Di Usianya yang masih tergolong muda, Amalia Kusyanti (27) termasuk perempuan yang tak pantang menyerah. Berawal dari tiga santri, lembaga pendidikan yang dikelolanya kini sudah banyak diminati.
JANGAN takut untuk berbuat. Apalagi untuk kebaikan. Semangat inilah yang membuat Amalia Kusyanti atau kerap disapa Kak Amel mendirikan lembaga pendidikan untuk anak-anak di Jambi.
Dengan semangatnya, kini Ia sukses dalam mendirikan Yayasan Rumah Surga Indonesia di Jambi.
Yayasan Rumah Surga Indonesia ini mulai berdiri pada tanggal 3 Agustus tahun 2015 lalu.
Saat itu rumah surga hanya memiliki satu program pembelajaran TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dan berbagai macam program ekstrakurikuler seperti Outbound Ceria, Outing Class, Senam (Sukses, Pinguin, Chicken Dance, Otak dan Mingkarafang), dan lain lain.
"Hal ini untuk memberi semangat dan agar para santri tidak bosan dalam belajar," ungkap Kak Amel dengan keramahannya kepada Jamberita.com, Jum'at (20/4/2018).
Awal proses berdirinya yayasan ini hanya dihuni oleh 3 orang anak santri. Dengan digagasnya program ekstrakurikuler berhasil menarik minat anak-anak lainya untuk mendaftarkan diri ke rumah surga.
Itu pun belum memiliki fasilitas yang begitu lengkap, seperti papan tulis, spidol apalagi meja belajar.
Tapi ini tak membuat Kak Amel dan santrinya mundur.
Begitu juga dengan kondisi ruangan yang sangat kecil membuat para santri tidak bisa meluruskan kaki saat belajar. Apalagi ketika melaksanakan ibadah salat berjamaah pun harus bersempit-sempitan.
Namun itu juga tidak membuat Kak Amel putus asa dalam mendidik anak anak agar dapat kelak membiasakan mereka dalam beribadah.
"Mereka (anak-anak, red) selalu bertanya, kapan saya (Kak Amel, red) merenovasi rumah? Agar mereka bisa belajar dengan ruang yang cukup luas," terangnya.
Beiring waktu berjalan, pada tanggal 15 Desember tahun 2015 ternyata yayasan ini mendapat apresiasi dari pemerintah setempat.
Ini dengan keluarnya surat Keterangan Izin Taman Pendidikan Rumah Surga dengan Nomor: 470/837/PG/XII/2015.
Dan pada tahun ini juga, semakin hari jumlah santri kian bertambah dengan berjumlah 45 orang, terus meningkat secara signifikan di setiap bulannya.
Untuk memenuhi segala kebutuhan lembaga, pada tahun ini juga Yayasan rumah surga yang terdiri dari 2 TPQ yakni Rumah Surga, Rumah Belajar Impian dan Nurul Ittihad ini, menetapkan SPP kepada setiap para wali santri untuk membantu berdirinya yayasan ini dengan biaya sebesar Rp 20.000,- rupiah.
Kemudian pada tahun 2016, yayasan ini terus berjalan dan selalu ada kemudahan hingga dapat mewujudkan impian yang selama ini yang dinginkan oleh anak-anak yang belajar disana.
Ia pun merenovasi bangunan tersebut agar bisa lebih nyaman dalam belajar.
"Dengan bertambahnya jumlah santri yang terus meningkat kami pun menambah jasa guru menjadi 3 orang tenaga pengajar, untuk memberikan hak yang berupa gaji kepada masing-masing tenaga pengajar, berdasarkan hasil musyawarah pengurus kami menaikkan jumlah SPP menjadi sebesar Rp 35.000,- Rupiah," ungkapnya.
Lalu pada bulan September tahn 2016 yayasan ini mulai dikenal di kalangan masyarakat sekitar.
Sehingga ada donatur yang menawarkan kepada yayasannya untuk siap menanggung semua SPP santri dan disesuaikan dengan jumlah santri yang ada.
Selanjutnya permintaan donatur juga untuk memperluas gerakan yayasan agar dapat membuka 2 titik pembelajaran yang bekerjasama dengan lembaga Rumah Belajar Impian yang beralamat di Jelutung Kota Jambi dan Nurul Ittihad yang beralamat di Air Hitam, Kebon IX, Sungai Gelam.
Donatur pun memberlakukan hal yang sama untuk 2 lembaga ini yaitu menanggung semua biaya SPP santri.
Dari kesempatan ini Kak Amel bersama pihak terkait dan bersama donatur pun bermusyawarah agar dapat membuka pendaftaran seluas luasnya kepada anak anak yang belum bergabung di rumah surga.
"Alhasil donatur menyetujui," katanya perempuan alumni Jurusan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), Fakultas Sastra dan Kebudayaan, UIN STS Jambi. Angkatan tahun 2009 - 2013 ini dengan sumringah legah.
Setelah proses penerimaan santri baru, total santri pun meningkat dengan sangat luar biasa menjadi 88 orang santri di Rumah Surga, 30 santri di Rumah Belajar Impian dan 50 santri di Nurul Ittihad. Ketiga TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) ini bersatu bersama, dengan struktur program kerja yang sama.
Kurang lebih satu tahun berjalan mendapat donatur dan mulai pesatnya kemajuan yang didapat yayasan ini, berdasarkan kesepakatan pengurus masing-masing TPQ pada bulan Maret 2017 kerjasama pun berakhir.
Tidak hanya sampai disitu, mereka dari Yayasan ini setelah berakhirnya kerjasama dengan donatur tersebut, mereka langsung bergerak melakukan pengajuan proposal ke sana kemari, sehingga di tahun ini mereka dapat memiliki berbagai macam fasilitas seperti papan tulis, ATK, meja belajar santri, sajadah, tikar, dan lain lain.
"Setelah tidak adanya donatur, kami mengembalikan ke sistem semula yakni memberlakukan SPP kepada para santri untuk menutupi segala keperluan lembaga. Luar biasa 40 persen dari jumlah santri terkikis. Kami bertahan dengan sistem seperti ini hingga akhir tahun 2017," katanya.
Dengan bermusyawarah bersama 3 TPQ di akhir tahun 2017 mereka kembali membuat sepakat bahwa mulai pada bulan Januari 2018 akan menggratiskan biaya SPP dan menerapkan sistem infaq sukarela dari para wali santri.
"Sistem ini berlaku hingga saat ini, Alhamdulillah jumlah santri pun meningkat kembali," jelasnya.
Sesuai dengan yang diharapkan, sistem baru ini semoga semakin bertambahnya para santri yang dapat menerima pendidikan keagamaan dengan harapan tidak adanya alasan lagi beratnya biaya SPP yang dibebankan. "Subhanallah," ucap Kak Amel untuk memenuhi hak para tenaga pengajar yang saat ini berjumlah 8 orang dari 3 TPQ bisa terpenuhi, dengan biaya infaq yang terhimpun dari para wali santri, namun memang jumlahnya masih sangat minim, dibawah rata-rata.
Masing-masing tenaga pengajar hanya menerima Rp.120.000,-/bulan dengan amanah mengajar 3 kali dalam satu minggu, mulai dari pukul 18.00 s.d. 20.00 WIB. Sebagai bentuk rasa terimakasih kepada tenaga pengajar. "Jika ada donasi masuk, maka kami akan memperioritaskan mereka terlebih dahulu, entahkah itu berbentuk donasi pakaian, Al-Qur’an, dsb," harapnya.
Atas rekomendasi dari Kepala Desa pula, Yayasan ini segera mengajukan Perizinan ke Kementerian Agama (Kemenag) untuk mendapatkan Izin Operasional. Mulai dari pengajuan berkas dan dua kali survei, pada tanggal 12 April 2018 yang lalu pihak Kemenag mengabarkan SK Perizinan Operasional Rumah Surga sudah keluar.
"Tim kita sudah berupaya ke Kemenag pada hari Senin, 16 April 2018 untuk mengambil SK tersebut, namun petugas Kemenag yang berwewenang atas penyerahan SK tersebut sedang bertugas diluar dan sampai hari ini perizinan itu belum kami dapatkan," ujarnya.
Mereka pun juga berupaya untuk mengurus Badan Hukum Lembaga melalui salah seorang Notaris yang bernama Fitri Yulia Sari,S.H.,M.Kn., dengan rasa syukur Akta Pendirian Yayasan, telah keluar dan telah didapatkan, nomor Akta Pendirian: No. 16, Tanggal 09 April 2018 dan SK dari Kemenkumham: AHU-0005236.AH.01.04.Tahun 2018.
Dalam pengurusan Akta Pendirian ini mereka begitu banyak mendapatkan kemudahan. Salah satunya Notaris bersedia untuk menerima biaya 50 persen diawal dan bertempo selama 3 bulan untuk pelunasan.
Total santri saat ini dari ketiga TPQ sudah berjumlah 140 santri dan sudah memiliki berbagai macam bentuk program pembelajaran intrakulikuler, mulai dari BBQ (Bina Baca Qur’an), Tahsin dan Tahfidz dan program ekstrakurikuler, Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa).
UntukTahfidz Pekanan dan SURGA For KIDS yang memiliki berbagai bentuk kegiatan baik itu Outbound Ceria, Outing Class, Senam (Sukses, Pinguin, Chicken Dance, Otak dan Mingkarafang), ataupun Kreativitas Dongeng bekerjasama dengan Kampung Dongeng Seloko Jambi.
Perjuangan masih terus berlanjut, setelah mendapatkan perizinan dari Kemenag, SK Notaris dan SK Kemenkumham. Kini pihaknya tengah berjuang menyusun Proposal Pembebasan Lahan, berharap yang nanti kedepannya akan dapat mendirikan Pondok Tahfidz-Yayasan Rumah Surga Indonesia.
Lahan tersebut terletak di Air Hitam, Desa Kebon IX, Kec. Sungai Gelam, Kab. Muaro Jambi. Seluas 30 Tumbuk, 1 Tumbuk seharga Rp50.000.000,- Jadi total yang sedang dikumpulkan saat ini guna Pembebasan Lahan tersebut sejumlah Rp 1.500.000.000,- (Satu Milyar Lima Ratus Juta Rupiah).
"Kepada seluruh instansi dan kepada para donatur yang dermawan bisa menyalurkan donasinya ke rekening BNI Syari’ah, No. Rekening : 0706114676 atas nama Yayasan Rumah Surga Indonesia, WA 085367888995," harapnya.

Bagi Amel pendiri yayasan ini, perjuangan memang butuh pengorbanan. Karena kalau perjuangan tanpa pengorbanan pasti hasilnya sia-sia begitupun sebaliknya.
Lalu apa keuntungan yang didapatkannya? "Sejauh ini mencukupi, ditambah lagi dari program privat. Ada-ada aja jalan Allah kasih rezeki. Yakin aja, buat kita yang berjuang untuk kebaikan, Allah jamin rezeki kita," katanya dengan semangat terus berjuang membangun karakter anak-anak yang berakhlak budi mulia, bermanfaat bagi nusa dan bangsa.(afm)
Rektor UBR Gandeng Bupati PALI, Siapkan Revolusi Kesehatan Tangguh & Program Magang ke Jepang
Danrem 042/Gapu Gandeng UNJA Perkuat Ketahanan Nasional dari Ruang Akademik
Wawako Diza Resmikan Genzhi Cafe and Resto, Perkuat Sektor Ekraf dan Serap Tenaga Kerja Lokal
Ini Hasil Pertemuan Kadishub Varial Adhi ke Menhub RI Soal Proyek RKA Palembang-Jambi
Anak Ini Dibujuk Fasha Baca Hapalan Al Quran, Ternyata Hapalannya Luar Biasa
Fasha Hadir di Tengah Ibu-Ibu Penjual Jamu, Warga: Sudah Pas, Lanjutkan


Danrem 042/Gapu di Kodim 0419/Tanjab : Jangan Buat Pelanggaran, Apalagi Judol!


