Oleh: Ramdan Aris Syaputra*
Ritual mandi shafar adalah suatu upaya spiritual ke arah pendekatan diri kepada Allah yang dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim di beberapa wilayah di Indonesia, di antaranya di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Kepulauan Riau, Maluku, Kalimantan, termasuk di salah satu wilayah di daerah Jambi tepatnya di Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Ritual rutin yang diselenggarakan setiap bulan Shafar tersebut dihadiri dan diikuti oleh ratusan, bahkan ribuan warga masyarakat baik laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun orang muda yang datang dari desa-desa sekitar maupun dari daerah lainnya. Di antara masyarakat pelaku ritual ini, meskipun antara satu tempat dengan tempat yang lain mungkin ada beberapa perbedaan dalam proses pelaksanaannya, mereka percaya bahwa ritual Mandi Shafar dapat mencegah atau bahkan menghilangkan segala macam kesialan, wabah penyakit menular, bencana atau musibah yang akan atau telah datang, khususnya pada bulan Shafar. Hal ini tentunya dimotivasi oleh sebuah kepercayaan dikalangan masyarakat luas bahwa Allah akan menurunkan dua belas ribu macam ujian atau cobaan kepada umat manusia pada bulan Shafar, tepatnya pada hari Rabu minggu terakhir bulan Shafar.
Terkait dengan eksistensi ritual mandi shafar ini tentu menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat itu sendiri. Di satu sisi ada yang menganggapnya sebagai tindakan bid'ah yang tidak boleh dilakukan karena bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang adanya takhayul dan khurafal serta mengandung unsur syirik, sedangkan di satu sisi lainnya ada yang berpendapat bahwa ritual mandi shafar hanyalah sekedar tradisi leluhur yang bernafaskan Islam yang perlu dipelihara kelestariannya, tentunya dengan mengedepankan modifikasi-modifikasi Islami dan membuang unsur-unsur mistisisme.
Terlepas dari pro dan kontra tersebut di atas, ritual Mandi Shafar masih tetap eksis diselenggarakan oleh masyarakat Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Tirnur. Bahkan, yang cukup menarik untuk diperhatikan bahwa ritual tersebut dimotori oleh salah seorang kyai bernama KH. M. As'ad Arsyad, pengasuh pondok pesantren Wali Peetu sebuah pesantren yang cukup populer di wilayah tersebut. Bahkan, pemerintah daerah setempat telah menetapkan bahwa ritual Mandi Shafar adalah salah satu objek wisata tahunan yang diharapkan dapat menarik wisatawan domestik maupun manca negara. Bertolak dari alasan-alasan itu, pelaksanaan ritual Mandi Shafar di Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur tentu merupakan fenomena sosial keagamaan dan budaya yang cukup menarik dan unik. Di satu sisi dianggap mendatangkan manfaat bagi sebagian pihak, namun di sisi lain memunculkan pergesekan internal umat Islam antara yang pro dan yang kontra, khususnya masyarakat sekitar.(*)
Penulis adalah: Mahasiswa PBSI UNJA*
Implementasi Nilai - Nilai Sumpah Pemuda di Era Pandemi Covid - 19
Maulana di Harla Pancasila: Implementasi Kampung Bahagia Wujud Semangat Nilai-Nilai Pancasila



