Sebuah Catatan Pemanfaatan Revolusi Industri 4.0 Dalam Dunia Pendidikan



Jumat, 15 Mei 2020 - 10:27:13 WIB



Oleh: Widia Astuti*

Disaat kita mulai sibuk menghadapi era revolusi 4.0, pada sisi lain, di awal Januari 2019 lalu, telah beredar gagasan baru yang muncul dari peradaban Jepang, yaitu society 5.0 disampaikan dalam Forum Ekonomi Dunia 2019 di Davos, Swiss. Gagasan ini muncul atas respon revolusi Industri 4.0 sebagai signifikannya perkembangan teknologi, tetapi peran masyarakat sangat menjadi pertimbangan atas terjadinya revolusi industri 4.0 ini.

Revolusi Industri 4,0 teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Segala hal menjadi tanpa batas (borderless) dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited), karena dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang masih sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Terobosan teknologi penyokong Revolusi Industri keempat antara lain kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI),   perkembangan   robotika,   "the   Internet   of   Things",   realitas   maya   (virtual reality/VR),  dan  mesin  cetak  tiga  dimensi.    Kecerdasan  buatan  dapat  di aplikasikan  untuk telepon seluler, otomotif, juga persenjataan. Profesor Klaus Schwab sebagai penggagas World Economic Forum (WEF) melalui bukunya The Fourth Industrial Revolution menyatakan, revolusi ini secara fundamental dapat mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu dengan yang lain. Revolusi industri keempat digadang-gadang mampu meningkatkan laju mobilitas informasi, efisiensi organisasi industri, dan membantu meminimalisasi kerusakan lingkungan.

Dalam aspek pendidikan, pemanfaatan perkembangan revolusi industri 4.0 sudah mulai dirasakan dengan telah dikembangkannya beberapa aplikasi yang memudahkan mahasiswa, dosen, siswa maupun guru untuk melakukan kegiatan akademik, sebagai contoh pada pendidikan tinggi, mahasiswa dan dosen sudah dapat menggunanakan aplikasi dalam pembelajaran, mengolah nilai, melihat nilai, melakukan pembayaran dan pendaftaran kuliah. Selanjutnya, pemanfaatan rvolusi industri semakin terlihat sejak bulan maret 2020, ketika pandemi covid 19.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  RI mendorong penyelenggaraan proses pembelajaran dilakukan dengan metode daring. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Mendikbud RI nomor 3 tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (COVID-19) pada Satuan Pendidikan, dan Surat Sekjen Mendikbud nomor 35492/A.A5/HK/2020 tanggal 12 Maret 2020 perihal Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Di samping juga mengikuti edaran dan himbauan dari masing-masing Pemerintah Daerah domisili sekolah dan Perguruan Tinggi. Kebijakan yang dipilih oleh pemerintah adalah social and physical distancing, maka pembelajaran daring/online menjadi pilihan yang dapat dilaksanakan oleh sekolah/Perguruna Tinggi. Pemberlakuan kebijakan physical distancing yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah, dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berlaku secara tiba-tiba, tidak jarang membuat pendidik, siswa dan orang tua kaget karena tidak siap. Efek kejut pandemi covid-19 ini sangat terasa dalam bidang pendidikan. Pendidik merasa kaget karena harus mengubah sistem, silabus, rencana pembelajaran secara cepat agar pendidikan terus berjalan memenuhi hak-hak belajar siswa/mahasiswa walaupun dilakukan dari rumah. Siswa/mahasiswa terbata-bata karena mendapat banyak tumpukan tugas selama belajar dari rumah. Disisi lain, orang tua merasa stress ketika mendampingi proses pembelajaran dengan tugas-tugas yang menumpuk dari guru, belum lagi persoalan keberlangsungan hidup dan pekerjaan masing-masing di tengah krisis. Kondisi yang terjadi saat ini membuat semua stakeholders pendidikan panik dan tidak siap dengan kondisi yang harus dihadapi.

Permasalahan lainnya adalah ketika siswa/mahasiswa selama belajar dari rumah dengan keterbatasan fasilitas yang berbeda satu sama lain. Ada siswa/mahasiswa yang memiliki smartphone tapi disisi lain ada juga yang tidak memiliki. Belum lagi masalah dalam akses internet, bagi siswa/mahasiswa yang tinggal di daerah yang memang betul-betul susah atau tidak ada jaringan internetnya. Banyak cerita memilukan mahasiswa saat berusaha mencari sinyal internet demi mengikuti kuliah daring. Mulai dari kuota, naik ke pegunungan, membangun rumah pohon, hingga meninggal dunia terjatuh dari menara mesjid. Bukan rahasia jika sinyal internet masih barang langka di banyak tempat di Indonesia. Pulau Jawa, yang dianggap anak emas Indonesia, masih punya masalah serius tentang sinyal. Apalagi yang di luar Pulau Jawa. Kemudian masalah listrik, masalah klasik yang mendera Indonesia berpuluh-puluh tahun ini menghambat kelangsungan belajar online. Tanpa listrik tidak ada tower untuk mengantarkan sinyal. Tidak ada sinyal, tak ada internet, tidak ada jaringan internet, maka tidak bisa belajar online.

Mengacu pada uraian  di atas, maka menurut penulis, sarana dan prasarana adalah suatu hal yang harus disiapkan seperti platform dan atau tools  dalam melaksanakan  pembelajaran daring serta kemampuan manusia sebagai pengguna.(*)

 

*Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UIN STS Jambi



Artikel Rekomendasi