Menanti Kurikulum Baru 2022



Minggu, 12 Desember 2021 - 17:42:13 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim akan meluncurkan beberapa program baru di tahun 2022, antara lain PPPK Guru dan pergantian kurikulum. Kurikulum Paradigma Baru 2022 atau kurikulum prototipe 2022 sebagai penyempurna dari kurikulum KTSP.

Nadiem memaparkan bahwa dengan kurikulum itu, guru lebih bisa mengerti, beradaptasi, dan fleksibel, karena sesuai kemampuan muridnya. Kurikulum ini juga memberikan kesempatan bagi guru berkreasi dan berinovasi. Sehingga, proses pembelajarannya lebih mudah (Kemdikbud). 

Memang kurikulum harus selalu diubah yang diniatkan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman bukan dalam konteks ‘ganti menteri, ganti kurikulum. Tapi yang paling penting, bagaimana konten kurikulum dipahami secara gamblang oleh para stakeholder pendidikan. Harus disambut dengan antusian perubahan Kurikulum 2013 ke Kurikulum 2022 atau Kurikulum Paradigma Baru atau disebut Kurikulum Prototipe.

Sekali lagi, pemerintah berargumen bahwa kalau ada ‘masalah’ dalam pendidikan Indonesia, maka cara terbaik untuk mengatasi masalah itu adalah dengan mengubah kurikulum dan dengan memaparkan kelemahan-kelemahan kurikulum yang berlaku pada saat itu.

Sebanarnya, kurikulum itu ibarat ‘sebuah pesan’ dari seseorang (baca-pemerintah) yang mesti disampaikan kepada siswa melalui guru. Pemerintah ‘menugaskan’ guru untuk menyampaikan ‘pesan penting’ ini kepada siswa dengan menggunakan pendekatan, strategi, metode, tehnik, taktik tertentu. Ternyata pesan itu (baca-kurikulum) tidak sampai seutuhnya kepada siswa. Dalam hal ini siswa tidak bisa menangkap pesan yang sampaikan oleh ‘tuan guru’. 

Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah kalau pesan itu tidak sampai maksimal ke siswa dalam konteks ini: pesannya yang harus diubah atau cara penyampaikan guru yang harus diubah? 

Memang ada opsi lain yang bisa diambil, selain mengubah kurikulum, misalnya dengan ‘mengubah’ cara pembinaan guru selama ini. Bisa dihipotesa bahwa pelatihan guru selama ini lebih banyak ‘berbicara’ tentang kurilulum, bagi guru yang paling penting adalah bagaimana mengimplentasikan kurikulum sesuai konteks sekolah atau madrasah. Artinya, pembicaraan yang berkembang selama ini adalah apa yang narasumber ‘tahu’ bukan apa yang guru ‘mau. 

Jadi, apapun pesan (baca-kurikulum), kalau ‘tukang’ menyampaikan tidak bisa mengkomunikasikan pesan-pesan kurikulum itu dengan baik, bisa dipastikan kurikulum itu tidak akan memberikan kontribusi yang signifikan kepada siswa.

Menurut kemdikbud, Kurikulum prototipe diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024 dengan karakteristik utama: 1) pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter 2) fokus pada materi esensial untuk mendalami kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi 3) fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

Perubahan kurikulum ini berdasarkan hasil riset menunjukkan bahwa pandemi menimbulkan kehilangan pembelajaran (learning loss) literasi dan numerasi yang signifikan. Untuk mitigasi learning loss tersebut, sekolah diberi opsi untuk menggunakan kurikulum prototipe yang disederhanakan agar dapat berfokus pada penguatan karakter dan kompetensi mendasar. (Kemdikbud)

Kemudian, ada temuan yang menyatakan bahwa siswa pengguna Kurikulum Darurat mendapat capaian belajar yang lebih baik daripada pengguna Kurikulum 2013 secara penuh. Dalam kurikulum darurat, siswa belajar lebih sedikit Kompetensi Dasar. Jadi, lebih banyak waktu bagi siswa untuk belajar satu topik materi.

Oleh karena itu, apapun nama kurikulumnya: 1) siswa hanya butuh model pendekatan dan model belajar yang berbeda, karena memang mereka itu berbeda beda; 2) pembelajaran didisain mengajak siswa berpikir kritis, belajar mandiri dan berkemampuan menyelesaikan masalah; 3) menyiapkan siswa bahwa guru bukan lagi satu- satunya sumber belajar, tapi tanpa mengabaikan peran guru; 4) jangan terlalu menekankan segi kognitif; 5) merekaya pembelajaran ‘anti-bosan’. Ada indikasi siswa itu gembira jika gurunya tidak datang, guru rapat, dll. Ini menunjukkan pembelajaran masih memberatkan siswa (diolah dari berbagai sumber)

Kalau memang profil Kurikulum Prototipe untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila (PPP) menjadi acuan dalam pengembangan Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian, atau Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran (CP), Prinsip Pembelajaran, dan Asesmen Pembelajaran, maka pemberdayaan guru mutlak dilakukan karena memang gurulah pelaksana utama kurikulum itu.

Kalau memang kurikulum ini juga memberi keleluasaan bagi sekolah/madrasah untuk mengembangkan program kerja tambahan yang dapat mengembangkan kompetensi siswanya yang disesuaikan dengan visi misi dan sumber daya yang tersedia di sekolah tersebut, maka sekolah/madrasah harus ‘lihai’ dalam menyusun program yang relevan dengan kondisi siswa dan masyarakat.

Kalau memang’, kurikulum ini tidak menetapkan jumlah jam pelajaran perminggu seperti yang selama ini berlaku pada KTSP 2013, akan tetapi jumlah jam pelajaran pada Kurikulum ini ditetapkan pertahun, maka jangan heran bila sekolah/madrasah memiliki KTSP yang berbeda, belajar dengan cara yang berbeda. 

Yang paling pertama dilakukan bila ada kurikulum baru adalah: (1) pastikan guru memahami kurikulum secara utuh, dan diminta menulis RTL (Rencana Tidak Lanjut) secara ilmiah dalam mengimplementasikan kurikulum, bukan hanya sekedar pelatihan ‘mendengar ceramah’; (2) lakukan penilaian pembelajaran berbasis kinerja siswa bukan guru, karena siswa adalah prototipe kinerja guru; (3) cara komunikasi guru perlu dibenahi, komunikasi yang humanis dan santun yang menggembirakan siswa dalam belajar.

Peran guru dalam pendidikan sangat menentukan. Guru tidak sekedar dituntut memiliki kemampuan mentransformasikan pengetahuan dan pengalamannya, tetapi harus mampu menginspirasi siswanya agar dapat mengembangkan potensi diri dan memiliki akhlak yang baik.

Akhirnya tumbuh guru yang berdedikasi, siswa yang termotivasi yang ditemani oleh orang tua yang antusias yang akan mewujudkan pembelajaran yang sebenarnya. Aamiin!

 

 

 

Penulis adalah: Pendidik di Madrasah*



Artikel Rekomendasi