Oleh : Maretika Handrayani, S.P*
Kurun waktu hampir dua tahun rantai penularan Covid ternyata belum juga usai. Dengan terdeteksinya varian Omicron di Afrika Selatan dan di beberapa negara lainnya hingga penetapan Omicron sebagai Varian of Concerns atau VoC oleh WHO bahkan disebut Varian B.1.1.529 tersebut memiliki banyak strain atau mutasi, bahkan melebih varian lain yakni Alpha, Beta, dan Delta. (CNBCindonesia.com/28/11/2021).
Di sisi lain rakyat harus menanggung beban ganda. Beratnya pemenuhan kebutuhan ekonomi sehari-hari hingga setoran pajak, rakyat juga dibayang-bayangi dengan mahalnya alat deteksi Covid dan fasilitas kesehatan yang layak. Mimpi buruk berupa kemiskinan hingga kematian telah menjadi realita dalam tahun-tahun terakhir. Bahkan sebelum Covid ada, problem ekonomi, akses kesehatan dan sederet problematika lainnya telah membelenggu rakyat dan tak kunjung berakhir.
Beragamnya varian covid yang semakin sulit dikendalikan menunjukkan bahwa dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) gagal dalam menghentikan potensi penularan. Kegagalan rezim global dan perangkat pemerintah sistem demokrasi dalam menyelesaikan pandemi sejak awal munculnya pandemi harus jujur diakui.
Kesalahan fatal saat pertama kali negara menjadikan ekonomi sebagai pertimbangan dominan dalam mensikapi wabah. Sungguh format sistem bernegara hari ini terbukti tak cakap menyelesaikan wabah. Rakyat tidak membutuhkan narasi-narasi pembelaan deffensif untuk menutupi potret buruknya wabah, tapi yang dibutuhkan adalah solusi riil penyelesaian wabah dan terpenuhinya hajat hidup mereka.
Menyelesaikan pandemi dan sederet problematika yang menimpa umat hari ini membutuhkan perubahan sistemis dan mendasar yang harus dimulai dengan perubahan sistem politik kapitalisme ke sistem politik Islam yang berbasis kesadaran ideologis umat.
Penerapan syari’at Islam yang telah terbukti mampu memuliakan manusia baik muslim maupun non muslim yang hidup dalam naungan Khilafah. Sejarah membuktikan selama 13 abad lamanya sistem Islam menaungi dua per tiga belahan dunia dan menjadi satu-satunya sistem kehidupan dan bernegara yang berhasil memberikan kesejahteraan, dan menyelesaikan persoalan wabah dengan baik dan tepat.
Di dalam Islam, kehidupan manusia sungguh sangat bernilai. Menyelamatkan satu orang sama besarnya dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman:“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” [QS. Al-Maidah: 32]
Sistem Islam untuk menghentikan wabah menerapkan strategi jitu dengan Isolasi wilayah yang terkena wabah/pandemi, Juga dengan 3T (trace, test, and treat/lacak, uji dan obat). Islam menetapkan bahwa negara wajib menjamin kebutuhan hidup warga negara mencakup pangan, sandang, papan, jaminan kesehatan dan keamanan sehingga kemiskinan dan kelaparan dapat diselesaikan.
Sebagaimana saat wabah hadir di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan untuk mengisolasi wilayah terdampak dan orang-orang yang tertular wabah. Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikianlah pengaturan Islam bahwa kepala negara atau pemerintah memiliki tanggungjawab yang besar dalam melindungi rakyatnya. Ia akan tulus menjalani peran kepemimpinannya melayani rakyat, bukan menjadi pedagang yang menjadikan standar untung rugi atas rakyatnya layaknya di dalam negara sekuler kapitalis. Kelesuan ekonomi yang dialami pelaku ekonomi raksasa atau kapitalis tidak menjadi pendorong kuat hingga memberlakukan new normal dengan risiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas.
Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Imam adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sudah saatnya umat menyadari bahwa pangkal kesengsaraan atas persoalan pandemi yang tak kunjung terselesaikan adalah konsekuensi dari penerapan sistem demokrasi kapitalisme. Aqidah Islam menuntut setiap umat untuk tunduk dan menerapkan syari’at Islam yang lahir dari aqidah yang shahih ini. Tidak ada sistem yang lebih tepat untuk umat manusia daripada sistem Islam yang direpresentasikan dalam daulah al-Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian, yang akan mendatangkan keberkahan di dunia dan akhirat.
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (TQS Al A’raf : 96).(*)
Mafia Tanah: Buruknya Birokrasi Hingga Bobroknya Penyelenggara Negara
Berdirinya Komunitas Peduli Tani Sebagai Media Katalisator Peningkatan Minat Bertani Generasi Muda
TIM PPM-DLT UNJA: Pelatihan 3 Hari Pengembangan Media Tanam “Baglog” Jamur Tiram Berbasis Sumberdaya


Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Kembali Ditahan di Rutan Jambi


