Nah dari devinisi ini dapat diambil kesimpulan bahwa orang Minang dikenal sangat paago. 

Menurut hukum tawar menawar dalam islam berdasarkan firman Allah dalam Al Quran ialah halal atau diperbolehkan selama dijalankan sesuai sumber syariat islam. Tidak masalah jika berada dalam suatu perniagaan (jual beli) dilakukan tawar menawar harga hingga tercapai kesepakatan kedua belah pihak agar tidak ada rasa keterpaksaan dalam urusan jual beli tersebut. 

Sering kita temui para pembeli yang menawarkan dagangan baik secara langsung atau melalui media online dan ditawar oleh calon pembeli yang minat untuk memiliki barang yang dijual tersebut. Barang akan diserah terima kan ketika sudah ada kesepakatan antara keduanya. Jual beli yang di media online sebenarnya masih diragukan sah atau tidaknya. Dikarenakan harus ada pembicaraan ijab dan kabul tawar menawar secara sah.

Ada sesuatu hal jual beli yang tidak sepatutnya untuk di tawar karena dalam dunia ini kita harus punya rasa kemanusiaan. Jika saat kita melihat nenek-nenek, kakek-kakek, ataupun adik-adik yang menjual barang dagangannya dibawah terik matahari atau ditengah gelapnya malam, sempoyongan tidak laku-laku. Jika melihat tetangga yang kurang mampu menawarkan barang dagangannya, lalu kita ingin menolong mereka dengan tidak menawar harga yang mereka minta, karena rasa iba yang ada dalam hati kita, maka niatan itu adalah niatan yang terpuji. Sesuatu yang dimulai dengan niat yang baik maka akan dianugerahi oleh Allah SWT pahala berlimpah. Baru saja berniat Allah SWT. akan memberikan pahala berlipat ganda, apalagi melakukannya dengan langsung tindakan. 

Dan akan mendapatkan pahala dari Allah SWT karena setiap masing-masing amalan tergantung pada niatnya. Dan mungkin bisa dicatat sebagai sedekah karena niatan tersebut. Apalagi jika berniat untuk membahagiakan orang-orang tersebut. Membuat hati orang bahagia ditengah dia berjualan diterima panasnya matahari maka akan mendapatkan ridho dari Allah. Setidaknya dibeli, bisa saja dia sudah lama berjualan di tepi jalan tidak ada satupun yang membeli atau belum ada makan seharian. Rasa simpati itu penting kita sebagai umat manusia denga cara membeli dagangannya dan tidak menawar (maago). 

Sering kita menemui seorang pembeli yang menawar dengan merendahkan harga secara tidak wajar atau hingga memaksa dan membanding bandingkan dengan penjual lain, juga contoh pembeli yang tidak jadi membeli padahal sudah tercapai kesepakatan harga, tentu hal tersebut dapat mengecewakan penjual. Menawar yang bertujuan karena kikir atau tidak mau mengeluarkan harta lebih tidak dibenarkan dalam islam. Karena etika jual beli dalam ekonomi islam wajib diutamakan agar sama-sama untung antara penjual dan pembelinya. Dalam perdagangan, yang dicari ialah keberkahan dan relasi serta kepercayaan dari pembeli.

Terkadang ada seorang yang merasa rugi jika membeli suatu barang mahal. Maka salah satu solusinya mengikhlaskan dengan menganggap sebagai sedekah itu lebih baik. Orang yang terlalu sibuk mencari keuntungan dengan melakukan tawar menawar berlebihan dengan tujuan yang penting dirinya mendapat keuntungan harta hingga melalaikan sedekah . Hukum tawar menawar dalam islam ialah halal atau diperbolehkan dengan ketentuan tidak bertujuan untuk harta duniawi semata dan dengan kesepakatan kedua belah pihak. Hendaknya urusan tawar menawar dilakukan sesuai syariat yang telah Allah tetapkan dalam firman-Nya agar urusan tersebut berkah dan mendapat ridho-Nya.

Pengaruh atau kebiasaan tawar-menawar atau maago pada kalangan masyarakat Minang membawa pengaruh terhadap kebiasaan merantau. Misalnya seorang dari kalangan masyarakat Minang merantau ke daerah luar Minang contohnya merantau ke daerah Jawa maka saat berada di perantauan di tanah Jawa terbawa-bawa kebiasaan maago (tawar-menawar) secara drastis. Sehingga jika di daerah Jawa atau tanah Abang ada seorang yang menawar (maago) kepada penjual (nan mangaleh) maka orang pasti menerka bahwa yang membeli ialah orang Minang karena orang Minang identik dengan budaya maago (tawar menawar). Dan maago (tawar menawar) nya pun tidak main-main biasanya dua kali lipat dari harga diturunkan oleh seorang yang menawar (maago). 

Dengan adanya pengaruh dari maago (tawar menawar) tadi membuat masyarakat selalu jika ingin membeli sesuatu sering di tawar. Orang-orang bisa mengetahui jika pembeli orang Minang dikarenakan di pasar tanah abang itu kebanyakan merupakan penjual atau pedangang (nan mangaleh) dari Minang (urang minang). Pada diri saya pribadi jika ada seorang anak atau bapak-bapak, kakek-kakek, nenek-nenek. Saya merasa iba, terbayang saja keluarga saya dalam kedaaan seperti itu. Maka kita harus saling membantu sesama. Dengan sifat orang Minang paago mungkin susah di hilangkan . Menurut saya oleh menawar tapi jangan terlalu diturunkan tanamkan rasa simpati dan empati kepada sesama.

 

 

Penulis adalah: Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Minangkabau Universitas Andalas*



Artikel Rekomendasi