Dari Lumpur ke Harapan : Mahasiswa UNJA Bawa Lentera Digital, Pulihkan Asa Korban Banjir di Sumbar



Kamis, 19 Februari 2026 - 03:38:00 WIB



Dokumentasi Mahasiswa UNJA di Batu Busuk, Sumbar/hms/jmb.
Dokumentasi Mahasiswa UNJA di Batu Busuk, Sumbar/hms/jmb.

JAMBERITA.COM - Dua bulan telah berlalu sejak banjir bandang menyapu Desa Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kota Padang. Namun, jejak sisa bencana tak semudah itu hilang. Di balik dinding rumah yang masih menyisakan garis lumpur, warga bergelut dengan krisis air bersih dan ancaman penyakit kulit yang mulai mewabah.

Namun, sejak 28 Januari 2026, suasana di desa ini berubah. Bukan sekadar bantuan logistik instan yang datang, melainkan sebuah ekosistem pemulihan berbasis sains. Universitas Jambi (UNJA), melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026, menerjunkan tim kolaboratif lintas disiplin untuk mengubah keputusasaan menjadi ketangguhan.

Misi ini bukan sekadar pengabdian biasa. Di bawah komando Dr. dr. Fitriyanti, Sp.DVE., UNJA menerapkan model Interprofessional Education (IPE). Di sini, sekat-sekat jurusan diruntuhkan demi efektivitas pelayanan.

Mahasiswa kedokteran fokus pada diagnostik gizi, sementara mahasiswa profesi dokter menjalankan sistem triase klinis melalui telemedicine. Di sisi lain, mahasiswa keperawatan bergerak lincah melakukan perawatan rumah (home care) dan perbaikan sanitasi lingkungan.

“Kami hadir bukan untuk memberi bantuan sesaat, tapi melakukan transfer teknologi dan penguatan kapasitas agar masyarakat tangguh secara mandiri,” tegas Prof. Amirul Mukminin, Kepala LPPM UNJA melalui web resmi unja.ac.id tersebut.

Salah satu pemandangan kontras di lokasi bencana adalah hadirnya perangkat canggih di tengah keterbatasan. Tim UNJA membawa Smart Stunting Detection System, paket Antropometri Digital berbasis bluetooth.

“Alat ini memungkinkan kami membedakan secara presisi mana balita yang mengalami stunting (kronis) dan mana yang wasting (akut). Presisi ini menentukan nyawa, karena intervensi gizinya sangat berbeda,” jelas dr. Huntari Harahap, ahli gizi dalam tim.

Tak hanya itu, persoalan air keruh yang menjadi biang penyakit kulit dijawab dengan instalasi WASH Station. Menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO) dan sinar Ultraviolet (UV), unit filtrasi ini mampu memproduksi 400 galon air minum layak konsumsi setiap harinya.

“Ini adalah infrastruktur kesehatan komunitas. Begitu diserahkan sebagai aset negara, ia akan menjadi tulang punggung sanitasi warga dalam jangka panjang,” tambah Ns. Riska Nasution, Koordinator Sanitasi.

Layanan UNJA menjangkau hingga ke pintu-pintu rumah warga lanjut usia melalui Tele-Triage & Home Care Kit. Bagi mereka yang sulit melangkah ke puskesmas, teknologi digital portabel membawa dokter "masuk" ke ruang tamu mereka.

Misi kemanusiaan ini pun juga menembus ruang kelas. Di SD Bustanul Ulum, para siswa tidak lagi hanya belajar mengeja, tetapi juga belajar menyelamatkan nyawa. Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan mitigasi bencana diberikan agar anak-anak tak lagi gagap saat alam kembali tak bersahabat.

Apa yang dilakukan UNJA di Batu Busuk adalah potret nyata pencapaian target global Sustainable Development Goals (SDGs). Mulai dari poin ke-3 (Kesehatan), poin ke-6 (Air Bersih), hingga poin ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim), semuanya terangkum dalam kerja nyata satu bulan penuh.

Lurah Lambung Bukit, Andi Defriyan, mengakui bahwa kehadiran akademisi ini telah membangun kembali mentalitas warga. “Mereka tidak hanya memulihkan fisik desa, tapi juga membangun kapasitas kami untuk lebih tangguh di masa depan,” ujarnya haru.

Menjelang akhir masa pengabdian pada 28 Februari nanti, tim UNJA memastikan seluruh sistem akan dikelola mandiri oleh kader setempat. Sebuah pesan kuat dikirimkan dari lumpur Batu Busuk: Bahwa universitas terbaik adalah yang mampu menjawab tangis masyarakat dengan solusi ilmu pengetahuan.(afm)





Artikel Rekomendasi