Peran Dan Fungsi Mamak Di Minangkabau



Jumat, 10 Juni 2022 - 10:31:57 WIB



Oleh:  Winda Rahma Putri*

Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Minangkabau adalah teritorial menurut kultur minangkabau yang daerahnya jauh lebih luas dari sumatera barat sebagai salah satu propinsi territorial dari minangkabau yang disebut di dalam adat “barih babeh” minangkabau ialah “jauah nan bulieh ditunjuakkan, dakek nan buliah dikakokan, satitiak bapantang ilang, sabarih bapantng lupo, kok ilang tulisan di batu, tulisan limbago tingga juo”.

Dilihat dari perkembangan sejarah, masyarakat minangkabau memakai prinsip keturunan ibu atau matrilineal. Dalam sistim ini anak-anak masuk ke dalam suku ibu dan bukan suku pihak ayah. Demikian juga kaum laki-laki dalam hal ini tidak termasuk ke dalam keluarga istrinya. Ia merupakan orang asing di minangkabau istilahnya disebut “urang sumando”.

Dalam masyarakat minangkabau hubungan kekerabatan antara seorang anak dengan saudara laki-laki ibunya disebut dengan istilah hubungan kekerabatan “mamak dengan kemenakan”. Walaupun organisasi masyarakat minangkabau berdasarkan garis keturunan ibu, namun yang berkuasa di dalam kesatuan-kesatuan tersebut selalu orang laki-laki dari garis ibu, hanya saja kekuasaan selalu didasarkan atas mufakat seperti bunyi pepatah minang, “kamanakan ba rajo ka mamak, mamak ba rajo ke mufakat”.

Dalam struktur kebudayaan minangkabau ada 4 jenis kemenakan yakni:

Kemenakan di bawah “daguak”, maksudnya kemenakan yang ada hubungan darah, baik yang dekat maupun yang jauh.

Kemenakan di bawah “dado”, yakni kemenakan yang ada hubungannya karena suku sama, tetapi penghulunya lain.

Kemenakan di bawah “pusek”, yakni kemenakan yang ada hubungannya karena sukunya sama, tetapi berbeda negerinya.

Kemenakan di bwah “lutuik”, maksudnya kemenakan yang berbeda suku dan nagari tetapi meminta perlindungan  di tempatnya.

Mamak merupakan pemimpin dimanapun juga di minangkabau ana kemenakan amat segan kepada seorang mamaknya, bahkan dia akan lebih patuh kepada mamaknya. Demikian kuatnya kedudukan seorang mamak seperti yang tertuang di salam pepatah “ mamak adalah ibarat kayu baringin di tangah koto, batangnyo tampek basanda, daunnyo tampek balinduang, ureknyo tampek baselo, kok pai tampek batanyo, kok pulang tampek babarito”.

Namun demikian sesungguhnya jadi mamak itu tidaklah mudah karena harus mempunyai bekal dari pengalaman yang amat banyak dibidangnya.

Sesuai dengan fungsi dan tugasnya dalam kekerabatan garis keturunan ibu, maka dapat diklasifikasikan atas 3 jenis mamak yaitu:

Mamak rumah adalah, saudara sekandung laki-laki ibu atau garis ibu “serumah gadang” yang terpilih menjadi wakil pembimbing/Pembina anggota garis ibu yang terdekat. Tugasnya yaitu memelihara, membina dan memimpin kehidupan jasmaniah maupun rohaniah “kemenakan-kemenakannya”. Mamak ini disebut juga “Tungganai” dan dipanggil dengan istilah “Datuak”.

Mamak kaum adalah seseorang yang dipilih diantara beberapa mamak rumah atau tungganai yang terikat dalam hubungan darah yang disebut kaum, sehingga mamak kaum disamping berfungsi sebagai mamak bagi keluarga juga bertugas menguru kepentingan-kepentingan kaum. Disamping itu mamak kaum adalah orang yang mempunyai budi yang dalam bicara yang haluih seperti kata pepatah “nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baik iyolah budi nan indah iyolah baso”.

Mamak suku yaitu yang menjadi pimpinan suku.

Kemenakan menurut adat minangkabau ada empat jenis ialah:

Kemenakan Bertali Darah

Ialah kemenakan-kemenakan yang mempunyai garis keturunan dengan mamak. Dalam hal harta pusaka semua kemenakan itu berhak menggarapnya dan kalau tergadai pada orang lain mereka berhak menebusnya. Kemenakan yang bertaki darah inilah yang berhak menerima warisan gelar dan harta pusaka.

Kemenakan Bertali Akar

Yaitu yang “terbang menumpu, hinggap mencekam”. Kemenakan ini adalah dari garis yang sudah jauh dari belahan kaum itu yang sudah menetap di kampung lain.

Kemenakan Bertali Emas

Kemenakan golongan ini tak berhak menerima warisan gelar pusaka tetapi mungkin dapat menerima harta warisan jika diwasiatkan kepadanya karena memandang jasa-jasanya atau disebabkan uangnya.

Kemenakan Bertali Budi

Dalam masyarakat minangkabau tidak dikenal dengan istilah “anak angkat” tetapi mereka mengenal kemenakan angkat dengan istilah yang lain.

 Fungsi Mamak Dalam Kehidupan Di Minangkabau

Bidang Pendidikan

Mamak bertanggung jawab atas terlaksananya pendidikan formal dan pendidikan agama kemenakannya. Selain itu mamak juga menyelenggarakan latihan-latihan keterampilan bagi kemenakannya dalam hal yang berhubungan dengan adat istiadat, seperti melakukan pasambahan dan pidato adat dalam pertemuan-pertemuan tak resmi. Mamak pun bertanggung jawabdalam penyelenggaraan pendidikan kerumahtanggaan kemenakannya yang telah dewasa, antara lain bagaimana hidup berumah tangga, hak dan kewajiban sebagai urang sumando dan lainnya.

 Bidang Ekonomi Keluarga

Sejak kecil mamak telah mengikutsertakan kemenakannya dalam kegiatan-kegiatan produktif di sawah dan ladang, Seperti membajak, mencangkul, menanam padi, menyiang dan memetik hasil. secara tidak langsung mamak akan memberikan tanggung jawab pada kemenakannya dalam menyelenggarakan kehidupan ekonomi dalam peningkatan kehidupan keluarga nantinya. Selain itu mamak sejak dini juga menanamkan kepada kemenakannya car hidup yaitu hemat dan bekerja keras. Mamak juga mengikutsertakan kemenakannya secara berangsur-angsur dalam kegiatan produktif di luar pertanian misalnya dagang, pertukangan dan wiraswasta lainnya.

 Bidang Sosial Budaya

Di dalam kehidupan sosial keluarga, peranan dan fungsi mamak cukup besar sekali misalny dalam hal mencarikan jodoh kemenakannya. Banyak hal yang harus dikaji dalam pencarian jodoh dan melibatkan generasi tua, terutama sekali mamak. Setiap keputusan yang diambil harus melalui musyawarah dengan mamak. Mamak nantinya yang akan menentukan siapa dan yang mana jodoh kemenakannya. Mamak tentu tidak asal mencarikan jodoh saja, tetapi terlebih dahulu siapa kira-kira bisannya. Dasar yang paling penting jodoh untuk kemenakannya adalah orang yang tahu dengan agama. Kaya atau miskin tidak jadi permasalahan yang penting berasal dari keluarga yang baik-baik.

Demikianlah mamak berkewajiban memelihara anggota jurainya khususnya menjaga wanita (saudara perempuan beserta anaknya) dan juga harus memperhatikan keselamatan harta pusaka kaum yang berada di bawah pengawasannya.

 

 

Penulis adalah: Mahasiswa sastra daerah Minangkabau fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas*



Artikel Rekomendasi