Oleh: Rahman Kahfi
(Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jambi)
Kini kita telah sampai pada hari awal bulan syawal. Kita segera merayaan yang disebut Idul Fitri (‘?d al-fithr). Idul Fitri artinya hari raya fitrah. Hari raya kesucian manusia. Disebut juga sebagai hari kembalinya kesucian kepada kita. Karena itu sudah sewajarnya kita merenungi makna hari raya ini yang merupakan hari raya keagamaan. Sehingga kita menge?tahui hikmah dan makna di balik itu. Sebagian merupakan hal yang sudah kita ketahui bersama. Bahwa fitrah atau kesucian asal
manusia adalah sebutan untuk rancangan Tuhan mengenai kita.
Bahwa kita diciptakan Allah dengan rancangan sebagai makhluk suci yang sakral.
Manusia pada dasarnya adalah suci. Oleh karenanya sikap sikap manusia pun selayaknya menunjukkan sikap-sikap yang suci. Terutama terhadap sesama manusia. Maka kemudian ada ungkapan bahwa manusia itu suci dan berbuat suci kepada sesamanya dalam bentuk amal yang soleh.
Pemaknaan sederhana itu jangan dikejar dengan aspirasi untuk mengejar kebenaran obyektif, yang sungguh-sungguh benar dan paling suci. Lantas kalau seseorang merasa dirinya sudah memegang kebenaran yang terbenar, maka ia melengos kepada lainnya, menjudge ke kiri-kanannya, meremehkan dan merendahkan siapapun karena belum sampai pada tingkat kebenaran yang ia sudah capai.
Rentang antara relativitas semua makhluk dengan kemutlakan Khaliq bukan seperti hamparan tanah di mana masing-masing kita mendirikan Rumah-rumah Kebenaran. Kebenaran tidak statis, sedikit bisa dipadatkan simbolismenya, tetapi ia mengalir sebagai kemungkinan-kemungkinan makna, sebab pencarinya memerlukan perjalanan menuju penemuan dan kesadaran yang baru tentang kebenaran yang seakan sama dengan sebelumnya.
Tidak ada rumah permanen kebenaran. Apalagi dengan makuta madzhab di puncak gentingnya, monumen aliran di tugu halaman depan, atau prasasti golongan di papan nama yang dipasang di pagar pembatas jalan.
Dengan demikian mari kita masuki bulan idulfitri kali ini dengan kembali pada kesucian jiwa dengan meningkatkan sepiritualitas kita.
Biarlah diri masing-masing dan masing-masing diri memproses perjalanan, pencarian dan percintaannya dengan Sang Fithrah. Yang diperlukan di antara diri-diri itu adalah apresiasi, empati, saling menghormati, atau kalau sama-sama sudah cukup matang: saling belajar, saling bercermin, saling bertanya dan menjawab, saling mengingatkan dan diingatkan.
Tidak ada makhluk yang wajib sampai ke Allah dan perannya. Idulfitri tidak mutlak harus sampai ke kefitrian. Yang prinsip adalah ‘menuju’nya, bukan ‘sampai’nya, meskipun syukur alhamdulillah kalau Sang Maha Fithri berkenan menariknya untuk sampai dan menyatu.alhamdulillah.
Dengan momentum idulfitri kali ini teruslah berada dalam kesucian tersebut cak Nur mengatakan di dalam bukunya momentum ramadhan dan idulfitri adalah wadah yang tepat untuk melatih ketakwaan kepada Allah SWT (pesan takwa) . Terus menjaga silaturahmi dan toleransi terhadap umat bangsa dan negara.(*)
Gubernur Al Haris Fasilitasi Kepulangan 3 Warga Jambi Korban Scam Kamboja, 1 Orang Malah Menghilang
Tegas! Kanwil Kemenkum Jambi Ke Majelis Pengawas : Periksa Jika Ada Dugaan Pelanggaran Notaris
SAH Serukan Gerakan Sadaqah Tani Jadi Solusi Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan di Jambi


Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Kembali Ditahan di Rutan Jambi


