JAMBERITA.COM - Di tengah deru mesin kendaraan dan hiruk-pikuk Kota dan lantunan gema takbir Idul Adha 1447 H yang bersahut-sahutan di langit Kota Jambi, justru seorang pemuda duduk termangu membawa sejuta gemuruh di dada, pandangannya tertuju pada handphone pribadi yang terdapat dokumen foto tua yang digenggam erat.
Warnanya memudar termakan usia, namun bagi Husni Mubarok (29), pas foto hitam putih yang tersimpan itulah satu-satunya 'kompas' batin yang menghubungkan dirinya dengan sosok yang paling ia rindukan di dunia ini yaitu Siti Hawa, ibu kandungnya.
Dua puluh lima tahun adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah ketidakpastian. Bagi Husni, pemuda kelahiran 10 Oktober 1996 asal Sarolangun, Kecamatan Palawan, Jambi ini, seperempat abad dilewatinya tanpa kehangatan pelukan seorang ibu, bahkan tanpa tahu apakah sang ibu masih bernapas di bawah langit yang sama.
Badai kehidupan menghantam Husni terlalu cepat. Saat usianya baru menginjak 7 tahun, sang ayah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Belum kering air mata bocah kecil itu, takdir kembali mengujinya dengan cara yang amat getir. Pada tahun 2005, saat Husni duduk di bangku kelas 4 SD dan berusia sekitar 10 tahun, ibu dan neneknya (Nyai) pergi meninggalkan rumah.
Sejak hari itu, rumah tua yang kini dihuni oleh bibi kandungnya menjadi saksi bisu hilangnya jejak Siti Hawa. "Setelah ayah saya meninggal, ibu dan nenek saya menghilang tahun 2005 silam," tutur Husni dengan nada suara yang bergetar, menahan sesak yang telah mengendap puluhan tahun, Selasa (26/5/2026) malam.
Kabar yang beredar saat itu, sang ibu pergi merantau ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) demi menyambung hidup. Namun, informasi itu bak angin lalu—simpang siur tanpa kepastian. "Sampai kini tidak ada satu pun kabar tentang keberadaan ibu saya. Mungkin kalau bertemu tidak sengaja atau berpapasan di jalan, saya bahkan sudah tidak mengenali wajahnya lagi," ungkap Husni lirih.
Siti Hawa diperkirakan kini telah menginjak usia sekitar 40 hingga 45 tahun. Husni hanya memiliki pas foto lama ibunya sebagai satu-satunya bekal untuk mencari. Di dalam hati kecilnya, berkecamuk sejuta tanya yang tak pernah menemukan jawaban.
"Saya cuma bekal foto, foto itu pun foto lama. Kalau dibilang rindu, sangat rindu," ujarnya, menatap nanar pas foto tersebut. "Saya pun tak bisa membohongi hati nurani ini... Apakah sosok yang saya rindukan itu masih hidup, atau sudah meninggal dunia?"
Luka Husni kian menganga karena perpisahan itu juga mematri jarak antara dirinya dan adik perempuan tunggalnya.
Sejak kecil, mereka terpaksa terpisah. Sang adik kini telah berumah tangga dan tinggal di kampung halaman, tak jauh dari rumah sang bibi. Sebagai kakak, ada rasa bersalah yang membayangi Husni karena merasa belum mampu menggantikan peran ayah dan ibu untuk adiknya.
"Sekarang saya saja yang menguatkan diri. Kami jarang komunikasi, seperti ada jarak, terlebih sekarang dia sudah punya kehidupan sendiri bersama suaminya. Saya selalu berdoa semoga adik saya sakinah, mawaddah, warohmah," katanya.
Kini, di usianya yang sudah matang, Husni memilih melalang buana di Kota Jambi. Ia hidup sebatang kara, berjuang keras menatap masa depan yang belum sepenuhnya benderang. Untuk bertahan hidup sekaligus menempa diri, Husni menyibukkan diri di dunia aktivis dan tengah belajar menjadi seorang jurnalis. Ironisnya, saat ia belajar menulis dan mewartakan kisah hidup orang lain, kisah hidupnya sendirilah yang justru paling menyayat hati.
Melalui profesi jurnalis yang tengah ditekuninya, Husni berharap suaranyadan goresan rindu ini bisa menembus batas ruang dan waktu, mengetuk hati siapa saja yang mungkin pernah melihat atau mengetahui keberadaan ibunya, Siti Hawa, dan neneknya.
"Harapan dan doa terbesar saya, jika ibu dan nenek saya masih hidup, semoga mereka dalam keadaan sehat walafiat. Dan semoga... dibukakan jalan untuk pulang," tegas Husni penuh harap.
Bagi pembaca yang memiliki informasi, pernah mengenal, atau mengetahui keberadaan Ibu Siti Hawa (asal Sarolangun, Jambi, diperkirakan usia 40-45 tahun), diharapkan dapat membantu mempertemukan kembali ikatan darah yang terputus ini. Karena sejauh apa pun merantau, jalan pulang ke pelukan anak yang merindu harus selalu terbuka.
"Selama ini karena faktor ekonomi juga, dari pada saya tidak sekolah setelah ayah saya meninggal, saya tumbuh dan disekolahkan oleh adik Nenek saya di Kota Jambi. Sedangkan adik saya di kampung sama bibi saya, jadi juga terpisah sejak kecil," bebernya.(afm)
Menatap Wajah di Foto Usang : 25 Tahun Husni Merajut Rindu, Mencari Ibu yang Hilang Tanpa Kabar
Lewat Virtual, Kanwil Kemenkum Jambi Bahas Pengembangan Karier Jabatan Fungsional
Trik Kadiv Yankum Jambi, Siap Bikin Produk UMKM Aman dan Mendunia!
Gubernur Al Haris Serahkan Sapi Kurban Presiden Prabowo Seberat 930 Kilogram di Jambi
Isteri Gubernur Jambi Kembali Serahkan 3 Ekor Hewan Kurban di Desa Tangkit dan Kasang
Menatap Wajah di Foto Usang : 25 Tahun Husni Merajut Rindu, Mencari Ibu yang Hilang Tanpa Kabar


