Khairatunisa Berhasil Harumkan Nama Jambi ke Tingat Nasional, Ini Inovasinya



Jumat, 23 Oktober 2020 - 10:05:55 WIB



Khairatunisa (tengah)
Khairatunisa (tengah)

JAMBERITA.COM- Khairatunisa Akmalia Putri asal Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) berhasil membawa nama harum Provinsi Jambi ke tingkat nasional melalui ajang Pemuda Pelopor di Bidang Inovasi Teknologi.

Untuk di ketahui Khairatunisa yang kini masih berstatus seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi ini, lahir 13 Februari 2001 silam di Desa Semau, RT 02 Kecamatan Beram Hitam Kabupaten Tanjabbar-Jambi. Ia lebih dikenal dengan sapaan Caca.

Sebelum mendaftar dalam kompetisi pemuda pelopor yang di selenggarakan Menpora RI melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi, Caca juga pernah menjuarai perlombaan tingkat kabupaten yang di adakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Kali ini Caca berhasil mendapat juara ke tiga pemuda pelopor di tingkat nasional tahun 2020 sebagai perwakilan peserta dari Provinsi Jambi."Saya lebih memilih dampak perekonomian dengan Budi Daya Ikan dan Sayur Dalam Ember (Budiksdamber) untuk mengurangi pengeluaran dan menambah pendapatan," ujarnya, Jum'at (23/10/2020).

Diakui Caca, mulai dari pemberkasan, pendaftaran sampai dengan seleksi tingkat Provinsi Jambi dan melaju ke grand final tingkat nasional, untuk perwakilan pemuda pelopor memang hanya dirinya seorang dari Tanjabbar.

"Sebenarnya dari Provinsi Jambi ada 3 orang perwakilan peserta yang masuk ke tahap penjurian atau 6 besar, baru ke grand final (tingkat nasional-Red) dan saya sendiri dari bidang inovasi dan teknologi," sebutnya.

Caca menceritakan, untuk inovasi yang di kembangkan sehingga masuk ke nominasi itu tentang Budiksdumber dengan Watter sistem, menciptakan bakteri yang mengurai kotoran ikan agar tidak berbau untuk dijadikan pupuk. Sebenarnya ini sudah banyak digunakan bahkan dibudidayakan.

"Cuma yang membedakan punya orang dengan Caca itu, dari pengunaan bakteri merah dan manfaat nya untuk mengurai kotoran ikan. Karena memelihara ikan dalam ember, tentu kotorannya nggak kemana-mana menumpuk di dasar ember, jadi agar tidak berbau," tuturnya.

Caca menjelaskan, bakteri merah itu sama dengan bakteri potosintesis yang ditemukan oleh orang Thailand biasa digunakan untuk tanam padi, bedanya dengan yang diciptakan olehnya adalah, pengabungan antara Bakteri Merah untuk Budiksdumber.

"Ini perdana dapat juara tingkat nasional, tapi di Kabupaten juga sudah pernah dapat, tapi inovasinya bukan Budiksdamber," ungkapnya.

Waktu itu kata Caca, tahun 2019 dirinya juga mendapat juara ke-3 tingkat Kabupaten yang diadakan oleh Bappeda tentang inovasi teknologi tepat guna, yaitu alat pengusir burung secara otomatis yang energinya didapat dari tenaga Surya.

"Awalnya, karena saya tinggal di desa, rata-rata kan petani, jadi pas memasuki musim tanam padi sampai panen burung banyak sekali, burung salah satu hama, jadi untuk mengatasinya tadi masyarakat setempat biasanya menggunakan alat tradisional, kaleng yang diikat, terus ditarik-tarik pakai benang sampai mengeluarkan suara jangan sampai ada burung yang memakan," terangnya.

Untuk itu dirinya menciptakan sebuah alat sacam alarm di tengah-tengah sawah bagaimana agar tali tersebut tidak ditarik sendiri, oleh pemilik ladang karena harus mengeluarkan banyak tenaga dan memakan waktu untuk mengusir burung.

"Caca ciptain alat, bagaimana sih, itu dapat bergerak, menarik otomatis tanpa harus ditarik sama manusia, tidak menggunakan Listrik. Tapi pakai panel Surya yang di letak dibawa sinar matahari dan mengalir ke Aki yang di namai Smart Delay untuk mengatur waktu, misal 10 detik berbunyi, 10 detik stop. Jadi bunyi macam alarm dan burung nggak sampai ke ladang padi," bebernya.(*/afm)



Artikel Rekomendasi