JAMBERITA.COM- Sejumlah desa di Kecamatan Dendang Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) dikepung asap. Setidaknya ini kami rasakan saat memasuki beberapa desa diantaranya Desa Catur Rahayu dan Desa Jati Mulyo pada Kamis Siang (5/9/2019). Wilayahnya hanya berjarak sekitar 90 menit dari Kota Jambi dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Berdasarkan pantauan, kabut asap dengan partikel abu kebakaran berterbangan dan begitu terasa saat kita memasuki kawasan perkebunan milik PT ADGA.

Lahan yang terbakar
Bahkan saat sudah berada di luar lokasi yakni di wilayah kantor Camat Dendang, kondisi serupa masih terasa.
Kebakaran sendiri terjadi di salah satu lahan yang berbatasan langsung dengan perkebunan milik PT ADGA. Hanya ada pembatas Jalan dan kanal yang memisahkannya.
Asap pekat begitu terasa. Meski tak terlihat api membara di atas lahan yang sudah menghitam ini. Sepanjang mata memandang hanya kepulan asap putih yang terlihat. sesekali angin yang berubah arah bisa membuat asap langsung menampar muka yang berada di lokasi ini.
“Memang Cuma asap lagi. Tapi didalam itu terbakar,” kata salah satu petugas Damkar Pemkab Tanjabtim sambil terus menyemprotkan air dari selang yang terhubung dengan satu mobil damkar.

Petugas Pemadam kebakaran sendiri hanya mengenakan masker ataupun sebo serta kacamata untuk menghalau asap tebal. Tidak ada pelindung lain. Padahal mereka bisa menghabiskan waktu di lokasi ini hingga 12 jam. Tidak hanya sehari, mereka sudah berhari-hari berada di lokasi. Ancaman kesehatan sendiri sudah dianggap sebagai risiko pekerjaan yang harus mereka terima.
Petugas ini mengaku sudah sebulan berjibaku di lokasi ini. Namun tidak di satu lokasi. Terkadang di Berbak, Mendahara dan di Dendang. Sementara tim pemadam sendiri ada dari perusahaan, TNI/POlri, Masyarakat Peduli Api, Mandala Agni dan warga lainnya yang peduli.
“Kami bergantian. Biasanya agar tidak bosan, dipindah-pindah ke lokasi lain. Seperti di Berbak, ke Mendahara dan kesini,” katanya yang enggan namanya ditulis.
Saat ditanya soal kondisinya yang sudah berhari-hari berada di kepulan asap, Ia mengaku hingga kini kondisi baik-baik saja. “Alhamdulillah baik, inilah pengabdian sudah menjadi risiko pekerjaan khususnya di Damkar,” katanya sambil memandam lahan yang terbakar.
Ia sendiri tidak memiliki keluhan khusus meski sudah berhari-hari berada di kepulan asap. Selain radang tenggorokan. “Itu hal yang biasa,” ucapnya santai.
Terkait makan dan minum selama di lokasi, Ia mengaku tersedia. Dimana, pihak perusahaan juga ada yang menyediakan. Biasanya jika ingin istirahat mereka kembali ke barak Damkar.
Apakah ada pemeriksaan kesehatan khusus? “Ada petugas yang mengukur tensi dan memberi vitamin,” lanjutnya. Namun, tidak ada fasilitas pemeriksaan general chek up terhadap kesehatan mereka.
Soal tambahan gizi khusus, Ia mengaku ada susu dan sirup yang diberikan kantornya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan sensor modis tertanggal 4 September, di Provinsi Jambi terdapat 62 hotspot atau titik api. 50 diantaranya tersebar di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Lalu sisanya terpantau di Kabupaten Muarojambi 5 hotspot, Tanjung Jabung Barat 3 hotspot, Sarolangun 2 hotspot, dan di Bungo dan Merangin masing masing satu hotspot.
Dari 50 hotspot yang terpantau di Tanjabtim, 37 diantaranya tersebar di Kecamatan Dendang. Sisanya 13 hotspot di Kecamatan Sadu. Dendang merupakan lokasi Karthutla terparah, yakni di Desa Catur Rahayu dan Desa Jati Mulyo.(sm)
Perkuat Sinergi, Bupati Fadhil Arief Hadiri Rapat Kesiapsiagaan Karhutla
Kanwil Kemenkum Jambi Harmonisasikan Rancangan Perbup Tentang Perjalanan Dinas Tanjabtim
BMKG Jambi Rilis Prediksi Musim 2026: Kemarau Tahun Ini Lebih Kering Dan Lebih Panjang
Diduga Soal Pemalsuan Tanda Tangan, Bendahara Demokrat Sarolangun Lapor ke Polisi
Dampingi Kunjungan BNPB Pusat, Wabup Minta Bantuan Peralatan Pemadaman Karhutla




