JAMBERITA.COM - RSUD Raden Mattaher Jambi mencatat 55 pasien bronkopneumonia selama tiga bulan terakhir, terdiri dari 40 pasien anak-anak dan 15 pasien dewasa. Di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), rumah sakit mengingatkan pentingnya mewaspadai gangguan pernapasan, terutama pada pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid.
Wakil Direktur Pelayanan (Wadiryan) RSUD Raden Mattaher Jambi, dr. Anton Trihartanto, menyampaikan bahwa berdasarkan data rumah sakit, pasien anak yang ditangani dengan diagnosis bronkopneumonia berjumlah 40 orang. Sementara itu, pasien dewasa tercatat sebanyak 15 orang.
Adapun untuk kategori ISPA, data yang disampaikan rumah sakit menunjukkan nihil pasien pada kelompok anak-anak maupun dewasa selama periode pencatatan tersebut.
“Pasien anak, bronkopneumonia 40 orang dan ISPA nihil. Untuk dewasa, bronkopneumonia 15 orang dan ISPA juga nihil,” demikian data yang disampaikan terkait pelayanan pasien gangguan pernapasan selama tiga bulan terakhir.
Anton juga menjelaskan bahwa penyakit penyerta atau komorbid dapat menjadi faktor pemberat pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan. Kondisi pasien perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk penyakit yang telah diderita sebelumnya, karena dapat memengaruhi tingkat keparahan dan penanganan medis.
"Secara medis, ISPA merupakan istilah untuk infeksi saluran pernapasan akut yang dapat menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah. Sementara itu, bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk pneumonia, yakni infeksi atau peradangan pada paru-paru yang terutama mengenai bronkus dan alveolus," katanya.
Dengan demikian, nihilnya pasien dalam kategori ISPA pada data rumah sakit tidak serta-merta berarti tidak ada pasien dengan infeksi saluran pernapasan. Bronkopneumonia juga merupakan penyakit infeksi pernapasan, tetapi dapat dicatat berdasarkan diagnosis spesifik yang ditegakkan oleh tenaga medis.
"Di tengah kondisi kabut asap karhutla, kualitas udara menjadi faktor yang perlu diperhatikan," ungkapnya.
Asap kebakaran mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu iritasi serta peradangan saluran pernapasan. Paparan asap juga dapat memperburuk asma dan penyakit paru yang telah dialami seseorang.
"Artinya angka 55 pasien bronkopneumonia yang tercatat di RSUD Raden Mattaher belum dapat langsung dikaitkan seluruhnya dengan paparan kabut asap. Data tersebut belum merinci penyebab masing-masing kasus maupun hubungan langsung antara diagnosis pasien dan kondisi kualitas udara. Karena data pasien perlu dipahami sebagai catatan pelayanan rumah sakit selama tiga bulan terakhir, bukan sebagai angka kasus bronkopneumonia yang dipastikan disebabkan oleh karhutla," ujarnya.
Menurut Anton, keberadaan penyakit penyerta menjadi perhatian karena pasien yang telah memiliki gangguan paru atau penyakit kronis tertentu dapat mengalami kondisi yang lebih berat ketika terpapar polusi udara. "Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran," jelasnya.
Sebelumnya, Direktur RSUD Raden Mattaher Jambi, drg. Iwan Hendrawan, MARS memastikan tenaga kesehatan terdiri dari dokter, perawat, obat-obatan hingga ambulans juga telah disiagakan di posko kesehatan darurat untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap.
“Berdasarkan instruksi pak Gubernur, untuk buka posko kesehatan, bilamana ada pasien yang melintas dengan kondisi sesak (darurat) akibat asap, bisa langsung ditangani di posko yang ada di pelantaran Bank Jambi Telanai dan Pasar, dengan pemberian oksigen dan tersedia obat-obatnya yang kita siapkan ditahap awal,” kata drg. Iwan Hendrawan, Jumat.
Namun kata Iwan, ketika memang kondisi pasien cukup parah, maka dari penanganan di Posko, pasien akan dibawa ke IGD RSUD Raden Mattaher. Masyarakat juga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai saat harus keluar rumah, serta mengurangi paparan asap di dalam ruangan.
Apabila mengalami sesak napas, napas cepat, batuk berat, atau keluhan pernapasan yang memburuk, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Kewaspadaan terutama diperlukan bagi pasien yang memiliki komorbid agar gangguan pernapasan dapat segera diperiksa dan ditangani.
"Selagi asap masih pekat maka posko kesehatan darurat terus beroperasi dan juga kita mengimbau, untuk masyarakat mengurangi aktivitas diluar ruangan. Karena memang melihat fartikel asap ini sangat pekat yang berdampak pada pernafasan, pandangan, yang dikhawatiran ketika berkendara pandangan kabur terjadi kecelakanan," tuturnya.(afm)
Kolom Komentar: Tempat Baru Rakyat Mengadu kepada Pemerintah
RSUD Raden Mattaher Jambi Catat 55 Pasien Bronkopneumonia, Komorbid Jadi Faktor Pemberat
Kanwil Kemenkum Jambi Gandeng Kampus hingga KADIN, Perkuat Perlindungan KI
Dorong UMKM Jambi Naik Kelas, Diana Ajak Pelaku Usaha Jadikan KI Aset Ekonomi
Kemenkum Jambi Harmonisasi 9 Produk Hukum Batang Hari dan Bungo, Sejumlah Pasal Direvisi
Kemenkum Jambi Koordinasi dengan Kejaksaan - Korem, Siapkan Tim Pengawasan Ormas
RSUD Raden Mattaher Jambi Catat 55 Pasien Bronkopneumonia, Komorbid Jadi Faktor Pemberat
