Tanah Terlantar, Humo/Kerbo Dan Plali  



Sabtu, 30 November 2019 - 12:47:05 WIB



Oleh: Musri Nauli*

 

Marga Bukit Bulan, Marga Batin Pengambang dan Marga Peratin Tuo mempunyai keunikan didalam mengelola hutan dan tanah. Walaupun ketiga marga dikenal sebagai ulu Batanghari dalam lanskap yang sama, namun keunikan tidak dapat ditinggalkan.

Untuk memudahkan pembahasan maka penulis membagi 3 kategori. Pertama “tanah terlantar’. Kedua pengaturan tentang humo (tanah), hewan dan buah-buahan. Ketiga tentang hukum “buang”.

Disebut tanah terlantar didalam Marga Bukit Bulan sebagai “ulu” Batang Limun disebutkan didalam seloko Ayam Benci disangkak. Tinggal telur. Merayang buah di kebango. Harta Jauh diulang-ulang. Harta Dekat disenano.

Istilah “penano” juga dikenal didalam Marga Peratin Tuo didalam seloko “Jauh tidak dipenano. Dekat tidak disiang. Seloko ini mirip dengan Desa Pulau Tengah (Pungguk 6 Marga Sungai Tenang) yang menyebutkan “harta jauh tidak dipenano. Harta Dekat tidak disiang”.

Kategori “tanah terlantar” juga disebutkan “Sosok jerami, tunggul pamareh didalam Marga batin Pengambang. Ada juga menyebutkan “Sosok jerami, tunggul pemareh. Kalah durian dek benalu. Ilang Mentaro hilang tanah. Ilang tutur ilang penano”

Istilah “jerami” atau “tunggul pemareh” juga ditemukan didalam Marga Sumay “Sesap rendah. Tunggul pemarasan”. Atau “sesap rendah. Jerami tinggi”.

Diberbagai tempat kategori “tanah terlantar” sering juga “sesap mudo”, sesap tuo”, belukar mudo, belukar tuo, belukar lasah. Di Marga Peratin Tuo dikenal “perimbun”.

Ketiga Marga juga mengenal “jambu kleko”. Tanda diatas tanah sebagai bentuk perawatan. Istilah “jambu kleko” juga dikenal Marga Sungai Tenang “hilang celak jambu klelo”.

Selain itu istilah “jeluang” dikenal Marga Peratin Tuo. Istilah “jeluang’ dapat ditemukan di Marga Sungai Tenang.

Penghormatan terhadap tanaman disebutkan didalam Seloko Marga Bukit Bulan “”Durian bapanjak. “Kepayang tidak boleh ditutuh. Sialang dak boleh ditebang”. Atau “Durian bapanjak. Buah masak sama diadang.

Sedangkan Marga Batin Pengambang menyebutkan “Buah Juluk Jangan dipanjat. Buah Panjat jangan ditutuh. Buah tutuh jangan ditebang.

Pengaturan tentang “humo bekandang siang. Ternak bekandang malam” didalam Marga Bukit Bulan disebutkan “Padi Bapaga Siang. Kebau Bakandang Malam”.

Sedangkan Marga Batin Pengambang menyebutkan Undang – undang pagar sawah. Sawah bakandang siang. Tonak bakandang malam. Siang bapaga tegak malam bapaga rebah.

Terhadap para “ingkar” menerima sanksi yang didalam hukum adat Jambi sering disebut “plali” didalam seloko “buangan dalam negeri” atau “pusako mencil. Umo betalang jauh” didalam Marga Peratin Tuo disebutkan “Ingkar pulang ke bathin, kereh pulang ke rajo”. “bejalan melintang tapak, panjang tanduk naik menggileh, mentang-mentang tanduk panjang nak menjadi orang celako dalam negeri”.

Istilah “buangan dalam negeri”, “ingkar pulang ke batin. Kereh pulang ke rajo’ menggambarkan bagaimana “tidak taatnya” untuk mematuhi sanksi adat.

Sehingga hukum “plali” sering disebutkan didalam seloko “tinggi tidak dikadah. Rendah tidak dikutung. Ditengah dimakan kumbang”.

Atau sering juga disebutkan dengan “be ayam kuau, bekambing kijang, bekalambu rosam, bekasua gambi’. Sehingga tidak salah kemudian disebutkan sebagai “buangan dalam negeri”. (*)

 

*Advokat. Tinggal di Jambi









loading...