Hoax = Sampah Beracun?



Senin, 21 Juni 2021 - 08:29:03 WIB



Oleh Antony Z Abidin


Baca hoax, sama dg baca atau mengkonsum sampah.

Ditulis dan disebarkan oleh orang2 yg berniat/berpikiran jorok. Apalagi jika hoax itu menjadi industri, ada pabriknya.

Ada pemodalnya, ada juga buruh pabrik hoax. Dan jelas ada yg untung.

Tapi publik dirugikan karena tercemar info menyesatkan.

Jika seseorang membiarkan rongga otaknya diisi info dan pikiran sesat, maka rongga otaknya akan manjadi tong sampah. Tanpa kecuali. Bisa saja dia berpendidikan tinggi, bahkan profesor sekalipun.

Dalam pandemi cobid19 ini, menjauhi hoax mestinya bagian
penting protokol kesehatan.

Ada orang yg senang dg suatu hoax tanpa mikir atau check and recheck ikut menyebarkannya. Ikut memasarkannya. Itulah yg diinginkan pabrik hoax. Produsen hoax senang karena untung.

Lantas dia dapat apa? Ga dapat apa2. Keranjang sampah ga dapat apa2. Kecuali dapat baunya aja.

Kalau dia cepat nyadar, dia segera membuang hoax atau menjauhi kehidupannya dari hoax.

Bodoh sekali jika kita ikut membacanya, mengkonsumsinya.
Lebih bodoh lagi orang yg memfoward, ikut menshare tanpa mikir.

Hoax jelas merusak kepribadian. Berita bohong yg terus menerus beredar di media sosial, merusak masyarakat.

Di masyarakat timbul ketidak jelasan norma. Ga jelas lagi mana yg fakta dan opini, yg media profesional itu adalah modal utk ktedibel. Layak dipercaya.

Produsen hoax ga peduli soal kredibelitas . Karena dia memang pabrik kebohongan yg bahkan juga memfitnah.

Dia ga peduli bahwa fitnah itu sangat kejam. Lebih kejam dari pembunuhan.

Dia juga masa bodoh bahwa masyarakat akan terbelah. Dia mungkin tdk peduli bahwa bangsa akan bisa hancur. Karena konten hoax banyak mengandung unsur devide et impera. Pecah belah. Gampang diasut, lemah dan mudah dijajah secara ekonomi dan politik. Tidak berdaulat, dikuras habis SDA-nya, tidak
mandiri pangan di bumi yg subur. Jadi kuli di negeti semdiri. Jadi kuli kasar dan babu di negara orang lain.

Mungkin ada juga yg ga peduli itu, tetap terus senang dg hoax.

Seperti pengisap ganja yg bau sampah. Sekalipun bau dan racun dia nenikmatinya.

Hoax sulit dilarang,
mustahil diberangus. Kayak narkoba, makin dilarang makin menjadi-jadi. Hanya orang2 pintar yg ga mengkonsumsi hoax.

Makin banyak orang pintar, seperti Soekarno, Hatta, Natsir, Tan Malaka, Syahrir, Achmad Dahlan, Sortomo, Ki Hajar Dewantoro, Tjokroaminoto, Wachid Hasyim dll era penjajahan, semakin berpeluang bangsa ini bebas dari penjajahan hoax.

Karena itu, silahkan ber-hoax ria. Mungkin ada juga makhluk yg happy menjadikan otaknya tong sampah. Dia pada dasarnya merugi. Tapi Bung Karno mungkin akan menangis di liang kuburnya melihat bangsanya sudah menjadi kuli.

Produsenlah yg untung. RI akan hancur. Seperti Uni Soviet!

Bissaa...!!





Artikel Rekomendasi