Kenapa Kebanyakan Dari Kita Cuma Bisa Berkomentar, Tapi Sedikit Sekali Yang Berani Memulai Menulis?



Kamis, 05 Desember 2019 - 11:09:48 WIB



Yulia Nuraini
Yulia Nuraini

Oleh: Yulia Nuraini*

 

Mengawali tulisan ini saya ingin mengoreksi tulisan saya yang terbit di jamberita hari rabu tanggal 04 Desember 2019 pukul 10:46 WIB tentang “stop budaya menyontek”, pada paragraph kedua terdapat bunyi hampir 75% siswa/I sederajat menjawab soal ujian menggunakan alat bantu atau biasa di sebut “cepekan”.

Saya terlupa menyebut sumber dari mana angka tersebut, oke baik. Hadirnya tulisan ini juga sekaligus untuk merespon tulisan pada paragraph tersebut. Data tersebut saya dapat dari beritagar.id dengan tulisan Ika Ardiana terbit 15.12 Jum’at 18 Mei 2018 dengan judul “Kenapa ada siswa yang menyontek”. (https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/kenapa-ada-siswa-yang-menyontek).

Data itu menarik menurut saya berawal dari sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Josephson Institute’s Center for Youth Ethics pada tahun tahun 2012, mengungkapkan bahwa lebih dari separuh siswa sekolah menengah mengaku telah melakukan kecurangan dalam ujian, sementara sebanyak 74% menyalin pekerjaan rumah temen mereka.

Kesalahan saya yang pertama adalah, tidak menyertakan sumber, kedua adalah saya salah menuliskan tahun. Saya menulis tahun terbit tulisan dari Ika Ardiana bukan tahun hasil laporan yang dikeluarkan oleh Josephson Institute’s Center for Youth Ethics yaitu pada tahun 2012.

Secara umum tulisan itu adalah akumulasi dari produk pemikiran saya sendiri, data yang saya tampilkan bukan data dari tempat saya sekolah atau tempat saya mengajar, kalau memang iya ada prilaku mencontek pada siswa/i terus kenapa dan siapa yang salah? Berarti harus sama-sama kita perbaiki jika ada pelanggaran, bukankah begitu?

Dari awal tulisan saya terbit murni ingin bermimpi jadi penulis, minimal berangkat dari sebuah opini meskipun saya lupa mencantumkan sumber mengenai survei diatas, setidaknya saya bisa meluruskan kembali dengan tulisan lagi. Dari pada saya sekedar berkomentar liar tanpa bisa membangun sebuah narasi opini.

Kita Cuma Bisa Berkomentar

Diakui atau tidak, kebanyakan kita orang Indonesia hanya bisa berkomentar liar. Buktinya jika ada suatu hal atau fenomena yang lagi trend dan booming di media sosial kita ikut-ikutan berkomentar tanpa tabayun, parahnya lagi kadang kita ikut-ikutan menshare berita tersebut walaupun setelah di verifikasi ternyata itu berita hoax.

Sebenarnya itu semua bisa dilawan dengan memperbanyak sumber-sumber bacaan agar kita terhindar dari perilaku tersebut, salahkah berkomentar? Tidak salah, asal sesuai pada tempat dan situasinya.

Kedepan yang jelas saya sebagai penulis pada opini saya sebelumnya dengan judul “Stop Budaya Menyontek” lebih berhati-hati dan harus menyertakan sumber. Alangkah baiknya komentar-komentar dari luar saya jadikan pelajaran agar lebih giat lagi menulis.

Semua apa yang saya tulis adalah murni dari gerakan hati saya untuk memulai menulis walaupun masih banyak sekali kekurangan, setidaknya menurut saya itu lebih baik jika sekedar berkomentar yang tidak jelas asal usulnya.

Penduduk bangsa ini adalah penduduk yang santun dan ramah serta mengedepankan dialog, jika ada opini yang salah data mari kemukan dengan gagasan yang lain dengan bentuk opini juga, agar budaya literasi terus berjalan berkesinambungan dan penulis pemula seperti saya bisa mengambil pelajaran di dalamnya, salam literasi.(*)

 

Penulis adalah: Mahasiswi STIE Syariah Al-Mujaddid, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Anggota Komunitas Menulis Al-Mujaddid.*










loading...