Oleh Antony Z Abidin
Ngomong-ngomong tentang mahasiswa UI dipanggil rektor, saya ingat beberapa kejadian 4 dekade lalu.
Saya juga pernah dipanggil REKTOR UI Prof Maharmardjono. Tapi nggak pernah di hari libur, tentunya.
Suatu kali, gara- gara beliau ditelpon Pangkopkamtib Laksamana Sudomo. Tentang pemberitaan koran UI SALEMBA yang mengeritik pemerintah Suharto waktu itu.
Prof Mahar Mardjono, didampingi Prof Slamet Imam Santoso, menanyakan: Siapa yang ngirim koran Salemba ke Binagraha?
Prof Mahar nggak nanya, siapa yang nulis. Kemudian memberikan tegoran atau sanksi.
Tentu saja saya jawab, bagian Sirkulasi Salemba tidak mengirim koran ke instansi-instansi pemerintah kecuali mereka berlangganan (dan bayar).
Hanya Perpustakaan Musium Pusat dikirim gratis untuk kepentingan dokumentasi. Library of Conggers bahkan beli melalui USIS. Pelanggannya ikut mekanisme pasar. Dalam catatan Bagian Sirkulasi, Binagraha tidak terdaftar berlangganan.
Untuk memastikannya, Prof Slamet kemudian langsung mendatangi kantor Koran Salemba dan memeriksa buku daftar pelanggan. Tidak ada tercatat nama Binagraha.
Lantas siapa ya? Tanya Prof Mahar dalam pertemuan berikutnya. Ternyata yang ngirim Humas UI, seperti kemudian diakui kepala Humas UI Tjiptaningsih.
“Kalau begitu, nggak apa-apalah. Jika yang ditulis itu benar, nggak ada masalah.” Kata Prof Mahar seperti layaknya seorang pendidik.
Selama saya jadi Pemimpin Umum/Pemred Koran Kampus UI SALEMBA, sejak berdirinya (1976) hingga dibredel utk kedua kalinya (1980) saya nggak pernah ditegur Rektor.
Beberapa kali saya ditelpon Sekretaris Rektor UI Mbak Mimi. Diminta datang oleh Pak Rektor.
Sambil mengisap cerutu, dokter spesialis neorologi itu dengan santai menyampaikan bahwa dia ditelpon penguasa, (biasanya Kopkamtib) yang complain terhadap pemberitaan atau karikatur.
Dia nggak pernah marah. Kalimat pertamanya selalu bertanya. “Ada apa sih (kok sang pejabat itu sampai nelpon). Apa isi beritanya?” Jika itu karikatur, “apa maksud karikaturnya?”
Rektor yang juga pejuang kemerdekaan RI itu, hanya membutuhkan penjelasan. Karena dia ditanya.
Dan jika ketemu dengan yang nanya, maklum dia juga ketua tim kepresidenan, atau ditelpon lagi, dia bisa memberikan penjelasan.
Setelah Prof Mahar menerima penjelasan, ya cukup sampai di sana.
Tidak ada teguran, arahan apalagi marah-marah. Beliau betul-betul memposisikan mahasiswa sebagai “maha” siswa. Bukan lagi siswa SMA atau murid SD yang harus dibina.
Tak jarang dia ketawa jika penjelasannya menyangkut karikatur rada lucu. Maklum karikaturisnya Dhono.
Begitulah seorang Rektor UI di masa Orde Baru yang represif. Dia tetap menjaga marwah UI sebagai Kampus Perjuangan.
•Lebih lengkap ttg rektor UI legendaris ini
bisa baca buku; “MAHAR MARDJONO. Pejuang Pendidik dan Pendidik Pejuang.”
Dorong Daya Saing Daerah, Abun Yani Sampaikan Ranperda Inisiatif Fasilitasi HKI Jambi
Danrem 042/Gapu Brigjen TNI Yamin: Kami Terbuka pada Masukan, Anggota Salah Akan Ditindak Tegas
Danrem 042/Gapu Tekankan Pentingnya Sinergi TNI-Media dan Pemeliharaan Infrastruktur di Jambi
Tumenggung Batin Sembilan rombong kandang rebo - Bawah bedaro - Bakal petas (2)
Tumenggung Batin Sembilan Rombong Kandang Rebo - Bawah Bedaro - Bakal Petas


Danrem 042/Gapu Brigjen TNI Yamin: Kami Terbuka pada Masukan, Anggota Salah Akan Ditindak Tegas

