OPINI: Ramadhan di Tengah Pandemi



Kamis, 15 April 2021 - 08:20:00 WIB



Oleh: Salamatul Fitri

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan rahmat, maka tidak heran jika seluruh umat islam sangat antusias menyambut Ramadhan. Berbagai persiapan dilakukan agar ibadah yang dijalankan selama Ramadhan berjalan dengan maksimal dan tidak menjadi seseorang yang merugi karena tidak memaksimalkan bulan yang penuh kemuliaan ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa bulan Ramdhan hanya datang sekali dalam setahun, maka perjumpaan dengannya menjadi istimewa bagi umat islam. Bulan ramadhan juga menyimpan beragam keutamaan yang tentunya menjadi wadah kita untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya guna menghadapi hari perhitungan kelak.

Maka, manfaatkanlah momentum bulan Ramadhan untuk memperbanyak amal ibadah dengan niat semata-mata karena Allah. Pahala yang diberikan Allah di bulan Ramadhan ini tentunya berbeda dengan hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan, karena Allah menjanjikan lipatan pahala yang berlimpah bagi hambanya yang mau istiqomah beramal sholih di bulan Ramadhan. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis berikut ini: "Setiap amalan yang dilakukan anak Adam akan dilipat gandakan, tindakan yang baik akan dilipatgadakan pahalanya hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman: Dengan syarat berpuasa yang dilakukan karena Aku (Allah) maka Aku akan memberinya pahala. Karena mereka meninggalkan keinginannya demi Aku." (HR. Muslim)

Sayangnya, ramadhan kali ini masih akan kita lalui dengan penuh masalah dan dilanda kesedihan mendalam. Pandemi covid-19 yang belum berakhir, walaupun kasus sudah sedikit melambai. Program vaksin sudah berjalan tetapi pandemi ini belum berakhir seutuhnya. Masalah ekonomi yang terus terjadi, hutang negara yang terus bertambah.

Dikutip dari money.kompas.com, Ekonom senior Institute for Develompent of Economic and Finance (Indef) Didik J Rachbini memaparkan perjalanan utang Indonesia dari masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke masa Presiden Joko Widodo. “Pada waktu SBY terakhir memimpin beralih ke Jokowi utangnya itu sekitar Rp 2.700 triliun. Bu Sri Mulyani kemarin melihat datanya sendiri Rp 6.336 triliun. Jadi (naik) 150 persen dalam waktu hanya 5-6 tahun, utang selama puluhan tahun di-by pass lebih dari dua kali lipat,” ujar Didik dalam sebuah diskusi virtual, Rabu (24/3/2021).

PHK massal yang terus terjadi. Belum lagi, kasus terorisme yang sedang menggejala kembali. Dimana, kasus ini menjadikan muslimah sebagai korban tertuduh dan semakin menguatkan program deradikalisasi dinegeri mayoritas muslim ini. Program tersebut, nyatanya adalah deislamisasi islam ditengah kehidupan kaum muslim indonesia. Program moderasi islam yang terus berjalan menyasar pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Upaya guna mencetak generasi muslim yang moderat, menerima nilai-nilai barat dan menjauhkan pemahaman islam kaffah dibenak-benaknya.

Pemberhentian kasus BLBI yang merugikan negara 4 Triliyun rupiah, korupsi yang terus terjadi dan politik oligarki yang semakin kentara terjadi. Belum lagi, pernikahan selebriti yang menuai kontroversi hingga didatangi para pejabat negeri. Penetapan Peraturan Presiden tentang Minuman Keras (Miras) yang kemudian menuai polemik ditengah masyarakat, akhirnya lampiran Perpres tentang investasi miras yang dicabut tetapi tidak serta merta menghilangkan miras sebagai induk kejahatan. Kontradiksi larangan mudik tetapi izin tarawih dan tempat wisata dibuka dan masih banyak lagi permasalahan yang terjadi di negeri ini.

Ramadhan adalah bulan suci, sudah selayaknya disambut dengan kesucian jiwa dengan membersihkan diri dari segala dosa dan kemaksiatan. Apalagi, semua yang terjadi ditengah-tengah kehidupan kita saat ini, musibah, bencana, wabah dan sempitnya kehidupan kita dan hilangnya keberkahan hidup tentu tidak dapat dilepaskan dari dosa-dosa kita. Walaupun, Ramadhan masih dalam kondisi prihatin, harus tetap bersemangat dan bersukacita menyambutnya tanpa harus mengubur empati terhadap kondisi orang lain dan kondisi negeri ini.

 *Aktivis Dakwah Kampus



Artikel Rekomendasi