Pasca Demo Ratusan Mahasiswa hingga Mogok Kuliah, Begini Klarifikasi BPH Adiwangsa Jambi



Jumat, 05 Juli 2019 - 14:52:34 WIB



JAMBERITA.COM - Pasca aksi demonstrasi mahasiswa pada Kamis (4/7/2019), ancaman mogok kuliah ratusan mahasiswa Universitas Adiwangsa (UNAJA) Jambi benar benar terbukti.

Pantauan jamberita.com di kampus Universitas Adiwangsa (UNAJA) yang berlokasi di Jalan Sersan Muslim RT 24 Thehok Jambi Selatan itu, Jum'at pagi (5/7/2019), suasana terlihat sepi. Tidak satupun mahasiswa yang beraktivitas di sana. "Iya tidak ada (mahasiswa) yang masuk," ujar salah satu penjaga kampus.

Menyikapi itu, Badan Pelaksana Harian (BPH) UNAJA, Dr Eko Kuswandono bersama beberapa rekannya hari ini menggelar konferensi pers di ruang utama Gedung Universitas tersebut.

Ia mengatakan persoalan ini hanya miskomunikasi.

Dirinya mengatakan dari permasalahan dan beberapa tuntutan mahasiswa serta nekat meninggalkan kampus itu akan mereka tindaklanjuti. Tentunya sesuai dengan peraturan yang ada.

"Masalah pihak kampus akan men-DO mahasiswa itu tidak ada, tidak pernah kita menyampaikan untuk men-DO, melainkan akan memberikan scorshing terhadap mahasiswa tertentu," ungkapnya.

Beberapa mahasiswa tertentu tersebut diduga telah menggalang beberapa teman mahasiswa lain sehingga terjadinya aksi demo yang sempat berlangsung dramatis histeris antara para mahasiswa dengan beberapa dosen sebelum mereka meninggalkan kampus.

"Permalasahan ini muncul pada tanggal 21 Mei 2019 lalu melakukan kegiatan diluar kampus dan dia melaksanakan demo di KPU dengan membawa atribut kampus, dia tidak izin ke kampus makanya kita panggil, supaya tidak melakukan demo di KPU," sebutnya.

Hanya saja, mahasiswa merasa tidak puas sehingga mengajak mahasiswa yang lain untuk berkolaborasi membuat beberapa tuntutan tuntutan.

Salah satunya menuntut Unaja Kreatif yang sudah ditetapkan oleh kampus tersebut menjadi BEM.

"Rasanya tidak pas untuk di lingkungan kampus, salah satunya berhubungan dengan Unaja Kreatif yang kita ciptakan disini itu sebagai mahasiswa berkreasi setingkat BEM, rasanya tidak ada masalah, tapi diluar sana (universitas lain) ada BEM, maunya seperti itu," terangnya.

Dengan tuntutan itu pula, sebelumnya kata Eko, pihak kampus sudah mengajak berdiskusi terkait dengan permasalahan agar dirubahnya Unaja Kreatif ke BEM.

Nmun mahasiswa malah menolak dan ngotot untuk dirubah.

"Mereka menolak, pokoknya harus dirubah, ini salah satu tuntutan yang notabenenya yang menjadi pemberatan bagi kita, apalagi tuntutan untuk turunnya pejabat. Mahasiswa dididik disini, bukan untuk menurunkan pejabat," ungkapnya.

Eko menegaskan, tidak ada persoalan bagi mahasiswa dalam memberikan informasi kepada pihak kampus apabila ada dugaan penyelewengan atau melanggar aturan tentunya yang dilengkapi dengan bukti.

"Silahkan saja, tapi mana buktinya kalau dia melanggar hukum, melanggar pidana ya tentunya kita proses dari segi hukum, baru kita tentukan, itu ada tahapan tahapan dalam menyelesaikan kasus pejabat," ujarnya.

Kemudian, persoalan pelayanan mengenai Laboratorium Farmasi dan Gizi di universitas itu, sebut Eko tentunya mereka pihak kampus terus berupaya untuk meningkatkan dan melengkapi berbagai fasilitas sarana dan prasarana.

"Ingat bahwa lembaga pendidikan ini baru dua tahun berdiri dan notabenenya by proces untuk melengkapi fasilitas, begitu kita informasikan juga, mereka nggak mau, nggak mau pokoknya mau sekarang, lho gimana, harus ada balance nya, jangan pokoke pokoke, nggak bisa," jelasnya.

Mahasiswa melakukan aksi demo kemudian meninggalkan kampus untuk mogok kuliah, ujar Eko itu tentunya bukan suatu harapan dari pihak kampus.

"Ketika saya memberikan klarifikasi, mahasiswa tidak terima, keluar dia dari kampus, ya silahkan, harapan kita tidak seperti itu. Harapan kita mereka dapat belajar dengan baik di sini," tegasnya.

Mereka berharap seluruh mahasiswa yang dididik di Unaja dapat menjadi harapan bangsa dan mampu memberikan apresiasi kreatif dan siap bersaing dalam bekerja ketika lulus dari Unaja.

"Tentunya mahasiswa yang disinyalir memprovokasi kita berikan sanksi scorshing bukan di Drop Out. Tujuannya supaya mereka paham di Unaja itu punya aturan," ujarnya.

Kedepan, sebut Eko Unaja yang punya aturan itu dapat ditegakkan dengan baik dan diharapkan mahasiswa dapat mematuhi standar standar yang sudah ditetapkan oleh pihak kampus.

Bagi mahasiswa yang mogok kuliah, pihak kampus terbuka untuk menerima kembali dalam melakukan proses belajar mengajar.

"Bukan merubah semua sendiri tidak, ada standar standar yang harus dilalui bagi seorang mahasiswa, ini harapan kita tentunya bagi mahasiswa yang kembali lagi kesini ya akan kita terima, kecuali ada 7 orang yang kita Scorshing," pungkasnya.(afm)



Artikel Rekomendasi