JAMBERITA.COM - Dekan Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Jambi (UNJA), Dr. Forst. Bambang Irawan, S.P., M.Sc., IPU, menawarkan enam solusi permanen untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali terjadi pada 2026. Dalam wawancara pada Kamis (1/10/2026), ia menilai penanganan karhutla selama ini belum menyentuh akar persoalan sehingga diperlukan pendekatan yang lebih terarah dan berkelanjutan, mulai dari perbaikan tata kelola kawasan hingga pemberdayaan masyarakat.
“Selama ini penanganan kebakaran hutan dan lahan itu masih belum menyentuh akar masalah dari kebakaran hutan dan lahan itu sendiri,” ujarnya.
Ia mencontohkan karhutla yang kembali terjadi pada 1998, 2015, 2019, hingga 2026. Menurutnya, penanganan selama ini masih banyak berfokus pada tindakan ketika kebakaran telah terjadi, seperti pemadaman dan patroli.
Dr. Forst. Bambang Irawan menilai pemadaman dan patroli saja belum cukup untuk mengatasi karhutla. Pencegahan perlu menyasar faktor manusia melalui edukasi, peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola lahan, serta pemberdayaan dan pengelolaan kawasan oleh pemerintah.
Enam langkah yang ditawarkan meliputi perbaikan tata kelola hutan dan gambut, pengalihan anggaran ke wilayah rawan karhutla, pemberdayaan masyarakat, penguatan lintas sektor, serta penegakan hukum. Bambang juga mendorong agar sumber daya pemerintah lebih banyak diarahkan langsung ke kawasan rawan kebakaran.
Dr. Forst. Bambang Irawan menekankan penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, masyarakat sipil, dunia usaha, serta media. Setiap pihak dapat berkontribusi melalui kebijakan, riset, pemberdayaan masyarakat, tanggung jawab sosial, dan edukasi.
Menurut Dr. Forst. Bambang Irawan, program perlu diarahkan ke wilayah rawan dengan pengelolaan kawasan yang jelas agar pengawasan lebih efektif. Penegakan hukum juga tetap diperlukan terhadap pembakaran yang disengaja dengan tetap memperhatikan aspek keadilan.
Dr. Forst. Bambang Irawan menilai penanganan karhutla selama ini masih banyak berfokus pada pemadaman ketika kebakaran terjadi. Menurutnya, upaya tersebut perlu dilengkapi dengan pencegahan yang terarah dan berkelanjutan, mengingat karhutla berdampak pada lingkungan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga transportasi.
Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah menerapkan enam solusi dengan mengarahkan program dan anggaran ke wilayah rawan karhutla. Menurutnya, langkah yang dilakukan secara terstruktur dan melibatkan berbagai pihak dapat membantu mencegah kebakaran berulang setiap musim kemarau.
Selengkapnya : www.unja.ac.id
Kawal Izin Travel Umrah untuk Lindungi Jemaah, Kemenhaj Kota Jambi Data Puluhan PPIU
Bupati Batang Hari Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026
Kawal Izin Travel Umrah untuk Lindungi Jemaah, Kemenhaj Kota Jambi Data Puluhan PPIU



