Politik Pasca Pemilu, Cinta “Tanah Air” dan Persatuan Indonesia



Jumat, 28 Juni 2019 - 07:24:56 WIB



Wandi
Wandi

Oleh: Wandi

Pasca Pemilu umum yang dilaksanakan 17 April 2019 hingga saat ini masih menyisahkan pekerjaan rumah besar bagi segenap para politikus dan segenap orang orang yang berkepentingan didalamnya. Sampai sekarang baik dari kubu pemerintah maupun kubu oposisi masih menggunakan otot kuatnya disbanding nalar kepala dingin demi egoism kekuasaan dan nafsu memerintah untuk menjadi penguasa pada level Negara lima tahun yang akan datang. Patut diakui isu kecurangan, kemudian konflik 22 mei sampai pada enggan menahan diri ikut memperkeruh konstestasi dan dinamika politik pasca pilpres.

Akibatnya berbagai cobaan datang silih berganti semenjak dilaksanakannya pemilu serentak ini,mulai dari banyak nya petugas KKPS yang meninggal, sampai pada bergulirnya bola panas sengketa pemilu akibat saling klaim kemenangan antar sesama calon khususnya pada tingkat eksekutif (calon presiden dan wakil presiden). Prof. Mahfud M.D, Pakar Hukum Tata Negara menyatakan “Jangan sampai persatuan dan keutuhan bangsa dikorbankan demi kepentingan politik yang ingin berkuasa dalam lima tahun kedepan pasca pemilu. Berfikir positif bahwa setiap pemimpin memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing bisa menjadi peredam isu yang muncul akibat perbedaan antara dua kubu yang bertarung dalam Pilpres”.

Berakhir di MK

Setelah beberapa hari ini mengikuti perkembangan sengketa Pemilu 2019, ada baiknya antar sesama paslon dan pendukung saling menghargai keputusan di MK terserbut, dan berharap saling klaim kemanangan, isu saling curang serta semuan drama panjang pemilu 2019 berakhir setelah ketok palu akhir MK. Selain itu kita juga berharap pada tatanan akar rumput sampai pada politikus agar mereka saling menahan diri, berjiwa kesatria agar tidak menggiring opini kearah negatif seperti isu curang dan hoax yang akhir-akhir ini sangat kencang beredar.

Padahal menurut Max Bader (2012), kecurangan yang terjadi bisa dihentikan oleh aktor-aktor politik yang memiliki kemauan untuk memperbaiki kualitas pemilu. Tentu hal seperti ini juga hanya tanggung jawab dari para politikus, tetapi kita semua rakyat Indonesia, agar lebih dewasa dalam menyikapi dinamika politik yang berubah.  

Mengedepankan Cinta “Tanah Air”

            Beberapa kata bijak mengatakan yang lebih penting dari Politik itu adalah cinta. Cinta dalam arti menyangi satu sama lain, mengasihi satu sama lain serta peduli antara satu dan yang lain sesama anak bangsa. Dari rasa cinta tadi pasti timbul kepedulian rasa memiliki dan rasa tanggung jawab dan berfikir serta bertindak kemana arah dan tujuan bangsa ini kedepan. Dengan mengedepankan rasa cinta dari pada egoisme politik demi kekuasan yang sebentar tadi, diharapkan agar masyarakat Indonesia lebih aman dan tentram.

            Selanjutnya kita bisa belajar dari Negara-negara di Timur Tengah yang hingga saat ini terus dilanda konflik kekuasaan, bahkan lebih jauh dari itu mereka saling berkelahi terus-terusan demi membela kelompok politik pilihan mereka, akibatnya negera mereka terus mengalami konflik berkepanjangan dan tidak tau kapan semua derita itu akan berakhir. Ini semua bisa jadi pengalaman berharga buat rakyat Indonesia, dari sana kita belajar, bahwa hendaknya elit polik dan masyarakat saling menahan diri, mari kita tebar rasa cinta dan saling memiliki. 

Menurut Kahil Gibran: Cinta adalah satu-satunya kebebasan didunia karena cinta itu membangkitkan semangat hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alamipun tidak bisa mengubahnya termasuk rasa cinta air “Indonesia”. Dengan adanya rasa cinta tanah air. Kita bisa mencintai bangsa dan negera ini, bersedia mengabdi, berkorban memelihara persatuan dan kesatuan, melindungi tanah air dari segala ancaman, gangguan dan tantangan yang dihadapi oleh negara, atau dengan kata lain cinta tanah air adalah munculnya rasa kebanggaan, rasa kecintaan, rasa memiliki, rasa menghargai, rasa menghormati, rasa kesetian dan kepatuhan yang dimiliki oleh setiap warga negara terhadap negaranya atau tanah airnya.

Dengan selesainya perhelatan besar pesta demokrasi Indonesia (pemilihan umum), mari kita tingkatkan lagi rasa cinta tanah air kita, agar persatuan yang dulunya terkoyak akibat beda pilihan politik agar dapat bersatu kembali, mari kita dan kita perbaiki sama-sama seperti sepenggal kata diatas bahwa yang lebih penting dari politik adalah rasa cinta. Cinta tanah air, bangsa dan Negara.

Persatuan Indonesia

Bangsa yang besar ini dibangun oleh para pendahulu yang penuh dengan perjuangan, pengorbanan bahkan nyawa menjadi taruhan mereka. Mungkin kita masih sama-sama ingat Jendral Soedirman (1916-1950) yang merupakan salah satu pahlawan nasional yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia, sehingga dapat dikategorikan sebagai tokoh yang memiliki nama besar. Jendral Soedirman juga adalah pahlawan nasional yang berjuang pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia dicatat sebagai Panglima dan Jendral Republik Indonesia yang pertama dan termuda. Jendral Soedirman terkenal karena kegigihannya dan cocok untuk dijadikan panutan untuk pemuda sekarang. Bahwa pada saat itu, ia tetap berjuang memimpin pasukan walaupun dalam keadaan sakit. Sebagai penghargaan atas jasa dan pengorbanannya, Jendral Soedirman mendapat sebutan Bapak Tentara Nasional Indonesia.

Selain Jendral Soedirman, kita juga bisa belajar dari salah satu wujud nasionalisme masa lalu dengan dibentuknya Boedi Oetomo pada tahun 1908, yang menjadi awal kebangkitan nasionalisme bangsa Indonesia oleh kaum cendekiawan dan kaum muda. Selain berdirinya Boedi Oetomo, yang menjadi tonggak perwujudan rasa nasionalisme bangsa Indonesia adalah semangat Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme yang bertekad kuat tanpa memandang perbedaan agama, ras, etnik, atau bahasa. (Dede Rosyada 2003)

Harusnya dari semua pelajaran masa lalu kita bisa belajar dari perjuangan mereka, bahwa usaha mendirikan dan mempertahankan bangsa ini tidaklah muda, maka benar kata Ir. Soekarno “Perjuanganku lebih mudah, karena mengusir penjajah, Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Sepertinya pepatah ini masih berlaku dan harus dijadikan pelajaran untuk refleksi kedepan, agar huru-hara politik pasca pemilu bisa kembali pulih (saling merangkul), dengan menghilangkan egoisme berkuasa, politik identitas yang mengarah kepada perpecahan harus hilang dari bangsa Indonesia, berangkat dari itu besar harapan kita kedepan semoga Indonesia lebih baik lagi.(*/sm)

*Dosen dan Pendiri Komunitas Menulis Al-Mujaddid di STIES Al-Mujaddid, Kabupaten, Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.

 










loading...