Oleh : Putri Nopaliza
Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau
Fakultas ilmu budaya
Universitas Andalas
Di lubuk hati ini terselip suatu kebanggan dibalik kepedihan, bahwa orang Minang hampir 45 tahun lebih maju memperjuangkan reformasi untuk mendapatkan keadilan dan pemerataan pembangunan.
PRRI adalah koreksi atas penyelewengan yang sudah menyelinap di tubuh parlemen.
PRRI bukanlah pemberontakan, PRRI bukanlah gerakan separatis.
PRRI sangat banyak memakan korban intelektual dan calon intelekrual Minang.
Bapakku pejuang PRRI hilang di penjara, kalau mati tiada kuburannya kalau hanyut tiada muaranya.
Kebesaran jiwa ibu dapat membawa kami bangkit dari kepedihan dan kesedihan ibu berhasil mendampingi kami selama 44 tahun sebagai single parents mendidik anak-anaknya sehingga semua dapat mandiri, Korban sosial budaya yang tidak terukur nilainya berupa hilangnya satu generasi intelektual Minang, hancurnya Rumah Gadang berukir yang sudah tua, dijadikan asrama tentara.
Latar Belakang
Dari dulu saya tidak pernah takut dan malu menyatakan bahwa saya ini adalah anak pejuang PRRI dari ranah Minang.
Pada saat itu pada tahun 80an memang ada orang yang malu atau takut mengakuinya, bahkan ada yang malu mangaku sebagai orang Minang, sampai ada yang menyatakan bahwa dia tidak suka makanan Padang.
Saya sendiri tidak mengerti kenapa demikian, saya heran, mungkin karena pernah terjadi pergolakan PRRI, yang dianggapnya pembrontakan, memang tidak bisa disalahkan karena mereka tidak tahu apa makna perjuangan PRRI sebenarnya.
Sesuai dengan rujukan panitia penyelenggara buku ini, PRRI adalah sebuah pergolakan fundamental yang menghasilkan sebuah kebanggaan, rasa sakit, sekaligus bahkan penghinaan bagi rakyat Minangkabau.
PRRI jika ditelaah lebih jauh, menjadi salah satu tonggak sosial yang menstimulus kemampuan bawaan rakyat Minangkabau untuk memandang dan berinteraksi dengan dunia lain di luar Alam Minangkabau.
Kisah ini membawa trauma panjang, juga kebanggaan diam-diam para generasi muda akan keberanian orang Minangkabau mengkoreksi sesuatu yang salah.
Saya berharap tulisan saya ini, mengkisahkan secuil pengalaman yang tersisa dan deritaan anak seorang camat militer PRRI bisa juga disebut sebagai anak orang kecil, semoga dapat memberikan masukan untuk penulisan buku ini.
Saya mencoba menceritakan apa yang kami rasakan dan hadapi dalam pergolakan PRRI, dan dampaknya terhadap keluarga kami.
Dengan demikian kita dapat menyampaikan pesan PRRI dengan indah dan berseni yang pada akhirnya menginspirasi pembaca, terutama anak muda Minangkabau untuk menjadi generasi yang pandai dapat melihat jauh ke depan yang memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran.
Semoga apa yang saya tulis ini menambahkan jembatan sejarah, dan menanamkan kebanggaan akan ranah Minangkabau, bernilai dan dapat memperjuangkan menyumbang kebenaran dan keadilan.
Pesta Adat
Pada tahun 1957 ada pesta adat di Sawahlunto, dimana kedua orang tuaku ikut aktif, dengan berpakaian adat kebesaran, lengkap dengan payung kuning.
iba
Pesta adat dilaksanakan dalam menyambut kedatangan Bung Hatta ke Sawahlunto pada saat memperingati hari jadi Dewan Banteng.
Pada waktu itu kami sangat senang dan bangga, rasanya banyak kemajuan yang diperolah.
Masyarakat bergembira ria, merasakan perkembangan atau kemajuan pembangunan selama Dewan Banteng ada.
Bapak saya berfoto dengan berpakaian adat, saat penyambutan Bung Hatta yang datang ke Sawahlunto.
Kami berasal dari Talawi ibu kota Kecamatan Talawi, waktu itu masuk Kabupaten Sawahlunto Sijunjung.
Bapak saya bernama Djamaluddin gelar Dt. Padoeko Labiah, penghulu suku Caniago di Sijantang Talawi.
Selain tokoh adat di negerinya Bapak saya waktu itu seorang Camat Talawi.
Ibu saya bernama Syamsiri anak Muhammad Dt. Sampanghulu, penghulu suku Patapang di Talawi.
ibu
Ibu saya kemenakan Dt. Indosati adalah penghulu pucuak di Talawi, secara otomatis menjadi Bundo Kanduang.
Pada waktu itu Bapak saya pengurus MTKAAM (Madjelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau, saya tidak tahu jabatannya.
Melihat foto Bapak yang dipayungi dalam upacara adat waktu upacara penyambutan Bung Hatta berkunjung ke Sawahlunto, mungkin saja Bapak saya sebagai ketua MTKAAM Sawahlunto Sijunjung.
Waktu itu Kecamatan Talawi adalah yang paling maju di kabupaten Sawahlunto Sijunjung.
Sebenarnya saya tidak begitu paham apa yang akan terjadi, apalagi bicara politik.
Masih terngiang-ngiang di telinga saya ada kata-kata Bapak ke ibu.
Beliau berdiskusi dan Bapak mengatakan bahwa sepertinya ada ketidak cocokan antara Bung Hatta dan Bung Karno.
Bapak saya mengatakan kepada ibu bahwa Bung Hatta telah berhenti jadi Wakil Presiden.
Kata Bapak… yah semoga nanti bila ada pemilihan umum, Bung Hatta bisa terpilih menjadi presiden…….??
Ketika itu, ibu saya sebagai isteri seorang pegawai negeri atau isteri Camat, maka beliau disebut juga seorang Bundo Kanduang.
Selain itu beliau ikut pula jadi anggota Aisyiah.
Banyak sekali kesibukannya.
Saya tahu bahwa ibu saya, sering kumpul dengan ibu-ibu di kampungnya.
Saya ingat, ibu saya meminta kepada ibu ibu lainnya, bahwa sebelum memasak nasi, beras yang akan dimasak itu diambil 2 genggam dan ditabung (disimpan terpisah) untuk bantuan.
Bila sudah terkumpul kira-kira sebuntil, ada ibu lainnya yang mengumpulkannya.
Kegiatan ini dilakukan oleh organisasi ibu-ibu yaitu yang disebut seksi G.Memang organisasi ibu-ibu ini aktif dan sangat efektif, dan ibu saya adalah ketuanya.Seperti sebelumnya saya sering menemani dan mengantar ibu saya setelah magrib dengan mengggunakan suluah (semacam obor yang terbuat dari daun kelapa tua yang disusun and diikat kuat, dibakar ujungnya sebagai penerang dijalan).
Ibu mengajak ibu-ibu lainnya, bersama saya, dan saya berteriak memanggil ibu-ibu itu.
Maklum kalau di kampuang memang harus berteriak agar terdengar, karena gelap dan juga halamannya luas-luas.
Kemudian ibu-ibu dikumpulkan dan diajak ke surau yang ada di kampung saya, yang disebut surau Gadang.
Surau di kampung saya banyak dan tiap suku ada yang punya.
Surau Gadang ini adalah surau yang menampung santri-santi dari mana saja, ada yang dari daerah lain.
Dengan menggunakan lampu minyak tanah, ibu saya mengajarkan ibu-ibu belajar membaca di surau itu.
Waktu itu di kampung saya belum masuk listrik.
APRI Datang Menyerang
Masih terbayang di benak saya, beberapa waktu setelah pengumuman dibentuknya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia, diikuti penyerangan oleh tentara Pusat ke Padang.
Nampaknya tidak mendapat perlawanan yang heroik, bahkan adanya batalyon yang datang menyambut kedatangan tentara Pusat.
Saya tidak mengerti kenapa demikian.
Kemudian tentara Pusat mulai menyerbu daerah-daerah pedalaman.
Akhirnya sampailah di daerah kami di Sawahlunto.
Semua kantor di kota Sawahlunto diduduki oleh tentara Pusat dan para pegawainya mulai mengungsi.
Begitu pula orang-orang dari kantor kabupaten yang mengungsi, mereka berdatangan ke kampung saya, tepatnya ke rumah saya.
Mereka makan dulu setelah itu, lalu berangkat lagi entah kemana.
Ibu dengan ibu-ibu seksi G sibuk memasak dan mendirikan Dapur Umum, untuk memberi makan.
Para pengungsi yang datang dari kota atau dari daerah lainnya, ada yang membawa berbagai macam peralatan kantor.
Bahkan Bupati sekeluarga juga mengungsi kerumah saya, dan mereka menginap di rumah saya.
Hanya sekitar seminggu.
Bupati tidak sanggup pindah atau mengungsi ke tempat lain, karena beliau ini sudah tua, dan juga bukan orang asli dari desa saya, keluarga mereka berasal dari Bukittinggi.
Istrinya minta maaf dan mohon izin untuk kembali ke Sawahlunto.
Setelah berunding, akhirnya mereka kembali ke Sawahlunto dengan membawa bekal yang cukup, terutama beras.
Dalam situsi yang tidak menentu ini, kami sudah tidak bersekolah lagi, sekolah pun semuanya sudah ditutup.
Saya juga tidak kembali sekolah ke SMA Batusangkar.
Situasi yang tidak jelas.
Sebelum pengumuman dibentuknya PRRI, saya bersekolah di SMA Batusangkar.
Ketika pulang berlibur, saya tidak kembali lagi.
Orang-orang banyak yang datang-pergi; Bapak saya sudah pergi mobile dengan urusan pemerintahannya.
Bapak waktu itu diangkat menjadi camat militer PRRI.
Waktu itu rahasia daerahnya ada di tangan Bapak, jadilah Bapak orang yang paling di cari-cari di desa saya oleh tentara Pusat.
Banyak rahasia ada pada beliau, akan tetapi kami tidak mengetahuinya karena beliau tidak pernah menceritakan kepada kami anak-anaknya.
Itu semua merupakan hal-hal yang bersifat dinas dan rahasia.
Semenjak Bapak pergi mobile dengan pemerintahannya, kami tidak tahu lagi di mana beliau berada.
Konon beliau selalu berpindah-pindah bersama stafnya dari satu desa ke desa lainnya.
Beliau jarang sekali pulang kerumah.
Kadang kadang Bapak pulang pada malam hari.
Pada saat Bapak pulang, kami sangat senang berjumpa dengan beliau dan mendengar cerita serta perkembangan perjuangan PRRI.
Pada awalnya kami senang sekali, karena perjuangan PRRI selalu mengalami kemajuan.
Sebagai naluri seorang ibu, setiap Bapak pulang, ibu selalu mengingatkan, karena bupati sekeluarga telah kembali ke kota Sawahlunto yang dikuasai APRI.
Sebaiknya Bapak pulang saja kerumah, dan kembali bekerja seperti biasa sebelum ada PRRI.
Usul ibu itu sangat manusiawi, karena mendengar cerita Bapak yang selalu mobil.
Tempat tinggal beliau tidak jelas, dan juga mengingat Bapak sudah tua dan tidak mempunyai anak laki-laki yang bisa membantu dan mengikuti Bapak.
ibu saya risau sekali, kalau terjadi apa-apa pada Bapak, siapa yang akan membantu.
Pertimbangan ibu juga mengingat anak-anak relative masih kecil-kecil, perempuan semua, belum ada yang mandiri.
Akan tetapi Bapak menolak dan sangat yakin dengan perjuangan PRRI, malah beliau menjawab bila terjadi apa-apa jangan risau.
Allah akan selalu melindungi, kata Bapak.
Selanjutnya kata beliau lagi, bila terjadi apa-apa, kan ada semut yang akan memakan.
Kami, anak-anakpun mendukung sikap Bapak, mengingat kami berada di kampung sendiri.
Bagaimana malunya kita kalau Bapak menyerah, apalagi Bapak seorang kepala suku Caniago, orang yang dipanuti di kampung.
Bapak pulang ke rumah dengan sangat hati-hati, agar tidak terlihat oleh orang-orang yang tidak dipercaya atau mata-mata tentara Pusat.
Mata mata ini biasa disebut sebagai tukang tunjuk.
Tukang tunjuk inilah yang melaporkan kepulangan Bapak ke rumah.
Besoknya pasti kami diteror dan ada saja tentara Pusat yang datang ke rumah menanyakan Bapak dan pada malam hari mereka menembak di sekitar rumah.
Walaupun tembakannya diarahkan ke udara, kami tentu saja sangat takut, karena mereka menembaknya mungkin di depan rumah kami.
Bunyinya sangat keras, rasanya rumah kami turut bergetar.
Setiap Malam Diteror Dengan Tembakan Senapan
Situasi di kampung yang semula terasa meriah dan menggembirakan setelah terbentuknya PRRI tidak berlangsung lama.
Tak lama kemudian terjadi penyerbuan oleh tentara pusat, dan ada pula kabar bahwa dua batalyon tentara menyambut kedatangan tentara pusat.
Perasaan optimis kemudian terganggu, situasi semakin tidak jelas, penuh kekuatiran dan kecurigaan.
Orang-orang sudah merasa tidak aman lagi jalan sendirian, bisa saja ditangkap karena dicurigai.
Kita tidak tahu lagi siapa lawan dan siapa kawan ketika itu.(*)
Mulai Hilangnya Nilai-Nilai Kesopanan Pada Kaum Milenial Minangkabau
Gubernur Al Haris Serahkan Sapi Kurban Presiden Prabowo Seberat 930 Kilogram di Jambi


