Oleh: Nisa Aulia*
Nilai kesopanan adalah nilai yang sangat penting di dalam kebudayaan Minangkabau, dimana nilai-nilai ini diwariskan dari satu generasi ke generasi seterusnya. Namun, seiring dengan perkembangan jaman nilai-nilai tersebut tampaknya sudah mulai memudar. Hal ini dapat dipengaruhi karna adanya kemajuan teknologi yang membuat anak-anak sekarang lebih sibuk bermain game di hp mereka dari pada bersosialisasi diluar. Padahal, dengan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dapat mengjarkan kita tentang bagaimana bersikap dengan orang lain.
Nilai kesopanan ini dapat kita lihat dari tutur kata dan penerapan kato nan ampek di kalangan milenial sekarang. Penerapan kato nan ampek sekarang sudah mulai memudar dikalangan milenial sekarang terutama bagi mereka yang tinggal diperkotaan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:
Keluarga
Dalam keluarga dapat kita lihat bahwa anak-anak kecil yang hanya memanggil nama kakaknya tanpa adanya sebutan kakak, atau abang. Contoh yang lainnya dapat kita lihat pada saat sedang melakukan suatu kegiatan kata “tolong” sudah mulai memudar. Hal ini menunjukkan bahwa sudah mulai memudarnya norma kesopanan di kalangan pada anak-anak dan remaja, terutama pada saat emosi maka akan terlihat sangat tidak ramah dan angkuh.
Pertemanan atau Pergaulan
Penggunaan kata kasar sudah menjadi hal yang lumrah baik hanya sekedar leluconan. Hal tersebut sudah menjadi gaya hidup dikalangan remaja saat ini.
Tak hanya penggunaan kata kasar, dalam berbusana pun sekarang kesepanan tersebut sedah mulai memudar. Hal tersebut dapat kita lihat pada zaman sekarang lebih menyukai menggunakan pakaian yang ketat dan terbuka sehingg mempertontonkan area privasi mereka. Cara berpakaian seperti ini sekarang sudah menjadi gaya hidup dan menjadi tren di kalangan remaja.
Perkembangan Teknologi
Perkembangan teknologi juga dapat menjadi faktor menghilangnya nilai-nilai kesopanan. Pertama dapat kita lihat dari tontonan remaja zaman sekarang, kebanyakan tontonan zaman sekarang lebih banyak bercerita tentang percintaan, berkelahi, dan balap-balapan. Selain tontonan gadget juga menjadi faktor dari memudarnya kesopanan terhadap remaja. Penggunaan gadget yang berlebihan pada remaja mengakibatkan mereka kurang bersosialisasi dan lebih memilih untuk mengurung diri dirumah dan bermain game atau menonton film seharian dari gadget mereka.
Ketidak sopanan remaja zaman sekarang dapat dilihat pada cara berkomunikasi dengan orang lain dimedia sosialnya. Hal ini dapat kita lihat dari status yang mereka tulis di media sosial mereka. Terkadang status yang mereka buat berisi kata-kata yang kasar, umpatan dan makian atau kata caruik yang tidak pantas untuk dibaca.
Selain itu, dapat kita lihat dari banyaknya anak-anak yang sibuk dengan game online. Pada saat bermain game online biasanya mereka banyak menggunakan kata-kata umpatan pada saat mereka bermain, dah kata-kata tersebut tak jarang juga mereka gunakaan pada saat berbicara dengan keluarganya dan tak jarang juga mereka menggunakan kata tersebut ke orang-orang lain yang berada disekitarnya. Tak jarang juga penggunaan kata yang demikian tersebut pada kalangan remaja dapat mengakibatkan terjadinya tawuran antar pelajar, membuat keributan, bahkan sampai pada pelecehan seksual dan pengrusakan.
Adanya Pengaruh Dari Budaya Luar
Selain dampak positif, budaya luar juga memiliki dampak negatif. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa aspek, seperti para remaja sekarang lebih bangga menggunakan bahasa asing dari pada bahasa Minangkabau atau bahasa ibu mereka sendiri. Padahal mereka harusnya bangga menggunakan bahasa ibu mereka sendiri, namun kenyataannya pada saat ini banyak anak yang merasa minder dengan bahasa mereka sendiri.
Selain pada penggunaan bahasa, kita juga dapat melihat bahwa remaja sekarang lebih suka menggunakan budaya barat yang memanggil orang yang lebih tua hanya menggunakan nama orang tersebut tanpa adanya embel-embel atau sebutan khusus yang biasa kita gunakan pada orang yang lebih tua dari pada kita pada umumnya. Contoh lainya yaitu pada kebudayaan barat dalam pergaulan mereka saat mereka bertemu dengan teman sudah menjadi hal yang lumrah jika mereka berpelukan bahkan berciuman, namun pada budaya kita hal tersebut sangatlah janggal dan tidak mencerminkan kesopanan dan melanggar nilai kesusilaan. Kebudayaan yang masuk tidak tersaring itulah yang membuat melunturnua nilai kesopanan dikalangan remaja rersebut.
Pada dasarnya, kesopanan tidak hanya kita perlukan didalam keluarga saja, kita juga harus menerapkan nilai-nilai kesopanan tersebut di lingkungan masyarakat ditempat kita tinggal. Sebagai orang Minang kita harus memahami apa itu kato nan ampek, sumbang duo baleh dan kieh jo kato. Dengan memahami kato nan ampek kita dapat menjaga nilai kesopanan dalam berbicara dalam sehari-hari, baik berbicara dengan orang yang lebih tua, orang yang kita segani, teman sebaya, atau pun anak-anak. Dengan demikian, jika kita dapat memahami dan menerapkan kato nan ampek ini maka kita dapat menghindari beberapa kericuhan seperti tauwuran antar pelajar atau pun pengrusakan lainnya.
Sebagai generasi muda para remaja seharusnya memahami apa itu kieh jo kato. Kieh merupakan suatu cara mengungkapkan sesuatu tapa harus berterus terang, biasanya berupa perumpamaan, sindiran maupun cemoohan. Penggunaan kieh ini biasanya menunjukkan kesopanan dalam berbicara agar lawan bicara tidak merasa direndahkan saat berbicara. Kato berarti cara penyampaian sesuatu dengan berterus terang dengan memperhatikan pemilihan kata yang digunakan. Penggunaan kieh jo kato ini selain bertujuan untuk membentuk karakter seseorang juga bertujuan agar komunikasi yang kita lakukan tersampaikan dengan baik tanpa adanya kesalah pahaman. Dengan mempelajari, memahami dan menerapkan kieh jo kato maka akan membentuk karakter dan kualitas bagi generasi muda pada saat ini.(*)
Penulis adalah: Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Negri Andalas*
Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Maarif
Gubernur Al Haris Serahkan Sapi Kurban Presiden Prabowo Seberat 930 Kilogram di Jambi


