Cegah Radikalisme di Tubuh Polri, Kapolda Jambi : Perlu Diantisipasi



Kamis, 11 November 2021 - 22:09:30 WIB



Kapolda Jambi Irjen Pol A Rachmad Wibowo
Kapolda Jambi Irjen Pol A Rachmad Wibowo

JAMBERITA.COM - Biro Sumber Daya Manusia (SDM) mengadakan pembinaan personel dalam rangka penanggulangan, pencegahan radikalisme dan intoleransi personel Polda Jambi TA 2021 di Swiss Bell Hotel, Kota Jambi, Kamis (11/11/21).

Dimana saat itu, acara langsung dibuka secara resmi oleh Kapolda Jambi Irjen Pol A Rachmad Wibowo. Dihadiri Ketua MUI, PJU Polda Jambi, Kakanwil Kemenag, Kepala Kesbangpol, Personel Pengurus Masjid di Polres, Kabag SDM, Kasat Intel dan Kasi Propam Polres Jajaran Polda Jambi.

Dalam arahannya, Kapolda menyampaikan analisa Roy J. Eidelson & Judi Eidelson dari Pennsylvania University dalam Jurnal American Psikologys 2003, kemudian Psikolog Fathali M. moghadam serta Profesor Sarlito wirawan Sarwono perihal mengapa orang menjadi radikal.

Disampaikan Jenderal Bintang dua ini bahwa Roy J. Eidelson &Judi Eidelson menyebutkan bahwa Radikalisme itu muncul pada seseorang apabila didalam dirinya memiliki 5 ide berbahaya yakni superioritas, ketidakadilan (injustice), kerentanan, ketidakkepercayaan (distrus) dan ketidakberdayaan.

"Ini mungkin saja terjadi dilingkungan masyarakat sekitar kita tinggal atau tempat kita bekerja, ataupun di internal kita. Kalau mereka ingin memperjuangkan itu, dia akan menjadi pemberontak dan mengangkat senjata secara fisik," ungkapnya.

Kapolda mengatakan kalau itu sudah menjadi pilihannya dan terjadi dilingkungan Polri, maka rata-rata mereka keluar dari Polri dan mereka membentuk grup sendiri. Dalam analisa Psikolog Fathali M. Moghadam, Kapolda menyebutkan kajian psikolog tersebut yang menjabarkan anak tangga menuju aksi teror.

"Ini yang perlu diantisipasi bapak ibu sekalian, terkait dengan radikalisme dan intoleran ini, bukan saja di masyarakat tetapi juga di tubuh Polri," ujarnya.

Di Slide yang terakhir, dalam kondisi bagaimana anggota Polri bisa memiliki ide yang berbahaya?, Kapolda Jambi mengatakan dalam beberapa penulisan mengatakan bahwa ide berbahaya itu dilatarbelakangi motif ekonomi, tetapi ada juga adanya kurangnya edukasi dan sentuhan dari pimpinan.

"Sehingga anggota, merasa bahwa dia kurang tepat, karena keyakinannya dia tidak sesuai dengan program kegiatan dan visi misi Polri, ini anggota-anggota yang perlu kita kendalikan, kita tarik, kita beri penjelasan dan kita berikan edukasi, bahwa menjadi anggota Polri itu bukan paksaan," terangnya.

Kemudian bagaimana caranya agar anggota Polri tidak memiliki ide yang berbahaya, yaitu dengan mengedepankan Bagian Psikologi di Biro SDM yang sangat berperan dalam mencegah timbulnya radikalisme dan intoleran di tubuh Polri serta peran Kasatker, Kasatwil dan para Perwira/supervisor dalam membimbing dan mengarahkan, mengenali perubahan sikap dan memecahkan masalah anggota.(afm)





Artikel Rekomendasi