Diplomasi Pertukaran Nama Tokoh Bangsa



Jumat, 10 Desember 2021 - 16:44:39 WIB



Oleh: Nurjannah Siahaan, S.S*

 

 

Tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk, menjadi sosok yang namanya diusulkan untuk dijadikan nama jalan di DKI. Ia adalah sosok kontroversi dari berbagai kalangan.

Pengusulan pergantian nama jalan tersebut disampaikan langsung oleh duta besar Indonesia untuk Turki, Muhammad Iqbal, dan akan diresmikan langsung oleh Presiden Turki tahun depan. (detik.com, 15/10/2021)

Mustafa Kemal adalah tokoh sekularisme di Turki. Namanya dijadikan sebagai nama jalan di Jakarta. Penamaan jalan tersebut untuk menguatkan hubungan bilateral dan kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Turki.

Pertukaran nama tokoh ini menjadi polemik. Ketika Turki mengabulkan Pemerintah Indonesia menjadikan nama Sukarno sebagai nama jalan di Turki, maka Indonesia akan melakukan hal yang sama yaitu menjadikan Mustafa Kemal sebagai nama jalan di Jakarta. Hubungan kedua negara tersebut menjadi salah satu simbolis pada timbal balik penamaan jalan di ibu kota kedua negara.

Berbagai kalangan masyarakat menolak rencana pemerintah mengabadikan Ataturk menjadi nama salah satu jalan di Jakarta. Alasannya, setiap kebijakan yang diterapkan oleh Pemimpin Turki ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ia menerapkan kebijakan sekularisme dalam sistem pemerintahannya. Paham agama tidak boleh dimasukkan ke dalam urusan politik, negara atau institusi publik lainnya. 

Padahal islam adalah agama yang menyeru kepada manusia untuk mengambil seluruh sistem kehidupannya secara sempurna. Sebagaimana yang tercantum di dalam surat Al-Baqarah ayat 208: Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu". 

Seharusnya pemerintah mencari solusi yang terbaik untuk hubungan kedua negara ini. Yaitu dengan mengusulkan nama jalan tersebut dengan nama tokoh-tokoh muslim. Agar hubungan bilateral ini dapat berjalan dengan baik dan tidak mengundang keresahan di kalangan umat Islam. 

Dalam hal ini butuh kesadaran dan penyadaran yang bersumber dari akidah Islam. Inilah pentingnya ideologi Islam yang dapat menjadi bekal menentang segala bentuk ide sekuler, tak terkecuali sistem pemerintahannya.

Nama tokoh sekuler ini tidak seharusnya menjadi jalan untuk melakukan hubungan diplomatik. Karakternya yang sangat di benci oleh kaum Muslim menuai kecaman. Selayaknya pemerintah menjadikan nama tokoh muslim sebagai nama jalan di Jakarta.

Hal ini jauh berbeda dalam Daulah Islam. Dalam islam, sekularisme tidak dapat diterima karena bertentangan dengan Islam. Menurut pandangan Islam apabila sebuah urusan dipisahkan dari nilai nilai keagamaan maka urusan itu akan bertabrakan dengan nilai-nilai yang terdapat pada urusan yang lain. 

Maka kerjasama dan hubungan diplomatik akan menciptakan harmoni antar penduduk dunia. Agar semua orang dari berbagai budaya dan keyakinan dapat hidup damai.(*)



Artikel Rekomendasi