OPINI: Moderasi Agama Kian Marak, Umat Harus Bertindak



Selasa, 16 Maret 2021 - 16:06:20 WIB



Oleh: Tiya Maulidina*

 

 

Belakangan ini istilah moderasi Islam, Islam moderat, atau Islam wasathy tampak sering mewarnai panggung rezim. Di satu sisi, Wapres Ma’ruf Amin menegaskan, Islam di Indonesia tergolong moderat. Sehingga ia menyebutkan, masih ada sejumlah kecil kelompok yang “harus diluruskan”. Di sisi lain pun, Kemenag telah menyusun berbagai program untuk menderaskan Islam moderat. Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meminta jajarannya untuk mempercepat implementasi moderasi beragama dalam berbagai programnya.

Tak heran jika di awal Februari lalu, Menag dan kawan-kawannya memenuhi jagat berita dengan terbitnya SKB 3 Menteri. Terbitnya SKB ini sendiri merupakan buntut dari mengemukanya persoalan penggunaan jilbab (baca: kerudung) di SMKN2 Padang yang menuai pro kontra yang di dalamnya juga tercium “aroma” moderasi beragama dengan membahas penggunaan pakaian seragam peserta didik. Dilansir dari laman kemdikbud.go.id, pada 3/2/2021 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Kementerian Agama (Kemenag), menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 021/KB/2021, Nomor 025-199 Tahun 2021, Nomor 219 Tahun 2021 tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Sekolah yang Diselenggarakan Pemerintah Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

 Selain adanya SKB 3 Menteri, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) juga tampak melakukan aksi yang dapat memperkuat agenda moderasi tersebut. Menteri PPPA, Bintang Puspayoga, menyatakan bahwa untuk mewujudkan program-program bangsa, diperlukan bahasa agama di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas religius. Diharapkan adanya andil Masjid Istiqlal dapat menciptakan pemberdayaan perempuan serta perlindungan anak. (kemenpppa.go.id, 19/2/2021). 

Agenda ini diperkuat melalui Nota Kesepahaman (MoU) antara Kementerian PPPA dengan Badan Pengurus Masjid Istiqlal (BPMI) yang dihadiri oleh Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Ketua Harian BPMI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar di Gedung Kementerian PPPA. Menteri PPPA menjelaskan isu perempuan dan anak merupakan isu yang kompleks, multisektoral, dan sangat berkaitan dengan cara berpikir masyarakat. Sehingga, ia mengapresiasi program dari Imam Besar Masjid Istiqlal untuk mengubah cara pikir dan cara pandang masyarakat agar ramah dan responsif terhadap perempuan dan anak.

Islam Moderat ialah Rekayasa Barat 

Islam moderat atau Islam wasathi sudah lama diaruskan. Targetnya sudah jelas, yaitu membendung gagasan Islam radikal, yang sejatinya merujuk pada gagasan Islam kaaffah dan khilafah. Tak dipungkiri, beberapa dekade terakhir ini, wacana penegakan syariat Islam kaaffah dan khilafah memang terus beredar di tengah umat. Bahkan nyaris menjadi opini umum yang dilandasi kesadaran umum tentang hakikat ajaran Islam sebagai solusi seluruh krisis yang bermunculan.

Akhirnya, kondisi ini menimbulkan pergolakan. Sebab, gagasan Islam kaffah dan khilafah alias Islam radikal ini akhirnya turut mengoreksi sistem yang ada. Yakni sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal di berbagai lininya. Mulai dari sistem ekonomi, politik, sosial termasuk pendidikan dan kesehatan, hukum, hankam, dan lain-lain. Bukan hanya sebatas mengoreksi, menguatnya gagasan ini ternyata diikuti seruan mengganti sistem secara total. Wajar saja, asas sistem sekuler-demokrasi ini memang bertentangan dengan Islam. 

Tak heran pula jika negara penganut sistem ini secara sistematis mengeluarkan kebijakan yang anti rakyat dan bahkan anti Islam. Sebagaimana di Indonesia yang diakui sudah lama dikuasai kekuatan korporatokrasi atau didominasi kaum oligarki. Salah satu yang fenomenal adalah disahkannya Undang-undang Ciptaker yang jelas-jelas pro pada kepentingan pemilik modal. 

Massifnya pengarusan ide Islam moderat atau wasathiyah di negeri ini sebetulnya tidak lepas dari agenda negara adidaya kapitalis sekuler. Mereka memang sedang berupaya mempertahankan hegemoninya atas dunia. Hal ini sudah bukan rahasia bahwa negara kapitalis Amerika ditengarai merekayasa peristiwa 9/11 tahun 2001. Lalu menjadikannya sebagai momentum untuk menggelar proyek Global War On Terrorism yang memonsterisasi Islam ideologi, terutama ajaran jihad dan khilafah.

Strategi yang dijalankan adalah sebagai berikut:

1. Menjadikan ulama sebagai penjaja ide.

2. Penguasa sebagai pelaksana dan pembuat aturan.

3. Mendesain kurikulum agama berbasis moderasi Islam, dari pendidikan tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

4. Mendirikan Rumah Moderasi di berbagai PTKIN.

5. Menggandeng Ormas dan LSM dalam sosialisasi pemikiran Islam moderat di tengah umat.

Beberapa strategi ini dijalankan untuk membuat moderasi Islam diterima dan diadopsi umat Islam Indonesia. Padahal, sejatinya ide ini adalah racun dalam agama yang dimasukkan dalam tubuh dan benak kaum muslimin untuk melumpuhkan kekuatan mereka, sehingga tidak mampu melawan dominasi kapitalis global.

Dengan adanya proyek ini, kita dipaksa menilai dan mendefinisikan Islam dengan cara pandang Barat. Yakni Islam yang kompromistis dengan nilai-nilai mereka, tidak menyerang mereka, toleran terhadap sistem hidup mereka, dan siap menanggalkan syariat atas nama modernitas, kesetaraan, dan perdamaian dunia. Padahal dibalik itu, Barat telah menggunakan Islam moderat sebagai alat pembunuh yang mematikan. Menjauhkan umat dari rahasia kebangkitannya serta dari identitas hakikinya sebagai umat terbaik, umat pemimpin. Bahkan menjauhkan dari makna umatan wasathan yang sesungguhnya, yakni umat yang berpegang teguh pada kebenaran, tak berkompromi dengan kebatilan, dan kelak akan menjadi saksi atas umat-umat lainnya tentang kebenaran itu.

Allah Swt. berfirman,

??????????? ????????????? ??????? ??????? ??????????? ????????? ????? ???????? ????????? ?????????? ?????????? ????????

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. “ (QS Al-Baqarah : 143)

Tumpaskan Sekulerisme, Beralih kepada Islam

Sesungguhnya, menerima Islam moderat sebagai arus utama dan menyerang Islam ideologi hanya demi menerima pujian musuhnya, jelas-jelas merupakan kejahilan yang haqiqi. Jika hal itu dilakukan, maka sama dengan bunuh diri politik yang akan menjauhkan umat ini dari kebangkitan hakiki dan melanggengkan posisinya sebagai objek penjajahan. Umat harus segera menyadari peta pertarungan ideologi ini akan kian massif terjadi dengan berbagai cara maupun strategi. Musuh Islam tak sungkan-sungkan menggunakan tangan-tangan umat ini sebagai alat atau senjata untuk menyerang agama dan para pejuangnya yang sangat mereka benci.

Para musuh Islam sadar betul bahwa alarm kematian peradaban sekuler kapitalis neolib yang batil sedang terus berbunyi, yakni dengan lahirnya sekelompok umat yang tercerahkan Islam ideologis dan rela mengorbankan diri demi membela kemuliaan agama dan umat yang sudah lama terjajah ini. Maka, tak pantas jika umat—apalagi penguasanya—menyambut manis berbagai proyek makar musuh, lalu memilih posisi sebagai penghalang tegaknya Islam dan termakan fitnah namimah (adu domba) yang membahayakan ukhuwah Islam. Sebaliknya, umat harus segera mencampakkan sistem kapitalis-sekuler ini dan segera menggantinya pada sistem Allah yang Maha Agung.

Karena sesungguhnya, Allah Ta’ala telah meminta agar umat ini berpegang teguh hanya pada tali-Nya. Seraya memberi kabar gembira bahwa fajar kemuliaan umat ini akan segera terbit, sembari umat juga berjuang menegakkan hukum-hukum-Nya dalam sebuah institusi negara yang akan memuliakan kedudukan mereka. Kehadirannya justru sangat ditakuti negara-negara adidaya.

Sehingga, marilah kita jadikan seruan Allah sebagai pengingat bagi kaum beriman,

????????????? ???????? ??????? ???????? ????? ??????????? ? ??????????? ???????? ??????? ?????????? ???? ???????? ????????? ????????? ?????? ??????????? ?????????????? ???????????? ?????????? ?????????? ?????? ????? ???????? ???? ???????? ?????????????? ??????? ? ????????? ????????? ??????? ?????? ???????? ??????????? ???????????

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”(*)



Artikel Rekomendasi