Layanan Bank Jambi Belum Optimal, Usman Ermulan: Kepercayaan Nasabah Berada di Titik Nadir



Senin, 30 Maret 2026 - 16:59:33 WIB



Foto : Ist.
Foto : Ist.

JAMBERITA.COM - Mantan anggota Komisi XI DPR RI, Usman Ermulan, melontarkan kritik pedas terhadap manajemen Bank Jambi menyusul serangan hacker yang melumpuhkan sistem perbankan sejak akhir Februari 2026. Meski pihak bank mengklaim dana nasabah telah dipulihkan menggunakan cadangan laba, hingga Senin (30/3/2026), layanan vital seperti Mobile Banking dan ATM dilaporkan masih belum berfungsi kembali.

Kondisi ini memicu gelombang antrean panjang di seluruh kantor cabang Bank Jambi. Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bergantung pada bank daerah tersebut untuk penerimaan gaji terpaksa mengantre sejak pukul 02.00 WIB dini hari demi mendapatkan uang tunai.

Usman Ermulan menilai krisis ini seharusnya tidak terjadi jika Bank Jambi menerapkan sistem keamanan siber yang matang. Ia menekankan bahwa dalam industri perbankan, pengamanan berlapis dan uji kerentanan (vulnerability testing) secara berkala adalah harga mati.

“Semestinya Bank Jambi mengantisipasi risiko semacam ini jauh-jauh hari. Keamanan data dan sistem adalah pondasi utama kepercayaan masyarakat terhadap sebuah bank,” tegas Usman yang juga Ketua IKAL Lemhannas RI Jambi.

Kelumpuhan layanan ini tidak hanya merugikan nasabah secara individu, tetapi juga mulai mengganggu roda pemerintahan dan ekonomi daerah. Usman menyoroti bagaimana produktivitas ASN menurun karena waktu kerja habis digunakan untuk mengurus penarikan gaji di bank. Untuk memitigasi kepadatan di kantor cabang, Usman menyarankan langkah taktis yang sayangnya belum terlihat dilakukan secara maksimal oleh pihak manajemen.

Penambahan loket kasir : Menambah jumlah petugas dari 5 menjadi 10 orang untuk mempercepat pelayanan manual.

Upaya Luar Biasa: Melakukan langkah-langkah darurat yang signifikan, bukan sekadar "bisnis seperti biasa" di tengah krisis.

Sebagai pakar yang pernah membidangi keuangan dan perbankan di DPR RI, Usman memperingatkan bahwa Bank Jambi kini berada dalam posisi yang sangat rentan. Hilangnya kepercayaan publik, menurutnya, adalah indikator awal menuju kebangkrutan yang sulit dipulihkan hanya dengan suntikan modal.

“Masyarakat awam tidak peduli dengan rasio teknis seperti CAR, NPL, atau ROA. Yang mereka tahu adalah hak mereka (uang gaji) bisa diambil dengan cepat. Jika kepercayaan sudah hilang, bahkan diletakkan uang Rp1.000 triliun di depan kantor pun tidak akan mudah mengembalikannya,” ujar mantan Bupati Tanjung Jabung Barat dua periode tersebut.

Usman mendesak Pemerintah Daerah selaku pemegang saham mayoritas untuk segera mengambil langkah tegas. Ia meminta adanya solusi alternatif agar Bank Jambi kembali menjadi tulang punggung ekonomi lokal, bukan beban bagi masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menantikan kepastian kapan layanan digital dan jaringan ATM Bank Jambi dapat beroperasi normal kembali untuk menghindari penumpukan massa yang lebih besar.(afm/den)





Artikel Rekomendasi