Oleh: Antony Zeidra Abidin(*)
UPAYA pengambilalihan Partai Demokrat oleh Mulduko, ada yang menyebutnya kudeta. Merebut kekuasaan dengan paksa dan secara tidak sah (KBBI).
Menurut saya itu hanyalah jurus “usahe” atau aksi penelikungan yang sudah berlangsung sejak zaman Suharto.
Dalam sejarah politik Indonesia, coup d’ tat yang paling banyak diingat dan ditulis dalam buku sejarah adalah G30S.
Karena kata coup d’Etat yang berasal dari Bahasa Perancis itu lazim diartikan: tindakan atau aksi bersenjata dalam pengambilalihan kekuasaan.
Merobohkan atau pembalikan kekuasaan secara illegal, brutal dan inskonstitusional.
Peran militer atau angkatan bersenjata sangat menonjol, bahkan menjadi syarat utama dalam sejarah kudeta di berbagai negara.
Lantas, apakah perebutan KLB yang memilih Muldoko dapat disebut kudeta? Tentu saja bisa, sebagai kudeta politik. Boleh-boleh saja, tapi rasa-rasanya kurang tepat. istilah yang paling tepat: menelikung.
Sesuatu yang pernah terjadi dalam sejarah politik Indonesia moderen pasca kemerdakaan.
Suharto menelikung Sukarno melalui Supersemar.
Keluarga Suharto pun merasa ditelikung Habibie, karena itu Habibie tidak diperbolehkan menjenguk Suharto menjelang wafat ketika dirawat di RS Pusat Pertamina.
Apakah Megawati Menelikung Gus Dur? Bisa iya, bisa juga tidak. Gus Dur diturunkan setelah mengeluarkan Dekrit 23 Juli 2001. Dekritnya dahsyat: membekukan DPR/MPR dan Partai Golkar. Tentu saja tindakan itu menimbulkan perlawanan. Kemudian MPR menggelar Sidang Istimewa. Gus Dur lengser, digantikan wakilnya: Megawati.
Gus Dur tidak dikudeta, karena prosesnya legal dan konstitusional. Bahkan TNI dan Polri yang diminta melakukan pengamanan terhadap keputusan Dekrit tsb, tidak melaksanakan perintah itu. Apakah Gus Dur ditelikung? Ya, sangat jelas Gus Dur ditelikung, jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Menelikung diartikan sebagai: (1) mengikat kedua kaki (dan tangan), (2) membantasi gerak. Menelikung adalah suatu “usahe” seperti yang diucapkan Agung Laksano kepada saya ketika ia menuntut agar dilakukan Munaslub Golkar.
Dalam perkembangan-nya, Munaslub Ancol adalah “usahe” Agung Cs untuk menurunkan Aburizal Bakrie. Walhasil Ical digantikan Novanto melalui Munaslub Bali (17/5/16).
Mungkin saja Megawati tidak menelikung Gus Dur. Tetapi SBY dianggap Megawati mengkhiati dirinya. Meskipun Megawati hadir saat acara pemakaman Ani Yudhoyono, dalam kenyataannya hubungan kedua mantan presiden RI itu hingga sekarang belum baik. SBY menelikung Megawati, itu sebab musababnya.
Karena itu, jangan heran jika Jendaral Muldoko menelikung Kolonel AHY putra Jendral Soesilo Bambang Yudhono, Mantan Presdien RI. Bukankah Jendral Soeharto pernah menelikung Soekarno?
Karena yang menelikung itu jendral, orang cepat mengasosiasikannya dengan kudeta.
Pada hal itu hanyalah “usahe” atau penelikungan.
Pertanyaannya sekarang apakah penelikungan itu akan menjadikan Muldoko capres 2024? Selanjutnya menang jadi presiden RI ke-8, menggantikan Jokowi?
Jangan heran jika itu terjadi. Jendral Suharto dan Jendral SBY sudah memberikan teladan jurus “usahe” atau telukungilogi itu.(*)
OPINI: Kepastian Pemilu 2024 dan DPT yang Akurasi dan Mutakhir
OPINI: Kekerasan Seksual Anak, Perlindungan untuk Korban dan Hukuman bagi Pelaku
SAH Hadiri HUT Ke 47 Tahun PPNI Sekaligus Resmikan Graha DPW PPNI Jambi
OPINI: Scopus dan Jurnal Predator Di Antara Kewajiban Publikasi Akademis
Perancang Kanwil Kemenkum Jambi Kawal Penuntasan Ranperda Insentif & Kemudahan Penanaman Modal

