Marak Kekerasan, Dimana Jaminan Rasa Aman?



Jumat, 04 November 2022 - 08:36:04 WIB



Oleh: Farah Sari, A. Md*

 



Kekerasan kian marak terjadi. Berbagai pihak bisa jadi pelaku kekerasan. Mulai dari kalangan remaja hingga dewasa. Bahkan antar anggota keluarga, ibu terhadap anaknya atau sebaliknya. Paman terhadap keponakannya atau sebaliknya. Suami terhadap istrinya atau sebaliknya. Aparat negara terhadap rakyatnya atau sebaliknya dan lain sebagainya.

Seharusnya keluarga adalah tempat teraman dan ternyaman bagi seseorang. Tapi hal ini sulit dirasakan saat ini. Seperti kasus bayi berjenis kelamin perempuan yang baru berusia empat bulan tewas setelah dibanting ke lantai oleh pamannya sendiri (cnnindonesia.com, 23/10/22)

Kekerasan yang menimpa antar pasangan suami istri juga terjadi. Seperti kasus pasangan suami istri di Kota Medan, Sumatera Utara, diduga cekcok hingga sang istri tewas bersimbah darah dibunuh suaminya dengan menggorok leher bagian belakang (tvonenews.com, 23/10/22)

Lebih jauh dari itu, aparat negara juga melakukan tindakan kekerasan terhadap rakyat. Seperti peristiwa Kanjuruhan. Langkah polisi yang mencoba mengendalikan massa suporter dengan tembakan gas air mata di stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10) berujung maut. Ratusan nyawa melayang di Stadion Kanjuruhan. Data resmi sementara, 131 orang tewas dalam insiden itu, termasuk 33 anak-anak.(cnnindonesia.com, 5/10/22)

Begitulah sebagian kecil peristiwa yang terjadi di negeri ini. Telah menggambarkan maraknya tindakan kekerasan. Apa sebenarnya faktor yang menyebabkan maraknya kekerasan dan seperti apa peran negara seharusnya menciptakan dan menjamin rasa aman bagi rakyat?

Rakyat tentu memiliki harapan besar agar negara hadir memenuhi kebutuhan jaminan keamanan. Karena negara adalah pihak yang memiliki kewenangan dan perangkat sistem mewujudkan itu semua. Tapi dengan fakta seperti di atas, menunjukkan negara belum berhasil mewujud hal tersebut. Ketidak berhasilan ini terlihat dari level individu, masyarakat dan negara. Kita sepakat, bahwa kapasitas negara bisa membentuk individu dan masyarakat yang baik melalui penerapan kebijakan atau aturan yang baik.

Ketidak berhasilan ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor internal dan eksternal. Kedua faktor ini dipengaruhi oleh asas sistem hidup yang diterapkan. Yaitu sistem demokrasi yang berpijak pada kebebasan dan pemisahan agama dari kehidupan. Menjadikan standar manfaat dan materi sebagai penentu dilakukannya perbuatan. Melukai bahkan membunuh orang lain akan dilakukan jika itu memberikan keuntungan pada dirinya. Berbuat berdasarkan hawa nafsu tanpa mempertimbangkan lagi hal itu halal atau haram. Berdosa atau berpahala di sisi Allah Swt.

Faktor internal yang menyebabkan maraknya tindak kekerasan adalah lemahnya kondisi keimanan dan pemahaman islam seseorang. Negeri ini mayoritas penduduk beragama Islam. Seharusnya memiliki keimanan yang kuat pada Allah Swt. Dan pemahaman yang utuh tentang syariat islam. Karena islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Sehingga setiap perbuatan harus terikat dengan syariat. Tidak kekerasan adalah hal yang dilarang oleh syariat. Apapun bentuknya. Penerapan sistem demokrasi saat ini, tidak menjadikan seseorang mengambil islam sebagai pemutus dalam perbuatan. Hanya mempertimbangkan aspek perbuatan itu bermanfaat baginya atau tidak. Jika bermanfaat dia lakukan. Jika tidak bermanfaat dia tinggalkan. Ini bertentangan dengan cara pandang islam.

Adapun faktor eksternal dipengaruhi oleh pemikiran dan paham asing yang menyerang kaum muslim. Pemikiran ini bertentangan dengan islam. Contohnya: paham kebebasan dan memisahkan agama dari kehidupan. Pemikiran ini disebarkan oleh musuh islam. Untuk menjauhkan kaum muslim dari islam. Penyebaran pemikiran asing yang begitu masif, dilakukan melalui berbagai cara. Berbagai konten media yang menggambarkan gaya hidup serba bebas dan menjauhkan syariat islam dari kehidupan.

Kedua faktor inilah yang harusnya menjadi perhatian penuh seorang pemimpin dalam menjalankan amanah menjalankan negara. Bagaimana bisa mencegah terjadinya tindak kekerasan dan memberikan efek jera pada pelakunya. Mewujudkan itu semua dibutuhkan penerapan sistem yang benar. Sistem ini akan saling terhubung satu sama lain. Contohnya, dengan penerapan sistem pendidikan yang baik( asasnya islam) akan melahirkan individu yang beriman pada Allah dan paham syariat. Perlu ditopang oleh hadirnya media informasi yang baik juga (konten yang sesuai dengan islam). Dilengkapi dengan penerapan sistem sanksi yang baik(standar syariat islam). Penerapan sanksi tersebut mampu memberi efek jera.

Dengan seperti ini, tindak kekerasan mampu diminimalkan. Karena mencakup upaya pencegahan dan memberi efek jera.
Dalam pandangan islam. Negara seharusnya berperan sebagai Raa’in dan junnah bagi semua warganya, termasuk dalam membina pribadi rakyat menjadi pribadi yang baik , beriman dan bertakwa.

Begitu besar dan pentingnya peran seorang pemimpin seperti digambarkan dalam hadis Rasullulah Saw.

"kalian adalah pemimpin dan akan di mintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin (negara/daerah) adalah pemimpin (bagi warga/rakyatnya) dan akan di mintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari)
Ada do’a dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Ya Allah barangsiapa yang menjadi pengatur apapun dari perkara umatku, lalu ia menyulitkan mereka, maka sulitkanlah ia dan barangsiapa yang menjadi pengatur apapun dari perkara umatku, lalu ia bersikap lemah lembut dengan mereka maka kasihanilah ia.” (HR. Muslim)

Penerapan sistem demokrasi saat ini akan sulit bahkan mustahil mewujudkan kepemimpinan di atas. Pemimpin yang mengurus urusan rakyat dan menjamin semua kebutuhan hidup mereka termasuk hadirnya rasa aman dari tindakan kekerasan. Karena kepemimpinan tersebut tidak tegak atas penerapan syariat islam. Sedangkan keadilan, keamanan dan kesejahteraan hanya terwujud dengan penerapan syariat islam.

Oleh karena itu, kita butuh segera meninggalkan sistem demokrasi dan beralih pada sistem lain. Yaitu sistem hidup yang berasal dari Allah Swt. Zat yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Yaitu sistem islam. Yang akan memberikan rahmat bagi seluruh alam. Baik muslim maupun non muslim, alam semesta hewan dan tumbuhan sekalipun seperti yang tertuang dalam firman Allah Swt. :"Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)



Artikel Rekomendasi