Anggota DPR Ahmad Sahroni Ini Cerita Pengalaman Jadi Sopir Hingga Sukses ke Milenial di Jambi



Kamis, 03 Desember 2020 - 20:34:58 WIB



Ahmad Sahroni
Ahmad Sahroni

JAMBERITA.COM - Ngobrol santai Wakil Ketua DPR RI dari Partai NasDem Ahmad Sahroni membungkam para kaum Milenial di Provinsi Jambi, Kamis (3/12/2020).

Pasalnya di agenda ngobrol santai bersama Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Jambi serta para kaum Milenial dengan menerapkan protokol kesehatan, Ahmad Sahroni menceritakan pengalaman pahit yang dirasakannya.

"Kalau berbicara pengalaman hidup saya selalu sedih," bebernya dihadapan para anak muda yang hadir.

Singkat saja kata Sahroni, bahwa kesuksesannya saat ini berawal dari proses menjadi seorang sopir. Pertama dirinya menyopiri seorang bos yang kini mengajar di salah satu STM di Jakarta Utara. Bos kedua, dirinya mengantar anak sekolah.

"Bos nya adalah teman paman saya konglomerat pemain minyak, ketiga saya kerja sama bos Sedep dan tiga-tiga orang nya masih hidup," ungkapnya.

Dari ketiga-tiganya itu, Sahroni membeberkan dirinya tidak pernah melupakan apa yang menyakitkan ketika menjadi orang susah, orang miskin penuh dengan hinaan. "Di keluarga saja kita di musuhi apalagi orang lain, saya pernah tinggal dirumah nenek saya, saya di usir, baju saya dilempar," terangnya.

Kemudian dirinya pindah ke rumah Pamannya (Oom) jadi pembantu di rumah nya, yakni dengan pekerjaan ngepel, dan mencuci mobil sekalipun memanaskannya setiap pagi. "Disitu saya bermimpi, di keluarga saya lagi lagi di kecil kan," ujarnya.

Menurut Sahroni, semua keluarga dirinya yang pernah mengucilkan, menghina pada saat ini masih pada hidup. Kendati demikian dari pengalamannya itu, dirinya tidak pernah menyimpan dendam.

"Apakah saya dendam tidak, tetap lah rendah hati, jangan pernah merasa punya sedikit harta benda tetapi sudah sombong, jangan pernah anggap saja biasa. Dan proses yang menyakitkan adalah ketika menahan ditindas, itu tidaklah muda," sebutnya.

Sahroni menegaskan bahwa nilai akhlak yang utama itu di mulai dari keluarga sendiri, baru bisa menghargai orang maka itu akan berarti balik ke diri sendiri.
"Kita Jangan pernah menghina orang lain siapapun dan jangan berkawan untuk membedakan status dan jabatan, jangan sombong," katanya.

Harta benda itu adalah rangkaian pendamping tapi ketulusan hati dengan kejiwaan besar itu harta paling berharga tidak dinilai dengan uang. Dalam proses kehidupan masing-masing orang pasti masing-masing caranya. "Jadi jangan anggap enaknya sekarang kalau melihat saya, temen-temen enaknya doang dengan sarana prasarana yang saya miliki," paparnya.(afm)

 




Artikel Rekomendasi