JAMBERITA.COM- Pagi itu, Sukardi bergerak cepat ke kebun pinang miliknya. Tujuannya kali ini bukan untuk memanen buah sebagaimana pekerjaannya yang sudah ditekuninya selama ini. Kali ini Pak Sukar-demikian ia disapa, memungut pelapah pinang.Diambilnya satu persatu pelepah ini dan kemudian memisahkannya dengan tangkai daun. Setelah terkumpul pelepah cukup banyak, Pak Sukar segera pulang dan menjemurnya satu persatu.
Pelepah pinang sebelumnya menjadi bahan yang terbiar dan belum menghasilkan. Belakangan pelepah bisa diolah untuk dimanfaatkan sebagai wadah makanan, pengganti pengganti bahan plastik sekali pakai.
Atas dukungan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, LPPM Universitas Jambi dan Rumah Jambee, pelepah pinang ini diolah menjadi piring dan bisa bernilai tinggi. Secara simbolis, mesin pembuat pelepah pinang ini, sudah diserahkan Rektor Unja yang diwakili Ketua LPPM Unja Ade Octavia kepada Bupati Tanjabtim Romi Hariyanto untuk diteruskan ke Kelompok Usaha Perhutanan Sosial di Sinar Wajo dan Sungai Beras. Di masing-masing desa, alat ini ditempatkan di rumah produksi yang di bangun secara swadaya.
Ke rumah produksi ini jugalah Pak Sukardi membawa pelepah pinang yang sudah kering dan siap untuk dijadikan piring. Ditaruhnya pelepah di tempat yang sudah ditentukan dalam mesin pres dan kemudian mengoperasikan alat pres. Tidak sampai 1 menit, piring yang diinginkan sudah terbentuk. Selanjutnya merapikan pinggiran dan piring pun sudah jadi. Mata Sukardi berbinar memandangi piring yang baru saja dihasilkannya. Di bolak baliknya piring itu, seolah mengagumi produk yang baru dihasilkannya. Selanjutnya Sukardi kembali memasukkan pelepah dan menekan tuas untuk mencetak piring. Begitu terus, tak terasa dalam waktu 1 jam mampu memproduksi 50 piring pelepah.
Aktivitas inilah yang kini menjadi harapan baru bagi KUPS Lojo Kleppaa. Sinar Wajo dan KUPS Mitra Madani Sungai Beras, Mendahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Di tengah upaya warga desa untuk memulihkan ekonomi mereka pasca hantaman pandemi covid yang membuat harga produksi perkebunan berjatuhan, termasuk pinang.
“Harga pinang tidak stabil, kami cukup kesulitan untuk mencari harga yang baik, kami harus mencari peluang baru, untungnya ada mesin pengolah pelepah ini,”kara Sukardi.
Pelepah pinang merupakan potensi yang belum banyak diketahui para petani pinang di Provinsi Jambi. Padahal dengan luas kebun 20.694 Ha lahan perkebunan pinang (BPS 2018) membuat ketersediaan bahan baku untuk membuat piring tersebut sangat berlimpah. Piring pelepah pinang dapat menjadi alternatif piring yang ramah lingkungan dan menjadi pengganti plastik dan streofoam sebagai alas dan wadah makanan.
Rudi Nata, CEO Rumah Jambee mengatakan bahwa, Pelepah Pinang Betara—jenis pinang yang tumbuh di Tanjabtim, merupakan bahan baku yang sangat bagus untuk dijadikan piring. “Pinang Betara yang memiliki karakteristik daun yang besar dan pelepah yang lebar merupakan bahan baku yang bagus untuk pembuatan piring ini, apalagi kadang pelepahnya itu memiliki motif abstrak yang natural sehingga menambah keindahan dari piring tersebut” kata Rudi.
Tentu dengan potensi yang dimilikinya, kedua desa yakin memproduksi piring-piring ramah lingkungan ini. “Ini kami harapkan menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat Desa Sinar Wajo. Apalagi dengan dukungan pemerintah kabupaten yang juga menjadi penyemangat masyarakat dalam memproduksi piring dari pelepah pinang tersebut” ujar Ratnawati Kepala Desa Sinar Wajo.
Ratna juga mengharapkan bahwa dampingan KKI Warsi dan Universitas Jambi dapat terus dilanjutkan dan menjadi pemantik masyarakat agar lebih semangat lagi dalam mengelola potensi yang ada di desa tersebut. “Masyarakat yang dulu tidak pernah berpikiran bahwa pelepah pinang yang kami anggap sebagai limbah ini dapat menghasilkan, kini sangat antusias dalam mengelolanya” kata Ratna.
Pengelolaan pelepah pinang ini, merupakan dukungan atas upaya masyarakat yang sudah menjaga hutan desa mereka. “Dari setiap daerah yang mengelola hutan dengan baik, kita upayakan untuk mendukung perekonomian desa. melihat potensi pelepah pinang ini,”kata Ade Candra Koordinator Program KKI Warsi.
Dikatakannya dukungan ini sangat penting, karena sumber ekonomi warga menjadi indikator untuk peningkatan dukungan pada pengelolaan hutan berkelanjutan. Sebagaimana kita ketahui, kedua desa ini merupakan kelompok masyarakat yang mengelola hutan desa di lanskap Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh. HLG Sungai buluh merupakan satu-satunya hutan lindung gambut yang masih utuh, di Provinsi Jambi. Masyarakat desa cukup mampu menghadang kebakaran hutan di hutan desa ini. “Dari sinilah kita terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan ekonomi mereka dan di sisi lain juga mempertahankan dan menjaga hutan desa mereka,”kata Ade.
Untuk itulah kerja sama untuk mewujudkan ini gencar dilakukan. Warsi sebagai pendamping masyarakat yang mengelola perhutanan sosial dan Unja sebagai penyedia mesin serta Rumah Jambee yang akan melakukan pengembangan pemasaran, bersinergi untuk membantu petani pinang.
Abdul Rahman, Ketua KUPS Lojo Klepa, mengatakan bahwa dengan dibantunya pemasaran oleh Rumah Jambee, masyarakat bisa fokus pada produksi piring tersebut karena sudah ada yang memasarkan. “Kami harus memberikan produk dengan kualitas yang baik serta standar yang diberikan oleh Rumah Jambee. Ini kerja sama yang sangat bagus, kami hanya harus fokus kepada produksinya saja,” tambahnya.
“Kami sangat bersyukur bahwa kami didukung oleh banyak pihak terkait dengan pengelolaan potensi yang ada di daerah kami. Selain memanfaatkan potensi yang ada, kami juga dapat membuka lapangan pekerjaan sehingga dapat mejadi pemasukan baru bagi masyarakat” tutup Abdul.
Masyarakat kedua desa bisa sedikit lega bahwa di tengah pandemi ini masih memiliki sumber ekonomi lain melalui kebun pinang mereka. Upaya pengelolaan serta memaksimalkan potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) pelepah pinang ini juga merupakan suatu upaya untuk mendorong masyarakat dalam perlindungan Hutan Desa yang mereka miliki. Harapannya dengan adanya alternatif ekonomi baru ini, masyarakat dapat semakin antusias untuk menjaga Hutan Desa-nya serta merasakan dampak ekonomi dari adanya izin Perhutanan Sosial yang mereka dapatkan, apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda ini.(*)
Warek II UNJA Datangi Kajati Jambi Paparkan Soal Rencana Bangunan Gedung Senilai Rp238 Miliar
Vaksinasi yang Digelar PDIP Jambi Disambut Antusias Masyarakat
Ungkap Makna Garuda, SAH: Gali Ruh Dalam Dada untuk Bangun Jiwa dan Badan Indonesia
Jadi Petugas Upacara HUT RI ke-76, Ketua DPRD Edi Purwanto Baca Teks Proklamasi
Mahasiswa Muhammadiyah Jambi Gelar Aksi Di Depan Kampus Minta Turunkan Rektor


Danrem 042/Gapu di Kodim 0419/Tanjab : Jangan Buat Pelanggaran, Apalagi Judol!


