Lewat Digitalisasi, Potensi Dorong UMKM Lokal Tembus Pasar Nasional



Minggu, 24 Oktober 2021 - 22:24:43 WIB



Lapis Angso Duo salah satu UMKM Kota Jambi yang tumbuh di era pandemi
Lapis Angso Duo salah satu UMKM Kota Jambi yang tumbuh di era pandemi

JAMBERITA.COM- Selama pandemi Covid-19, banyak pengusaha, utamanya para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terpaksa menutup bisnisnya karena kesulitan memasarkan produk. Karena itu, pemanfaatan platform digital sangat penting agar UMKM bisa menembus pasar yang lebih luas.

Edgar salah satu pelaku usaha busana muslim yang berjualan di Tokopedia mengaku memulai usaha pada tahun 2017. Sebenarnya ia dan istri bukanlah seorang perancang busana. Tapi termasuk konsumen. Namun karena hobi akhirnya, Ia mencoba memulai bisnis busana muslim dengan produksi sendiri. “Waktu itu modal awal Rp3 juta,” katanya saat menjadi pembciara dalam Workshop Digitalisasi UMKM bersama Tokopedia baru-baru ini.

 Untuk memperluas pasar, Ia memasarkan produknya lewat Tokopedia pada tahun 2019. “Dari sini terjadi peningkatan penjualan hingga 170persen. Omset sekarang 100 kali lipat dari modal. Sudah ada 57 karyawan, 30 orang di bidang produksi,” katanya.

Bahkan saat pandemi, Ia mencoba membaca peluang dari meningkatnya kebutuhkan masker. Sehingga saat itu, bagian produksinya tidak hanya membuat baju, tapi juga menjahit masker. Tidak hanya itu, sisaat ada aturan penggunaan tas kresek ramah lingkungan, Ia pun mencoba peluang ini. “Intinya semua kebutuhan masyarakat  merupakan potensi buat kita yang bisa menghasilkan uang,” katanya.

Yang jelas, berjualan di platform digital sangat membantu untuk memperluas pasar. Tidak hanya dalam kota saja, tapi bisa ke seluruh Indonesia.

Bagaimana dengan UMKM di Jambi? Pengusaha kuliner Lapis Angso Duo Fitri mengakui UMKM harus mampu beradaptasi dengan tehnologi. Apalagi saat ini semua orang sudah terhubung dengan internet. “Mau tidak mau UMKM harus mampu memanfaatkan platform digital,” katanya.

Tak heran jika saat pandemi, produk kue dengan bungkusan kotak berwarna ungu ini malah naik daun. Bahkan Fitri berhasil membuka gerai khusus untuk produk kuenya.

Ini berkat kesuksesannya dalam memasarkan produknya lewat platform media sosial khususnya facebook dan Instagram. Meski kebanyakan orang bekerja di rumah, namun pesanan secara online terhadap kue buatannya cukup tinggi. “70 persen konsumen kuenya memesan secara online karena melihat produknya lewat facebook dan instagram,” katanya.

Menurutnya dengan memanfaatkan platform digital, maka akan lebih mudah untuk memasarkan produk. Karena hampir semua orang terhubung dengan internet. “Sangat terbantu untuk promosi dengan toko online yang bisa dilihat 24 jam dengan mencantumkan lokasi dan no HP. Tinggal atur jam operasional,” jelasnya.

Ia sendiri memulai membuka usaha kuenya pada Mei 2018 dengan modal Rp150 ribu. Adapun pemesan pertama adalah teman kantornya. Fitri yang merupakan mantan jurnalis di harian pagi jambi independent kemudia resign dan memilih fokus untuk membesarkan bisnis kulinernya.

Bahkan sejak awal tahun, Ia menyewa gerai khusus di lokasi yang mudah dijangkau warga. “Tapi tetap kita banyak pesanan lewat online,”ujarnya.

FItri sendiri mengusung kuliner oleh-oleh khas Jambi. Produknya berupa bolu gulung nanas dan bolu gulung pandan merupakan varian yang lumayan banyak diminati. Untuk Lapis Angso Duo ada banyak varian rasanya juga. Ada Lapis Angso Duo rasa Cinnamon (kayu manis), Kopi, Coklat, Original, Pandan, Keju, Greentea. Yang favorit ada kopi dan Cinnamon, karena untuk khas Jambi menonjol sekali yah,” ujar jelas Fitri.

Bagaimana dengan memasarkan produk kuenya lewat platform seperti tokopedia dan platform lainnya sehingga kuenya bisa dipasarkan di seluruh Indonesia? Fitri mengaku masih sulit karena kegiatannya di Provinsi Jambi. Sementara daya tahan kuennya hanya 3-4 hari saja. “Terkendala dalam proses pengiriman karena daya tahannya 3-4 hari saja,” jawabnya.

Sementara itu, Rusnal dari KPH Merangin membantu memasarkan produk kelompok tani di Desa Baru, Kecamatan Jangkat Timur Merangin. Selain menembus pasar lewat pameran produk, Rusnal juga memasarkan kopi dengan merek Kapeha Merangin lewat platform tokopedia. “Tapi belum lama baru setahunan,” kata Rusnal.

Ia mengakui secara khusus belum banyak pemesanan lewat platform ini. Namun setidaknya, Kopi murni Kapeha Merangin ini mulai dikenal masyarakat. Tidak hanya skala Merangin saja tapi juga secara nasional. “Karena mereka umumnya pesan langsung. Karena kalau sudah nyicip sekali, mereka akan ketagihan,” kata Rusnal.

Ia mengatakan Kopi Kapeha Merangin ini sendiri merupakan produk kelompok tani yang dibantu KPH Merangin mulai dair pembibitna hingga membantu perlatan produksi kopi. “Ada 30-an orang dalam satu kelompok tan. Namanya kelompomtani hutan. Kita ajarkan cara produksi yang baik seperti panen ceri yakni kopi yang sudah masak bukan asal. Begitu juga proses pengeringannya menggunakan rumah kaca, jadi tidak panas langsung matahari,” katanya.

Sementara itu, External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya menyampaikan, pandemi covid-19 telah mendorong pergeseran pada aspek hidup masyarakat. Teknologi dan digitalisasi kini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan telah berkembang pesat menjadi sebuah kebutuhan.

 "Praktiknya, kini lebih banyak masyarakat yang memanfaatkan kanal digital seperti Tokopedia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari guna mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai," kata Ekhel.

Kondisi itu mendorong peningkatan jumlah pengguna aktif bulanan Tokopedia. Sebelum pandemi atau pada Januari 2020, ada lebih dari 90 juta pengguna aktif Tokopedia. Jumlah itu telah bertambah menjadi lebih dari 100 juta

 Adapun jumlah penjual yang tergabung di Tokopedia saat ini tercatat lebih dari 10 juta penjual. Menurut Ekhel, hampir 100% adalah UMKM, bahkan 94%-nya merupakan penjual berskala mikro. "Artinya ada peningkatan sebesar lebih dari 2,8 juta dari 7,3 juta penjual sejak sebelum pandemi. Kategori makanan dan minuman, kesehatan, perawatan hewan, buli dan pertukangan, menjadi lima kategori dengan peningkatan transaksi paling tinggi menjelang akhir tahun 2020.

Ia mengatakan dari sisi penjualan7 dari 10  penjual mengalami kenaikan volume penjualan hingga 133 persen, 68, 6 persen  penjual toko pedia pencari nafkah tunggal. 90 persen penjual di Tokopedia selama pandemi memiliki usaha berskala mikro. Adapun Tiga provinsi dengan peningkatan penjualan terbesar di Tokopedia NTB, Sulawesi tengah dan Sulawesi selatan

Tiga provinsi dengan peningkatan jumlah pelaku usaha tertinggi di Tokopedia selama pandemi DKI Jakarta, Yogyakarta dan Bali.

Dari sisi jangkauan, saat ini transaksi sudah dilakukan di 99 persen kecamatan di seluruh Indonesia dengan total transaksi 550 juta. Adapun  86,5 persen adalah pebinis baru.(sm)

 

 

 





Artikel Rekomendasi