Tengarai Ada Permainan di Tender, INKINDO Juga Pertanyakan Kinerja ULP Jambi



Sabtu, 26 Mei 2018 - 13:02:10 WIB



Zulkifli Lubis
Zulkifli Lubis

JAMBERITA.COM - Kinerja Unit Pelayanan Pengadaan (ULP) Jambi kembali dipertanyakan. Setelah Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi (LPJK) Provinsi Jambi, kali ini giliran  Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Provinsi Jambi juga bersuara.

Lembaga ini menilai adanya “permainan’ di tubuh ULP dalam proses lelang jasa konsultan. Menurut Ketua INKINDO Provinsi Jambi, Zulkifli Lubis,  persaingan jasa konsultan saat ini kurang sehat.

Padahal di dalam dunia konsultan ada parameter dan ada tolak ukur. Untuk menilai suatu evalulasi peserta lelang jasa konsultan, yang dilihat pertama administrasi, kedua teknis dan ketiga biaya. “Kalau misalnya ini pilihannya yang dimenangkan adalah biaya yang terendah, kita berlomba-lomba untuk sebagaimana pemenang, tanpa memperhatikan mutu pelaksanaan pekerjaan, karena pekerjaan jasa konsultan itu produknya pemikiran, hasil seni pekerjaan kontruksi,” kata Zulkifli.

Dia juga mengungkapkan, ada badan perusahaan konsultan yang membanting penawaran hingga 24 persen, “Itu fantastis, kita bermain berani 3-5 persen, 24 persen ada yang menjadi pemenang di ULP, ini merusak standar harga. Kita harus memperhitungkan tenaga biaya ahli, tenaga operasional dan biaya mobilisasi,” kata Zulkifli Lubis.

Ia menilai ULP Provinsi diduga mengkondisikan satu perusahaan jasa konsultan sebagai pemenang lelang.

“Saya lihat ini, perusahaannya itu-itu saja, istilah saya itu “Itus” itu terus, apa tidak ada lagi jasa konsultan yang lain, di asosiasi saja ada 118 konsultan yang berbadan usaha, apa semuanya tidak memiliki kompetensi,” katanya.

Apakah ULP diduga memonopolikan satu perusahaan konsultan saja?

“Semacam itulah, kita pernah mengundang ULP untuk audiensi terkait persoalan tranparansi lelang, tapi mereka tidak hadir, seperti ada sindrom ketakutan. Padahal sekelas BPK, BPKP, aparat keamanan saja hadir ketika kita undang audiensi,” kata Zulkifli.

“Kalau bisa ketemu apa yang menjadi persoalan mereka (ULP) bisa disampaikan, begitu juga jika kami ada persoalan kami sampaikan. Ada feedback, itu yang kami harapkan,” katanya lagi.

Permainan lain yang duilakukan ULP dalam lelang jasa konsultan, menurut Zulkifli, terlihat pada penggunaan tenaga ahli yang tidak pada klasifikasinya.

“Tenaga ahli ini ada klasifikasinya. Mulai dari Muda, Madya dan Utama. Jadi kapan kita harus menggunakan Muda, kapan menggunakan Madya atau Utama, tapi ini tidak ada batasannya,” kata Zulkifli. (kj/sm)



Artikel Rekomendasi