Keluh Kesah ASN Jambi: 'Sudah Jatuh Tertimpo Tanggo,' Antre Gaji Manual di Tengah Puasa



Senin, 02 Maret 2026 - 16:56:19 WIB



Foto : Ilustrasi
Foto : Ilustrasi

JAMBERITA.COM - Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Provinsi Jambi kini tengah dirundung pilu. Belum usai keresahan masyarakat terkait isu raibnya uang nasabah, kini para abdi negara ini harus menelan pil pahit: mengantre manual di kantor Bank Jambi demi mendapatkan gaji bulanan mereka.

Kondisi ini dipicu oleh belum berfungsinya layanan Mobile Banking dan ATM Bank Jambi secara normal. Akibatnya, pemandangan antrean panjang terlihat di berbagai kantor cabang, memaksa pegawai meninggalkan meja kerja demi selembar slip penarikan.

Salah satu ASN yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Ia mengalkulasikan kerugian kolektif yang harus ditanggung para pegawai.

"Bayangkan, ado sekitar 5.000 pegawai yang harus ke bank bolak-balik (PP). Kalau ongkos transport rata-rata 20 ribu per orang, itu sudah 100 juta rupiah kerugian kami sebagai PNS. Belum lagi waktu dan mako yang terbuang," keluhnya dengan nada getir, Senin (2/3/2026).

Kritik keras pun dilayangkan terhadap manajemen Bank 9 Jambi. Seharusnya, sebagai mitra strategis pemerintah, bank memiliki langkah antisipasi atau mitigasi yang lebih manusiawi, terutama di tengah bulan suci Ramadan.

"Harusnya Bank Jambi bertanggung jawab penuh. Dalam fungsi pelayanan, kalau sistem digital macet, jemput bola dong! Antar uang gaji itu ke masing-masing OPD (Organisasi Perangkat Daerah), bukan malah kami yang disuruh berbondong-bondong antre di sana," tambahnya.

Kondisi ini dianggap sangat tidak efisien. Para ASN yang seharusnya fokus menjalankan ibadah puasa dan memberikan pelayanan publik, justru harus menghabiskan energi untuk "menjemput" hak mereka yang macet di sistem perbankan.

Hingga berita ini diturunkan, para ASN berharap pihak Bank Jambi segera memulihkan sistem atau setidaknya memberikan solusi door-to-door ke instansi terkait agar roda pemerintahan tetap berjalan efektif tanpa mengabaikan kesejahteraan psikologis pegawainya.(afm)





Artikel Rekomendasi