Oleh: Amri Ikhsan*
Ada yang tahu: apakah siswa benar benar belajar saat pembelajaran daring?. berapa siswa yang memiliki smartphone? Apakah siswa memiliki kuota untuk belajar? Apakah ada perbedaan cara belajar siswa saat belajar daring dan luring?. Apakah ada yang memantau siswa belajar di rumah?. Berapa nilai rata rata siswa sewaktu belajar daring?
Jangan harapkan jawaban dari permasalahan ini kalau tidak ditanyakan. Informasi ini akan muncul apabila kita bertanya. Budaya bertanya sebetulnya bisa mengarahkan kita untuk berpikir positif untuk melihat masalah sebagai kendala tapi solusi. Eric Schmidt, CEO perusahaan Google, mengatakan: "We run the company by questions, not by answers". Banyak hal yang harus dipertanyakan sebagai guru yang ingin maju. Salah satu ciri guru yang peduli adalah kecenderungannya untuk selalu dan suka bertanya.
Untuk apa bertanya? Kita bisa mengikis kebodohan yang ada dalam diri kita, karena bertanya akan membuat pola pikir dan pola sikap kita menjadi lebih luas dimana pikiran dan sikap kita menjadi lebih terbuka dan mampu memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Bertanya menciptakan pribadi yang tidak akan berpikir untuk menganggap diri kita sebagai manusia yang sempurna. Dengan bertanya, dapat memandu pikiran kita untuk mencari bagaimana memaksimalkan segala potensi yang kita miliki.
Dengan bertanya, kita bisa menguatkan silaturrahmi karena akan muncul suatu hubungan keakraban antara si penanya dan yang ditanya walaupun tidak selalu begitu. Karena banyak orang yang jika ditanya akan marah karena mungkin itu menyinggung atau membuat mereka merasa bodoh karena tidak bisa menjawab.
Bertanya juga akan memunculkan ide-ide kreatif yang belum pernah muncul karena pikiran kita menerima masukan dari orang lain. Dan dengan bertanya kita akan membuat kita lebih produktif, kreatif, pemikiran yang positif dan emosi yang stabil.
Sekolah/madrasah tidak akan menjadi besar dan berkualitas, bila kebiasaan bertanya malah dicurigai sebagai hal yang kritis, budaya yang tak dihargai etika. Jika bertanya dilarang, maka: tidak akan memiliki suasana dan jawaban baru, akibatnya, sekolah/madrasah hanya akan mengulang-ulang program program lama, akibatnya, proses pembejaran ita terasa bosan dan menjemukan, siswa akan menjadi manusia pasif.
Bertanya adalah seni kehidupan, karena bertanya merupakan bagian terpenting yang tidak terpisahkan dari umat manusia. Dalam pembelajaran, ada pendapat bahwa kualita pembelajaran, akan terlihat dari kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat.
Jika sudah berhenti bertanya, guru hanya akan sibuk mengajar dan lupa belajar, Jika tidak ada yang bertanya, Kepala sekolah/madrasah hanya menjalan program masa lalu, tanpa ada peningkatan. Para siswa akan lebih diam karena tidak ada pertanyaan dari guru. Para orang tua lebih banyak menunggu informasi dari sekolah/madrasah, dan tidak tahu perkembangan anaknya di sekolah/madrasah, jika tidak bertanya. Sekolah/madrasah tidak akan kreatif jika tidak ditanya oleh para pejabat.
Oleh karena itu, mulai dari sekarang marilah bertanya dan bertanyalah, dengan bertanya, kita akan menjawab semua masalah dalam hidup kita. Bertanya berbeda dengan menguji, menguji kadang kadang membuat orang lain takut, malu, harga dirinya tidak dihargai. Disinilah kita harus bertanya pertanyaan yang benar, yang tidak merugikan orang lain.
Bertanya itu sesuai dengan kebutuhan, bukan menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah benar, apalagi untuk berdebat. Tapi, bertanya dengan memberikan solusi. Pertanyaan mencerminkan sikap proaktif dalam mengembangkan sekolah. Sifat ini sangat baik untuk melatih sifat kritis dalam diri. Bisa dihipotesakan, orang yang rajin bertanya biasanya lebih peduli berbanding orang yang pasif dan suka berdiam diri.
Melalui proses bertanya, kita sudah mulai menciptakan kemajuan dalam membentuk peradaban. Dengan banyak bertanya, para ilmuwan dapat menemukan sesuatu yang berharga dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Berawal dari pertanyaan pula, orang dapat menemukan hakikat makna dari suatu benda yang ada di alam semesta, sehingga kekayaan alam semesta dapat menjadi sumber kehidupan bagi manusia.
Dalam praktek pembelajaran, masih ada pendidik yang kurang sensitif dalam membentuk budaya bertanya siswa, sehingga banyak siswa yang terkesan diam, bukan karena mereka bodoh tapi mereka tidak ‘digerakkan’ dengan bertanya.
Padahal, dalam pembelajaran aktif siswa yang menjadi subyek belajar, sedangkan guru berfungsi sebagai fasilitator dan motivator agar peserta didiknya memahami materi yang didiskusikan. Proses ini diharapkan terjadi diskusi yang hangat antara siswa dan guru atau antar siswa mengenai materi pelajaran. Masing-masing menjadi terlatih berbicara dan berdiskusi. Ketika kemampuan bertanya siswa terlatih dengan baik, maka akan semakin sempurnalah pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan oleh guru.
Sebenarnya, guru tidak perlu takut dengan hoax, tapi sebaliknya dimanfaatkan. Eksistensinya penting dalam membuat guru berpikir. Tanpanya, gadget serasa kehilangan fungsi. Media sosial sepi. Hidup pun serasa tidak ada tantangan. Dunia kurang meriah jika kehadirannya dianggap berbahaya.
Secara etimologis, hoax berasal dari kata hocus. Menurut kamus Merriam Webster, hoax adalah 1) tindakan dengan tujuan mengecoh atau membohongi; 2) membuat sesuatu diterima sebagai kebenaran publik lewat pemalsuan dan pengelabuan yang sengaja
Tapi, caranya sederhana: jadilah guru yang rajin bertanya. Hoax hanya bisa dilawan dengan cara bertanya. “Benarkah informasi ini?, siapa yang membuat statemen itu? Berkompetenkan dia menyampaikan informasi itu?” Sebuah pertanyaan sederhana yang memotivasi untuk berpikir lagi. “Apa buktinya kalau informasi ini valid?” Pertanyaan ini menuntut menginterogasi fakta. “Kalau pun benar, jika disebarkan, apa dampak sosialnya?” Pertanyaan ini menuntun kita menuju refleksi pada kehidupan berbangsa.
Solusi dari persoalan ini sungguhlah sangat sederhana. Kita hanya perlu berubah menjadi guru yang bertanya. Dengan bertanya, kita memverifikasi berita, memastikan data, dan menelanjangi dusta.
Kita bisa bertanya, boleh bertanya, bertanya tentang apa saja dalam kehidupan ini, kepada siapa saja, bahkan kepada alam semesta dan Tuhan untuk membuat hidup lebih hidup. Bertanyalah!
Penulis adalah: Pendidik di Madrasah*


Pasca Serangan Siber, Sekda Sudirman Resmi Ditetapkan Jadi Komisaris Bank 9 Jambi



