Bung Fahmi, Aktivis Sepanjang Masa



Senin, 23 Mei 2022 - 05:48:31 WIB



Oleh Antony Z Abidin

Bung Fahmi, mantan aktivis mahasiswa. Ketua Senat Mahasiswa FEUI (1965-1966) dan Ketua Laskah Ampera Arif Rachman Hakim (1966-1968). Hari ini, Ahad (22/5) wafat.

Sebagai Ketua Laskar ARH, ia adalah pejuang menumbangkan Orla yang menghasilkan Orba; Orde Baru yang juga pada tahun 1974 ditentangnya pada peristiwa Malari.

Akibatnya, dia mendekam dalam penjara Orde Baru bersama Hariman Siregar, Rachman Toleng, Sjahrir, Judil Herry, Theo Sambuaga dan sejumlah aktivis lainnya.

Meskipun ia bergabung dengan Golkar pada tahun 1984, tetapi sikap kritisnya  sebagai aktivis tak pernah padam. Sepanjang hidupnya Bung Fahmi adalah aktivis, yang selalu bersikap kritis terhadap pemerintah — pada era mana pun.

Sikap yg tak pernah surut sebagai pendekar Ampera. Amanat penderitaan rakyat. Bang Fahmi atau di lingkungan aktivis biasa dipanggil Bung Fahmi.

Sebagaimana kita menyebut Bung Karno. Dan juga Bung Hatta, yang makamnya di Komplek Pemakaman Bung Hatta bersebelahan dengan blok pemakaman tempat Bung Fahmi dimakamkan. Hanya berjarak belasan meter.

Sebagai mantan aktivis, Bung Fahmi selalu dekat dengan aktivis mahasiswa. Pada awal berdirinya Koran UI SALEMBA, saya menemui Bung Fahmi di kantornya. Daerah Jatibaru Tanah Abang. Untuk memperoleh masukan guna pengembangan koran Kampus UI yg sudah hilang dari peredaran. Yaitu koran yg bernama Mahasiswa, dipimpin Emil Salim th 1955. Koran ini hanya terbit sekali, setelah itu tidak pernah terbit lagi.

Belajar dari pengalaman masa lalu itu, saya banyak menemui mantan  tokoh mahasiswa dan tokoh pers alumni UI.

Selain Bung Fahmi, saya menemui tokoh senior Emil Salim, Nugroho Notosutanto, Daoef Josoef, (sebelum jadi menteri P & K), PK Ojoeng dll.

Bertemu dengan Bung Fahmi memang agak beda. Meskipun tutur katanya halus, namun tegas dan kritis. Ia tetap aktivis, walaupun sudah menjadi pengusaha tergolong sukses.

Waktu pulang, Bung Fahmi memberikan sejumlah uang kepada saya. Saya menolak pemberian itu. Tampaknya dia tersinggung. “Kenapa? Ini ikhlas utk membantu kegiatan Anda yang pasti perlu dana”, katanya.

Saya bilang, jika nanti ada kegiatan yang memerlukan dana, saya akan hubungi Bang Fahmi.

Ketika saya menjabat Ketua Umum IPMI (IPMI), waktu ada kegiatan ke luar kota yang memerlukan dana, saya selalu mendatangi rumah Bung Fahmi di Tebet. Tak jarang pada larut malam karena besok pagi harus berangkat.

Dengan senyumannya yang khas, tokoh Angkatan 66 selalu membantu kegiatan IPMI.

Sesama pengurus DPP Golkar (98-2004) ada 2 peristiwa penting yang selalu mengingatkan saya dgn Bung Fahmi.

Pertama, pada pagi hari 20 Oktober 1999, menjelang pemilihan Presiden RI oleh MPR.

Pada saat itu, DPP Golkar telah menetapkan Akbar Tandjung menjadi calon presiden. Namun beberapa pihak internal dan eksternal mencoba merintangi.

Sejak pagi, senior Golkar bergiliran datang ke Ruangan Ketua DPR-RI yg saat itu dijabat Ketua DPP Golkar itu. Antara lain, Baramuli, Ginanjar serta Fahmi Idris. Satu persatu datang menyatakan dukungannya dan memberi semangat.

Bung Fahmi, agak istimewa. Maklum mantan Komandan Laskar Ampera ARH.

Dia mengatakan dengan suara tegas: “Saya mendukung penuh saudara Akbar Tandjung (AT) utk maju

menjadi calon Presiden mewakili Partai Golkar. Jika ada pihak-pihak  yang mengganggu atau merintangi, akan berhadapan dengan saya,” katanya sembari mengeluarkan pistol.

AT agak terkejut. Namun sebagai teman lama dia tentu sangat paham karakter Bung Fahmi. AT tersenyum kemudian merangkul Bung Fahmi.

Bersambung, setelah usai acara pemakaman tulisan ini dilanjutkan

 




Artikel Rekomendasi