Peneliti LIPI:  Jangan Hakimi Orang "Teroris" Karena Penampilan Fisik  



Sabtu, 28 April 2018 - 16:27:28 WIB



JAMBERITA.COM - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), M Hamdan Basyar, mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung menghakimi seseorang teroris hanya karena penampilan fisik.

Menurut dia, untuk mendeteksi seseorang apakah terkait dengan jaringan terorisme atau bukan, tidak bisa langsung dipastikan dengan melihat tampilan fisik saja.

“Secara fisik, sulit mengidentifikasi teroris. Celana cingkrang bukan berarti teroris,” katanya saat memberikan materi di Diskusi Penguatan Aparatur Desa/Kelurahan dalam Menangkal Radikalisme yang digelar BNPT-FKPT Provinsi Jambi di Odua Weston Hotel, Jambi.

Dalam pemaparannya, Hamdan mengajak semua stakeholder dan masyarakat untuk mengidentifikasi teroris dengan perilakunya. Perbedaan teroris dan bukan teroris bisa dilihat dari berbagai kriteria, bukan Cuma dengan tampilan fisik saja.

“Biasanya mereka menggunakan identitas palsu. Mereka juga biasanya tinggal tanpa izin dengan ketua RT atau kepala desa setempat,” ucapnya.

Di samping itu, kata dia, masyarakat juga bisa mengidentifikasi dengan melihat apakah seseorang itu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar ataupun tetangganya, dan apakah mereka membeli bahan kimia dalam jumlah besar. “Mereka juga biasanya menyebarkan informasi, buku, pamflet, ataupun video. Mereka juga sering mengunjungi situs atau website radikal,” katanya lagi.

Hamdan menilai perlu dilakukan hubungan komunikasi di tengah masyarakat. Terutama dengan membangun komunikasi positif dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan juga antar sesama warga.

“Perlu juga dibangun komunikasi antar warga melalui kegiatan keagamaan, dan lainnya,” ucapnya.

Di samping itu, Hamdan mendorong kepada pemerintah desa untuk membuat aturan, dan membat peta geografis, demografis, sosiologis, ekonomi dan politik untuk sebagai cara mengantisipasi bahaya radikal terorisme ini.

Pejabat BNPT, Letkol (Sus) Solihudin Nasution, yang juga menjadi pemateri menyampaikan bahwa saat ini terorisme melakukan kegiatannya sudah tidak offline lagi. Mereka sudah menyebarkan pahamnya lewat kegiatan online.

Menurut dia, saat ini semua orang punya potensi yang sama menjadi teroris. Bisa masyarakat biasa, pemuda, akademisi, hingga pejabat pemerintah.  “Sama seperti narkoba, semua orang berpotensi sama menjadi pengkosumsi narkoba,” katanya.

Sekarang ini, menurut dia, BNPT sudah punya alat teknologi untuk melihat konten-konten negatif yang mengarah ke radikal terorisme. “Ini sebagai cara untuk mengidentifikasi aktivitas mereka. Yang jelas, tugas ini adalah tugas bersama BNPT, stakeholder, dan masyarakat,” ucapnya.

Terkait kasus terorisme ini, kata Solihudin, sangat diperlukan sinergitas untuk menangkal dan menghadapinya. “BNPT tidak mampu menjangkau secara keseluruhan. Seperti kejadian di Bandung, orang itu pernah di Lapas. Tapi setelah keluar, masyarakat tidak mau tahu. Akhirnya dia melakukan aksi itu lagi,” ujarnya.

“Jadi hendaknya ketika para narapidana terorisme itu keluar dari Lapas, kita antar ke masyarakat. Kita antar ke bupatinya. Kita antar ke kepala desanya,” katanya lagi.

Yang jelas, kata Solihudin, sebenarnya para napi terorisme ini adalah korban. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka berbuat tindakan negatif tersebut.

“Diantaranya karena desakan ekonomi, ketidakpuasan pada pemerintah, rasa empati, mudah terpengaruh, dan juga bisa karena dendam,” ucapnya.

“Untuk diketahui saja, butuh waktu hanya lima menit saja untuk mengubah mindset seseorang menjadi radikal. Dan hanya butuh waktu dua jam saja untuk melakukan brainwash dan menjadikan mereka sebagai pengantin (peledak bom, red),” katanya lagi.

Sementara itu, Ketua FKPT Provinsi Jambi, Ahmad Syukri Saleh, mengatakan bahwa pada tahun ini ada lima kegiatan yang akan dilaksanakan FKPT di Provinsi Jambi. FKPT akan menyasar berbagai kelompok masyarakat sebagai cara untuk menangkal tumbuh kembangnya aksi radikal terorisme. “Kalau ada yang mencurigakan, asing, tidak lazim, itu perlu kita waspadai. Kalau semua bergerak, insya Allah Jambi bisa tenang dan damai,” katanya.

Ketua Panitia Pelaksana, Said Pariq, mengatakan bahwa dalam acara ini dihadiri pihak Dandim 0415/Batanghari, Polres Muaro Jambi, kepala desa/lurah, camat, Babinkamtibmas, Babinsa, dan pihak terkait lainnya se-Muaro Jambi.   Acara sendiri dibuka oleh Bupati Muaro Jambi dengan diwakili oleh Staf Ahli Bupati, Weno Iskandar. (*/sm)



Artikel Rekomendasi