Oleh : Dr. Noviardi Ferzi, SE, MM*
Jurnal predator adalah jurnal internasional yang di dalam proses penerbitannya tidak didapati proses peninjauan ilmiah atas naskah yang bisa dipertanggungjawabkan atau jurnal internasional yang telah terindikasi dalam definisi Universitas sebagai jurnal yang kualitasnya diragukan.
Istilah " Predatory Journal " pertama kali dikemukakan oleh Jeffrey Beall, seorang pustakawan Universitas Colorado Amerika Serikat. Jurnal sejenis ini memangsa para akademisi dan mahasiswa yang perkembangan karier atau studinya ditentukan oleh poin kredit (Kum).
Jurnal predator biasanya melakukan proses publikasi dengan cepat, bahkan tanpa tahap peer-review oleh reviewer yg ahli dalam bidang tersebut. Artikel bisa dengan mudah terbit dengan tidak banyak memberikan revisi, bahkan dapat ditemukan banyak kesalahan-kesalahan penulisan. Sehingga kualitas artikel jurnal predator yang dipublikasikan buruk dari segi data, tata bahasa atau penulisan.
Selain itu biasannya jurnal predator menetapkan biaya publikasi yang cukup mahal (ratusan hingga ribuan USD) dengan menjanjikan penerbitan
Letter of Acceptance (LoA) atau Surat penerimaan artikel yang menyatakan bahwa artikel telah di-review dan siap dipublikasikan di jurnal tersebut.
Dewasa ini publikasi ilmiah merupakan suatu hal yang penting untuk dilakukan oleh seorang ilmuwan. Publikasi ini dapat dilakukan di mana saja, misalnya melalui koran, majalah, website, dan jurnal ilmiah. Tempat yang dianggap paling baik dan bergengsi untuk melakukan publikasi adalah jurnal ilmiah.
Kebutuhan untuk publikasi ilmiah di jurnal internasional dimanfaatkan oleh jurnal predator untuk mencari uang. Mereka menerima sebanyak mungkin artikel tanpa menyaring kualitas penelitian yang dibuat. Akademisi maupun mahasiswa sebaiknya mampu mengidentifikasi dan menghindari jurnal predator, baik sebagai penulis yang ingin mempublikasikan tulisannya, maupun sebagai pembaca yang sedang mencari referensi ilmiah.
Keunggulan publikasi pada jurnal adalah terdapatnya proses peer-review konten publikasi oleh reviewer ahli di bidang tersebut. Umumnya, sarana publikasi lainnya hanya melalui proses penyuntingan oleh editor atau redaktur dan proses penyuntingan umumnya lebih fokus pada aspek tata bahasa. Oleh karena itu, artikel yang dimuat di jurnal ilmiah dianggap lebih sahih dan dapat dipercaya.
Sayangnya, ratusan jurnal yang berpotensi predator telah menyusup ke database akademis, seperti Scopus sekalipun. Jurnal yang berpotensi predator yang muncul di database telah menerbitkan lebih dari 160.000 artikel antara 2015 hingga 2017. Analisis mereka menunjukkan bahwa sekitar 17% artikel (atau setiap artikel keenam) yang diproduksi oleh para peneliti di Indonesia dan Kazakhstan diterbitkan di jurnal predator.
Indeks Scopus
Berapa tahun terakhir Dirjen Dikti menggunakan pengindeks Scopus sebagai acuan jurnal internasional bereputasi. Dengan bantuan Scopus, para pembuat kebijakan, panitia penilai kepangkatan, serta pemberi insentif publikasi sangat terfasilitasi.
Penggunaan Scopus mungkin merupakan jalan tengah, mengingat ISI-Thomson sangat ketat sehingga hanya jurnal-jurnal papan atas yang terindeks. Hampir seluruh jurnal yang diindeks ISI-Thomson juga di indeks oleh Scopus. Meski demikian, Scopus memiliki beberapa kelemahan.
Misalnya, Scopus adalah bagian dari Elsevier, penerbit ribuan jurnal ilmiah yang berpusat di Belanda. Scopus juga progresif memasukkan jurnal ke dalam basis data mereka sehingga cukup banyak jurnal kurang pantas dan predator ikut terindeks.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sangat antisipatif menghadapi kerunyaman ini, dengan mengusulkan jurnal internasional dinilai dalam lima peringkat, yaitu jurnal dengan peringkat Q1 hingga Q4 versi ISI-Thomson, sementara di peringkat kelima adalah jurnal yang hanya terdaftar di Scopus dengan terbitan perdana sebelum 2003.
Kualitas riset menjadi hal utama untuk publikasi bereputasi. Tanpa riset yang bagus dan menemukan kebaruan (novelty) akan sulit bersaing dengan penulis lain. Pembudayaan tradisi riset tersistem dan cara penulisan yang memadai menjadi kata kunci penting dalam publikasi ilmiah.
Lebih lanjut, kampus perlu mandiri dalam mengelola aset risetnya. Artinya, kampus perlu mengindentifikasi kualitas penelitian dosennya. Memasukkan ke jurnal terindeks Scopus bukan perkara yang sulit. Asalkan sesuai dengan focus and scope yang diminta dan panduan penulisan, maka seseorang mempunyai peluang yang sama dimuat di sana. Salam . ! (*)
Dosen STIE Jambi.*
Perancang Kanwil Kemenkum Jambi Kawal Penuntasan Ranperda Insentif & Kemudahan Penanaman Modal

