Oleh: Dr. Ir. Ardi Novra, MP., Ir. H. Wiwaha Anassundjaya, MSc., PhD dan Ir. Indra Sulaksana, MSi*
Menjaga kemandirian input dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya limbah lokal merupakan prasyarat utama dalam menjaga keberlanjutan nilai manfaat suatu program pemberdayaan masyarakat desa. Upaya untuk meminimalisir ketergantungan sektor usaha perdesaan dari input eksternal (komersial) diyakini tidak hanya mampu mendorong kemandirian ekonomi tetapi juga akan meningkatkan daya saing karena sumber-sumber efisiensi usaha akan dapat diwujudkan. Hal ini didukung dengan berbagai upaya inovatif untuk menggali berbagai potensi limbah organik sebagai input berharga murah dan mudah diperoleh atau tersedia dilokasi kegiatan. Pertimbangan ini menjadi dasar utama memilih topik kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Desa Laboratorium Terpadu (PPM-DLT) Universitas Jambi dengan judul “Pemanfaatan Limbah Tanaman dan Industri Kelapa Sawit untuk Media Tumbuh (Baglog) Jamur” di Desa Dataran Kempas Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.
Menurut Ketua Pelaksana kegiatan Dr. Ir. Ardi Novra, MP pengembangan program PPM pada salah satu DLT Unja ini diharapkan mampu menjadi salah satu pilihan ekonomi alternatif bagi masyarakat desa yang sedang menghadapi program peremajaan sawit rakyat (PSR). Sebagaimana diketahui bahwa program PSR akan menyebabkan produksi TBS rumah tangga perkebunan akan terhenti selama beberapa tahun (3 - 5 tahun) atau yang biasa kita sebut dengan Temporary Loss Income. Hasil penelitian kami tentang dampak program PSR pada tiga kawasan sentra perkebunan kelapa sawit rakyat termasuk Desa Dataran Kempas ini menunjukkan bahwa program PSR akan menyebabkan kehilangan pendapatan rumah tangga sebesar 48,61%, sedangkan pada tingkat makroekonomi makro tingkat kehilangan mencapai 28,36% khusus pada sektor pertanian dan 18,30% terhadap ekonomi desa secara keseluruhan.
Kegiatan pelatihan penyusunan media tanam “baglog” jamur tiram berbasis limbah lokal potensial ini merupakan kelanjutan dari program PPM tahun sebelumnya tentang pemanfaatan lingkungan iklim mikro untuk budidaya jamur. Pasca pengadaan alat sterilisasi “steam” dengan kapasitas mencapai 300 baglog beserta pondok sterilsasi maka selama 3 hari (tanggal 24 - 26 November 2021) diadakan kegiatan pelatihan di areal usaha kelompok tani Karya Trans Mandiri. Kegiatan pelatihan atau lebih tepat disebut dengan demonstrasi karena langsung dilakukan praktek penyusunan dan pembuatan baglog mendatangkan narasumber Bapak Tukidi, SP., MSi dan isteri yang merupakan pengusaha Jamur Tiram dan Produk Olahannya di Kelurahan Malapari Kecamatan Muaro Bulian Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Pemilihan mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) dua periode ini sebagai narasumber tidak hanya terkait dengan aspek teknis tetapi juga dari aspek sosiologis untuk memotivasi masyarakat. Permintaan khusus dari tim pelaksana kepada kedua narasumber untuk menceritakan tentang proses perkembangan usaha dan pengalaman pribadi mereka yang secara mandiri untuk mendapatkan pengetahuan lengkap tentang budidaya jamur tiram. Pengalaman upaya mereka untuk mengetahui kiat-kiat khusus pelaku usaha jamur tiram dengan “menyamar” sebagai tenaga kerja (buruh) pada salah satu usaha jamur tiram yang sukses di Malang Provinsi Jawa Timur selama lebih dari satu bulan.
Pengalaman personal untuk mendapatkan segala sesuatu pengetahuan tentang usaha jamur tiram yang disampaikan pada saat koordinasi dan persiapan (hari pertama) ternyata cukup efektif memotivasi para peserta yang berasal dari berbagai kelompok masyarakat (kelompok millenial yang tergabung dalam Taruna Tani “Lentera Kehidupan”, bapak-bapak anggota Poktan KTM dan ibu-ibu anggota KWT serta mahasiswa peserta program Merdeka Belajar Kampus Merdeka Kemitraan Pasokan Rimpang Organik (MBKM-KPRO). Pada hari kedua rangkaian kegiatan pelatihan jumlah peserta semakin meningkat dengan rangkaian kegiatan praktek langsung pencampuran dan pengadukan bahan baku utama (tankos dan serbuk gergaji), pengisian dan pengemasan plastik media tumbuh jamur (baglog), pengangkutan dan penempatan baglog kedalam alat sterilisasi (steam) jamur, dan diakhiri dengan perebusan (sterilisasi). Baglog hasil sterilisasi ini digunakan untuk pelatihan hari ketiga yang mencakup kegiatan penanaman atau inokulasi baglog pada ruangan khusus yang sudah disterilisasi dengan alkohol. Baglog ini selanjutnya disusun pada rak-rak yang terdapat pada kumbung jamur yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Demikianlah, rangkaian kegiatan pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dengan harapan peserta pelatihan dapat memperbanyak produksi baglog secara mandiri. Kapasitas rumah “kumbung” jamur yang ada diperkirakan mampu menampung 7.000 baglog dan dengan dukungan teknologi Internet of Think (IoT) akan dikembangkan Smart Farming melalui riset unggulan dan inovasi pascasarjana Unja.(*)
Menanti Komisaris Independen Profesional dan Bebas Intervensi di Bank 9 Jambi
Semerawut angkutan Batu bara, Menagih Prioritas Gubernur Untuk Rakyat


Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Kembali Ditahan di Rutan Jambi


