Latihan Militer Bersama Ditengah Wabah Yang Kian Menggila, Mendesakkah?



Kamis, 05 Agustus 2021 - 16:31:57 WIB



Oleh: Farah Sari, A.Md

 

Sangat mengusik nalar waras. Bagaimana tidak, mengadakan sebuah latihan militer terbesar bersama Amerika Serikat (AS) disepanjang sejarah. Ditengah wabah covid 19 yang kian menggila mampu dilakukan. Sebegitu mendesakkah kebutuhan latihan militer besama tersebut? Jika dibandingkan dengan menyelamatkan nyawa rakyat yang dikejar bayangan kematian karena covid 19 dan matinya perekonomian. Lalu bagaimana posisi militer dalam pandangan islam? Apakah tindakan yang benar jika menggelar latihan militer bersama negara asing (AS)?

Dikutip dari laman Detiknews.com (24/7/21) Sebanyak 330 tentara AS dilaporkan tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada Sabtu (24/7/2021). Mereka akan mengikuti latihan bersama TNI AD pada 1-14 Agustus 2021 di tiga daerah latihan tempur Baturaja, Amborawang, dan Makalisung. Latihan ini disebut menjadi latihan terbesar dalam sejarah kerja sama antara TNI AD dengan tentara AS. Latihan ini akan diikuti oleh 2.246 personel TNI AD dan 2.282 personel tentara AD AS dengan materi latihan Staff Exercise, Field Training Exercise, Live Fire Exercise, Medical Exercise, dan Aviation "Tujuan dari latihan bersama ini adalah untuk meningkatkan kerja sama dan kemampuan prajurit TNI AD dengan AD Amerika Serikat dalam pelaksanaan tugas operasi" jelas Kepala Dinas Penerangan, Brigjen TNI Tatang Subarna, dalam keterangannya.

Ditengah kondisi yang sulit saat ini, rakyat semakin butuh perhatian dan bantuan dari penguasa. Jika bukan pada mereka, lalu kepada siapa rakyat akan menggantungkan asa agar selamat dari wabah. Dan dijamin terpenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Tapi apalah daya, latihan militer bersama negara asing lebih utama bagi penguasa dari pada fokus bersegera menyudahi wabah. Jika dana latihan militer dialihkan untuk penanganan covid 19 tentu ada banyak hal yang bisa dibeli dan dilakukan sebagai upaya mengakhiri wabah.

Militer dalam Pandangan Islam

Dalam Islam, militer adalah institusi pertahanan dan ketahanan yang penting. Fungsi militer untuk membela dan meninggikan kalimatullah. Artinya agar ajaran-ajaran Islam yang tinggi dan mulia dapat terpelihara, jangan sampai dirusak dan dihalangi oleh golongan-golongan perusak yang hendak mencederai (memfitnah) ajaran-ajaran Islam yang suci. (Fikih Menurut Mazhab Syafi’i, Bab Peperangan (jihad), hal.418).

Negara wajib serius mempersiapkan kekuatan pasukannya secara maksimal agar mampu menggentarkan dan mengalahkan musuh. Sebagaimana firman Allah Swt yang artinya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al Anfal:60).

Dalam tafsir al Muyassar, ditafsirkan: Dan persiapkanlah (wahai kaum muslimin), untuk menghadapi musuh-musuh kalian, semua yang dapat kalian perbuat dalam jumlah dan perlengkapan militer, supaya kalian bisa memasukkan dengan itu rasa ketakutan di hati musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian yang senantiasa menunggu-nunggu kesempatan menghabisi kalian, dan juga kalian dapat menakut-nakuti orang-orang lain yang belum menampakkan api permusuhan kepada kalian sekarang. Tampak jelas, bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita, bahwa, kekuatan yang harus dipersiapkan sampai taraf menggentarkan musuh.

Dilihat dari aspek hukum syara dan politik maka, menggelar latihan bersama bukan tindakan yang tepat. Pertama, bertentangan dengan syariat. Dalam QS Al anfal 60 di atas Allah Swt telah memerintahkan kita secara mandiri membangun militer yang kuat dan tangguh. Sampai menggentarkan musuh. Tidak bergantung pada negara lain. Ataupun menjadikan mereka sebagai standar kekutan. Apalagi bergantung pada negara kafir penjajah yang nyata memusuhi kaum muslim.

 

Seharusnya kemandirian militer ini dipayakan sungguh-sungguh oleh pemimpin negeri muslim. Mencari akar masalah kenapa militer belum maju seperti negara adidaya (AS)? Bahkan seharusnya melampaui kemajuan mereka. Apa yang harus dilakukan untuk memajukan militer dalam negeri? Tentu saja ini akan bisa dilakukan jika negara punya paradigma dan gambaran yang utuh tentang penerapan islam secara total. Militer yang kuat ditopang oleh industri dalam negeri yang berbasis militer. Termasuk pengadaan alutsista (peralatan tempur/militer). Semua harus dibangun secara mandiri.

Kedua, menggelar latihan bersama juga berpengaruh pada aspek politik. Allah Swt melarang kerjasama apapun dengan negara kafir penjajah. Negara yang secara nyata memsuhi kaum muslim. Sungguh bahaya besar saat menggantungkan harapan pada negara kafir penjajah apalagi berhubungan dengan militer. Mereka akan mudah mengendalikan, mengintervensi dan mendikte kebijakan yang akan diterapkan oleh penguasa. Jika seperti ini, sulit kebijakan tersebut akan berpihak pada kesejahteraan rakyat. Karena kepentingan negara kafir akan ada di atas kepentingan rakyat.

Departemen Perang (Pasukan) Dalam Islam

Departemen perang merupakan salah satu instansi dalam negara islam. Kepalanya disebut Amir Al-Jihad. Departemen peperangan menangani semua urusan yang berhubungan dengan angkatan bersenjata seperti pasukan, logistik, persenjataan, peralatan, amunisi, menangani akademi-akademi militer, misi-misi militer, serta pemikiran islam dan pengetahuan umum apa saja yang menjadi keharusan bagi tentara, serta menangani berbagai hal yang berhubungan dengan peperangan dan persiapannya. Termasuk menyebarkan intel untuk memata-matai kafir harbi. Peperangan memerlukan adanya senjata, sementara pasukan memerlukan persiapan. Semua disiapkan optimal sesuai tntnan syariat islam.

Pembentukan pasukan memerlukan penyiapan dan pelatihan baik fisik maupun teknik. Yang mencakup teknik perang dengan menggunakan berbagai persenjataan. Pelatihan ini akan terus berkembang seiring dengan perkembangan persenjataan. Karena itu kajian engineering dan kemiliteran adalah suatu keharusan. 

Inilah bukti kesempurnaan ajaran islam. Islam telah menetapkan dan mendorong agar terbentuk kemandirian militer. Bukan malah bergantung dan bekerja sama dengan negara asing kafir penjajah (kafir harbi) yang jelas telah memusuhi islam dan kaum muslim. Semua ini hanya akan bisa dilakukan jika islam diterapkan secara totalitas dan sebuah institsi negara.(*)

 

Penulis adalah: Aktivis Dakwah Islam*



Artikel Rekomendasi