Stop Budaya Menyontek



Rabu, 04 Desember 2019 - 10:46:05 WIB



Yulia Nuraini
Yulia Nuraini

Oleh: Yulia Nuraini*

 

Perilaku menyontek merupakan suatu kegiatan atau tindakan yang dilakukan secara sengaja dengan menggunakan cara curang untuk mendapatkan nilai yang bagus tidak peduli itu salah atau benar yang difikirkannya hanya bagaimana menghindari nilai yang kurang memuaskan supaya tidak kena marah orang tua pastinya tidak remedial lagi begitu fikirnya!.

Pada bulan Desember 2018 lalu, ketika siswa/i SMA sederajat melaksanakan ujian semester Ganjil, hampir 75 persen mereka menjawab soal ujian menggunakan alat bantu atau biasa disebut “cepekan” dikalangan para pelajar seperti menggunakan HP, menyalin kembali buku catatan dikertas-kertas kecil lalu diselipkan disaku, kursi meja tidak luput dari coretan catatan jawaban, bahkan yang lebih mirisnya lagi tangan dan kakipun menjadi sasaran untuk menyimpan contekan.

Budaya menyontek ini timbul sudah lama sekali bahkan bisa dikatakan sudah turun menurun dikalangan pelajar, hal ini dominan terjadi disebabkan oleh rasa malas yang dimanja-manja untuk tidak mau belajar membuka buku kembali ketika dirumah senangnya sistem kebut semalam, lebih senang bermain game, menghabiskan waktu dengan bermalas-malas.

Kurangnya perhatian orang tua terkadang menjadi faktor anak bersifat pesimis atau takut gagal, lebih mengandalkan alat bantu, dorongan atau ajakan teman untuk tidak belajar lebih suka bergantung kepada teman dan berharap akan mendapatkan contekan di semua ujian.

Untuk menghilangkan budaya menyontek seharusnya pihak sekolah lebih tegas lagi kepada siswa/i yang ketahuan melakukan hal tersebut, diberikan peringatan, teguran bahkan sangsi sekalipun untuk membuat efek jera kepada pelajar yang ketahuan menyontek sehingga tidak mengulangi kembali perbuatannya.

Pemberian apresiasi kepada siswa/i yang berprestasi sudah biasa di dengar mungkin pemberian hadiah atau semacamnya kepada murid yang jujur dalam mengerjakan ujian meski berapa pun hasilnya ini akan menimbulkan sikap percaya diri, optimis dan tidak bergantung lagi kepada orang lain. Jika hal ini dilakukan tidak menuntut kemungkinan kebiasaan menyontek akan perlahan hilang di kalangan pelajar Indonesia.

Nilai yang didapatkan bukan hasil kerja keras sendiri sebenarnya tidak memberikan rasa puas dalam dirinya karena tidak murni hasil pemikirannya dan kerja keras selama belajar tidak bisa dilihat. Manisnya menuntut ilmu mustahil akan dirasa, perjuangan, pengorbanan waktu yang diberikan akan terasa sia-sia jika tidak mulai dari sekarang kita rubah, kapan lagi? mindset pemikiran untuk lebih maju lagi dan membanggakan orang tua.(*)

 

 Penulis adalah: Mahasiswi STIES Al-Mujaddid, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Anggota Komunitas Menulis Al-Mujaddid*







loading...