Jambi Negeri Tua Para Cendikia



Senin, 31 Mei 2021 - 07:08:17 WIB



Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali*

Keingintahuan manusia akan asal usulnya telah membawanya pada pencarian hingga ke ujung jagad raya, dan itu dimulai sejak manusia bertanya-tanya “siapa, dan bagaimana kita dahulu”. Apakah anda salah satunya, yang juga bertanya seperti apa Jambi seribu tahun lalu?

Rentetan panjang penelitian perlahan megungkap tabir misteri peradaban Jambi yang mendunia. Kemahsyurannya menembus batas-batas cakrawala, buah bibir pelaut di tujuh samudera, bahkan namanya di-eja beragam bahasa. Travelougue Asia Timur menyebutnya “Tchan-Pei”. Pula tercatat dalam kronik Dinasti Tang ahir abad ke 9 M sebagai penghasil lada, emas dan para cendikia. Sedang para penjelajah dari Mediterania menyebutnya negeri yang pelabuhannya dipenuhi orang dari berbagai bangsa; China, India, Persia, Arab. Salah satunya bernama Ibn Khurdadjabah (913M), yang menuliskan dalam Al-Masalik wal Mamalik “pelabuhan termahsyur itu bernama Zabag, terletak di muara sungai besar dan banyak dijumpai pohon pinang”.

Toponimi ‘Jambi’ sendiri oleh pakar, semisal Prof. Slamet Muljana (1981) dalam buku “Kuntala, Sriwijaya dan Swarnabhumi”, di-interpretasikan sebagai tempat bersemanyam nya raja Sriwijaya. Sedangkan Fachrudin Saudagar (1992) dalam karya bertajuk “Sejarah Berdirinya Kota Jambi”, bahwa kata Jambi identik dengan “Pinang”, baik secara bentang lahan terbukti banyak ditumbuhi pohon pinang, maupun secara sosial-budaya dimana masyarakatnya memiliki tradisi “sirih-pinang”. Tergambarkan juga dalam gerak tari tradisional Jambi tari “Sekapur Sirih”, yang dibawakan oleh sembilan penari, salah satu membawa wadah berisi persembahan sirih pinang “Sirih nan Sekapur, Pinang nan Selayang”.

Tentu pemakna lain tentang asal muasal kata ‘Jambi’ tidak sebatas itu, ada pandangan berbeda dengan dasar pendekatan lain pula. Salah satunya kata ‘Jambi’ dilihat dari segi lingustik, dikaitkan dengan bahasa Arab, “Bijanibihi” yang berarti ‘serambi, atau  sahabat’.

Dipenghujung era para raja, awal legitimasi para sultan, negeri Jambi dikenal sebagai “Tanah Pilih Pusako Betuah”, ini merujuk pada legenda yang dituliskan kembali budayawan Junaidi T Noor, bahwa awal ditetapkannya ‘Tanah Pilih” sebagai pusat kerajaan tatkala Putri Selaro Pinang Masak dipandu sepasang angsa keramat yang kemudian ‘mupur’ atau terhenti di titik lokasi yang kini kita kenali sebagai kota Jambi. Peristiwa itu diyakini terjadi pada tahun 1401 M, sehingga pada tanggal 28 Mei tahun 2021 ini ditetapkan sebagai hari jadi “Tanah Pilih Pusako Batuah’ yang ke-620.

Merayakan hari jadinya yang ke-620 tahun, tentu terbilang usia sangat tua untuk sebuah kota. Perlu diingat pula bahwa satuan geografisnya dahulu tidak seperti yang kita pahami hari ini dengan batas-batas administrasi yang terdiri dari 11 kecamatan. Namun apabila merujuk pada ‘Tembo Jambi’ wilayah kerajaan tanah pilih “Berjenjang dari Sialang belantak besi, lepas dari Durian Takuk Rajo, melayang ke Tanjung Semelidu, menuju Berajo nan Seberang”, maka lebih luas, termasuk wilayah kini Batanghari, Muara Jambi, dan berapa Kabupaten lain.

 Seperti namanya “Tanah Pilih, Pusako Betuah” tanahnya memang dipilih dari beragam pertimbangan, baik geografis, hidrologis, maupun ditianjau dari astronomis. Semisal apabila membuka Peta Geologi Lembar Jambi 1014 skala 1:250,000 berada ditas formasi batuan, kasai, dan Muaraenim, sedangkan jenis tanah nya terdiri dari oraganisol, alluvial, podsolik, dan hidromorphik kelabu, yang bukan hanya subur namun juga meneydiakan sumber air melimpah sebagai kebutuhan dasar suatu peradaban

Ditambah lagi dengan Daerah Aliran Sungai Batanghari, yang terpanjang di Sumatera membentang dari hulu-hilir, hingga ke muara, bak ibarat jalan raya menghubungkan satu tempat ke berbagai tempat lainnya, menjadikannya benar-benar bentang lahan istimewa. Bila dilihat secara astronomis lokasinya berada antara 0.45° garis Lintang Utara 2.45° garis Lintang Selatan dan 101.10° sampai 104.55° Bujur Timur, tepat dijantung Sumatera. Sisi barat menjulang tinggi Bukit Barisan yang membentang panjang, sedang di sisi timur mengalir biru Selat Malaka lintasan bertemunya tiga benua; Asia, Afrika, dan Eropa. Tentu orang yang memilih lokasi ini adalah “Sang planolog ulung” cendikia yang menguasai beragam disiplin ilmu, mulai dari geografi, geologi, hidrologi, ekomoni, oceanografi, diplomasi politik, bahkan sosial dan  budaya.

Siapa kiranya para cendikia negeri tua Jambi ini? Setidaknya dalam catatan berita asing, baik Arab, China maupun Portugis, terdapat tiga tokoh terkemuka yang mendunia. Pertama adalah Maha Guru Sherlingpa Dhamakirti Swarnadwipa, seoarang cendikia terkemuka yang oleh para ahli berpendapat adalah asli Melayu, yang pendhramaannya kemungkinan di candi Kedaton Percandian Muarajambi. Argumen ini merujuk pada catatam perjalanan It Sing yang kemudian diterjemahkan Takakusu (1896) kedalam bahasa Inggris bertajuk “A Record of Buddhist Practices Sent Home from the Southern Sea”.

Tokoh kedua adalah Atisa Dipamkara Shrijnana, tidak lain adalah murid dari Dharmakirti, yang belajar di Muarajambi antara tahun 1011 sampai 1023 M. keterangan ini diungkapkan oleh Tansen Sen (2014) dalam buku “Buddhisme Across Asia: Networks of Material, Intellectual, and Cultural Exchange”. Dalam berita Portugis “Suma Orienta” yang ditulis oleh Tome Pires saat lawatannya ke wilayah Sumatera pada tahun 1512 juga sedikit mengulang cerita sama. Lalu siapa tokoh ke-tiga? Penulis menyisakan misteri ini untuk dicari para pembaca, kita anggap sebagai tantangan dan pemantik kepedulian akan sejarah peradaban Jambi.

Keberadaan Jambi tempo dulu sebagai penghasil para cendikia berpengaruh di dunia, sejalan dengan temuan data arkeologi yang tidak hanya tersebar luas di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi, juga dapat ditemukan di sepanjang DAS Batanghari, dan bahkan di Kota Jambi, yakni di Situs Solok Sipin, temuan arca budha, padmasana, dan struktur bangunan mengindikasikan bagian dari Muarajambi tempo dulu sebagai Pusat Pendidikan di Asia Tenggara dari abad ke-7 sampai 12 M. Secara ilmiah oleh Agus Widiyatmoko (2015) dalam Disertasi berjudul “Situs Muarajambi Sebagai Mahavihara Abad ke 7-12 M”, dan kajian penguat terbaru yang didasrakn kepada data ekskavasi arkeologi oleh “Asyhadi Mufsi Sadzali (2020), dalam artikel ilmiah bertajuk “Identifikasi Arkeologi Sarana dan Prasarana Mahavihara Muarajambi Sebagai Pusat Pendidikan di Asia Tenggara pada Masa Melayu Kuno Abad VII-XII”.

Secara kasat mata, kita dapat menyakskan bagaimana jaringan pengairan kawasan percandin Muarajambi yang begitu kompleks dan brilian, dibentuk tidak hanya untuk keperluan religi, juga pemikiran philosofis pemisah yang sakral dengan profan yang mensucikan dan menyembuhkan.

Perancangan nya juga untuk keperluan sehari-hari seperti pemenuhan air bersih, sekaligus pengendalian luapan air dari sungai Batanghari, juga sebagai sarana transportasi penghubung antara satu lokasi ke lokasi lain. Teramat luarbiasa. Apakah kita yang hidup di era millenium serba digital hari ini, mampu membuat hal yang sama? Atau paling tidak mendekatinya. Dimana apabila turun hujan deras tidak ada yang kebanjiran, kualitas air kita bersih, sungai jernih dengan ikan beranak pinak, dan transportasi lancar tanpa macet dan polusi.

Dua Puluh Delapan Mei, dalam tema peringatan Hut-Tanah Pilih ke 620 Tahun (1401-2021), dan 75 tahun Pemerintah Kota Jambi, mengangkat tema “Bangkit Bersama Untuk Kota Jambi Tercinta”, sekiranya menjadi obor penyemangat untuk mengembalikan identitas Jambi sebagai negeri penghasl para cendikia, yang tidak hanya cerdas dalam politik dan ekonomi, namun juga cerdas dan bijaksana dalam melihat akar identitas Jambi sebagai cerminan melangkah dan menyusun rencana pembangunan Jambi di masa depan, negeri pilihan yang istimewa dan penuh tuah dari masa ke masa.

 Jambi Negeri Para Cendikia, dengan pemimpin, para intelektual dan masyarakat yang pandai serta bijak dalam mengelola sumber daya alam, kreatif menggerakkan perekonomian, kukuh dalam melestarikan kebudayaan, serta senantiasa berpegang teguh pada prinsip ilmiah dalam menyusun kerangka sejarah peradaban-nya. Semoga generasi mendatang tetap mengingat dan menyematkan identitas ini kepada kita sebagaimana kita mengingat para leluhur.

* Arkeolog, dan Akademisi Universitas Jambi.

 

 

 





Artikel Rekomendasi