Air Mata Seorang Pemimpin



Kamis, 12 Maret 2020 - 07:29:02 WIB



Oleh : Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP*

BANYAK riwayat masyhur yang mencatat, bahwa pada saat pengangkatannya, Umar bin Abdul Aziz justru berlinang air mata mengingat apa yang diterimanya adalah sebuah amanah yang bukan sembarang, yang terkait dengan tanggung jawab besar atas peri kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Cicit Umar bin Khattab itu berkata, Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Raji’uun. Tak ada seleberasi berlebih disitu, karena setiap yang tergaris disadari sebagai sebuah titah yang bermula dan kembali kepada sang maha kuasa. Bahwa seorang pemimpin justru berada dalam jiwa yang gentar buat memikul segala titipan. Sebaliknya, di batas paling mutakhir zaman ini kita justru menemukan hakikat kepemimpinan yang mulia itu demikian terpuruk menjadi komuditas yang diincar dan diperebutkan. Air mata itu tentu berlapis maknanya, seperti tangis seorang kiai berbeda dengan tangis santrinya saat mereka tenggelam dalam doa. Sebagaimana  posisi dan perannya, tangisan seorang pemimpin pun memiliki kelas dan maqamnya sendiri. Air mata Umar bin Abdul Aziz adalah tamparan atas segala perilaku kekanakan itu, disitu persoalannya sama sekali berbeda. Pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, keadilan bukan semata utopia dan kesejahteraan bukan berarti hedonia yang menjajah kesederhanaan manusia. Sang pemimpin menjadi suri tauladan yang terus memupuk nilai-nilai baik bagi kehidupan masyarakatnya.

Akan tetapi, jujur kita akui, seluruh pranata, sistem, mekanisme atau proses politik yang ada, berlangsung dan kita seleberasi bersama selama ini, memang tidak memiliki peluang melahirkan pemimpin zuhud seperti kategori diatas. Jabatan dan kekuasaan dalam sistem dan kultur politik seperti ini adalah sebuah pencapaian yang harus dibela dan diperjuangkan habis-habisan. Karena sistem dan kultur politik semacam ini memang tidak diturunkan dari tradisi ketimuran. Ia semata adopsi bahkan jiplakan dari apa yang ada dan berlangsung secara ideal dalam kognisi kita dibelahan barat dunia. Belahan yang notabene memiliki sejarah, geografis, watak hingga reaksi sensoris fisik yang berbeda dengan mereka yang berada di Timur. Ini adalah logika sederhana, yang sejak lebih seabad lalu sudah dimengerti hanya saja kita manusia masa kini yang tak mau mengerti. Maka, jadilah peraihan kekuasaan adalah kemenangan besar yang pantas bahkan wajib diseleberasi. Tanpa kita sadari, pemahaman seleberatif semacam ini membawa implikasi kekuasaan (politik) itu tidak didapat dari akumulasi dukungan dari bawah, tapi hasil pertarungan antara para pemilik kuasa (elite). Inilah yang mengakibatkan kekuasaan selalu berorientasi keatas secara vertikal, tidak kebawah atau sejajar dengan masyarakatnya. Kekuasaan bukanlah pihak yang harus selalu dilayani oleh masyarakat, melainkan justru adalah pihak yang mestinya melayani kepentingan publik yang telah memberikan amanat kepadanya.

Ketika beberapa waktu lalu kita mendengar, membaca sebuah peristiwa, saat seorang pemimpin negeri yang tidak bahagia ini juga menangis, apa yang terbersit kemudian? Sebuah kisah seperti Umar bin Abdul Aziz kah? Atau Hitler yang menangisi kekalahan pasukannya satu per satu? Lalu, apa makna tangisan pemimpin negeri itu? Atau adakah ia menangisi hal lain? Seperti, betapa tak berdayanya ia menyelesaikan masalah atau ketidak berdayaannya dihadapan kekuatan ekonomi pada pemodal? Mungkin saja tangisan malu karena sebagai pemimpin negeri masih belum bisa menuntaskan apa yang seharusnya dituntaskan.

Dalam buku berjudul “What Americans Know About Politics and Why It Should Matter”, Delli Carpini dan Scott Keeter punya pandangan bahwa sebuah emosi apalagi air mata dari seorang politisi yang terepresentasi di media, tidak hanya membantu membangun cerita, tetapi juga memberi isyarat (cue) kepada masyarakat yang sudah atau belum memperhatikan kinerja politisi. Dengan kata lain, keberadaan sebuah ekspresi emosi yang datang dari politisi, pasti akan selalu menarik perhatian rakyat, sehingga politisi itu diteliti balik kinerjanya. Leo Benedictus, penulis dan peraih penghargaan The Guardian menyatakan, bagi politisi air mata bukanlah bentuk kelemahan sama sekali. Hal ini bisa menjadi sebuah “senjata” tersendiri untuk mendorong personalitasnya sebagai sosok yang populer dan tulus di masyarakatnya. Imam Ibnul Qayyim membagi 10 macam linangan air mata (tangisan). Ada tangisan kasih sayang, tangisan takut atau khawatir, tangisan cinta dan rindu, tangisan gembira dan bahagia, tangisan terkejut karena beban berat, tangisan sedih, tangisan lemah dan tidak mampu, tangisan kemunafikan, tangisan palsu dan tangisan solidaritas.

Dari 10 macam tangisan tersebut bisa dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu tangisan yang berasal dari hati dan tangisan sebatas linangan air mata. Tangisan sebatas linangan air mata adalah tangisan kemunafikan, tangisan palsu atau sekedar solidaritas karena orang lain menangis. Sebaliknya, tangisan kekhawatiran seorang pemimpin sebagaimana yang diperlihatkan Umar bin Abdul Aziz adalah linangan air mata yang mengucur dari lubuk hati yang paling dalam. Kedalaman hati tentu tidak ada yang bisa mengukur.

Namun, apakah sebuah tangisan hanya sebatas linangan air mata atau bukan, kita bisa melihat dari perilakunya. Dalam konteks kepemimpinan, tangisan tulus sang pemimpin terukur dari kesungguhannya dalam upayanya meretas problema yang dihadapi masyarakatnya. Jadi, biarkanlah air matamu tumpah. Air matamu tumpah tidak harus menunggu saat ada masalah, Yang Mulia,TUNTAS kan!

*Akademisi





Artikel Rekomendasi