Jaga Dirimu Dan Keluargamu Dari Virus Corona



Selasa, 13 Oktober 2020 - 13:39:12 WIB



Muhammad Beni Saputra
Muhammad Beni Saputra

Oleh: Muhammad Beni Saputra*

 

 

Pertengahan September lalu, Wali Kota Jambi, Syarif Fasha, menyatakan dirinya positif terinfeksi virus corona. Tak selang berapa lama, kabar buruk kembali berhembus. Kali ini istri dan anak-anak Fasha juga dinyatakan positif.  Seolah tak henti dirundung malang, beberapa hari berikutnya anak bungsu Fasha, Fabiansyah Putera, meninggal dunia. Fabiansyah juga terpapar covid-19.

Dengan bertubi-tubinya berita ini, memori kita akan bahaya virus corona hidup kembali. Kita teringat bagaimana dulu, di saat pandemi corona masih dalam fase awal, kita sekonyong-konyong menerapkan physical distancing. Pasar ditutup, rumah didisinfektan, masker dibagi-bagi, dan orang-orang dicurigai. Tapi setelah beberapa bulan, dan naasnya di saat penyebaran virus corona semakin menjadi-jadi, kehati-hatian kita hanya tinggal cerita. Kini kita kembali ke tabiat awal, menganggap sepele virus corona.

Perhatikanlah di sekeliling maka akan ditemui betapa banyak dari kita yang sudah ‘masa bodoh’ dengan covid-19. Pegawai-pegawai kantor tertib mengenakan masker ketika berangkat kerja, tapi setelah berada di dalam ruangan bersama sejawat, masker pun diturunkan ke dagu. Anak-anak bebas bermain di luar dengan teman-teman mereka tanpa masker. Para santri bercengkrama dengan sesama, berinteraksi dengan keluarga yang berkunjung, dan belajar dari ustadz-ustadz yang notabene punya mobilitas tinggi. Sedikit dari interaksi ini yang menerapkan pemakaian masker secara disiplin.

Masjid-masjid semakin ramai, tapi jamaahnya semakin sedikit yang memakai masker. Ceramah agama kian santer, tapi banyak jamaah yang lalai memakai masker. Si penceramah pun kerap kali membuka masker ketika berbicara. Diskusi-diskusi, dari yang level ilmiah sampai ke level warung, kembali berlangsung. Lagi-lagi dengan masker yang menggantung. Mahasiswa dan pelajar tidak meliburkan diri dari agenda berkumpul ria, pergi ke sana kemari dengan masker yang naik turun dari mulut ke dagu. Setelah bercengkrama, mereka pulang ke rumah orang tua atau ke kampung halaman masing-masing. Syukur-syukur tidak membawa serta virus corona.

Bunyi organ tunggal semakin lantang terdengar, lebih lantang dari ketika jumlah kasus corona masih sedikit dulu. Tamu undangan dan biduan tak jarang berbagi panggung, dengan masker yang lagi-lagi tergantung. Hadirin yang lain sibuk menyantap hidangan sembari berbagi cerita dan gelak tawa dengan sesama. Masker yang tadinya menutup mulut dan hidung kemudian dilepas. Siapa pula yang bisa makan sambil pakai masker? Para politisi semakin rajin mengunjungi masyarakat sebab Pilkada kian dekat. Kampanye terus digalakkan dengan slogan klise ‘menaati protokol kesehatan’.

Para pejabat, pengusaha, serta pegawai naik turun pesawat, mengunjungi banyak kota dan bertemu banyak manusia. Tidak sedikit dari mereka kemudian pergi ke desa-desa, bersosialisasi dengan warga atau sekedar baca yasin bersama. Warga ‘biasa’ juga sudah leluasa keluar masuk Jambi. Banyak  dari yang bepergian ini tidak memakai masker ketika di dalam kendaraan, situasi yang sempurna untuk virus corona berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain.

Jika memang semua aktivitas di atas sudah terasa normal, kita perlu mencermati beberapa fakta berikut. Perkantoran merupakan salah satu klaster covid-19 tertinggi di Indonesia (Jakarta). Di Jambi, klaster ini sedang berkembang, dibuktikan dengan semakin banyaknya Aparatur Sipil Negara yang terinfeksi virus corona. Klaster pesantren muncul di banyak daerah di Indonesia. Jika pola interaksi warga pesantren di Jambi masih seperti sekarang, mewabahnya virus corona hanya persoalan waktu. Masjid dan gereja kini menjadi tempat penularan covid-19, dan mahasiswa KUKERTA di Kabupaten Batanghari sudah ada yang terpapar covid-19. Di Sumatera Barat (Sumbar), pesta pernikahan merupakan salah satu penyumbang kasus harian covid-19. Perlu dicatat bahwa arus pergerakan orang antara Sumbar dan Jambi tergolong cukup tinggi. Belum lagi dengan lumrahnya pernikahan antar dua warga provinsi ini yang tentu saja melibatkan banyak anggota masyarakat. Perihal politisi, pejabat, dan mereka yang terlibat aktif dalam persiapan Pilkada Desember mendatang jangan ditanyakan lagi. Sudah banyak kasus politisi yang meninggal, pejabat yang diisolasi, dan pengurus pemilu yang terinfeksi, baik di Jambi maupun di luar daerah lain.

Kita jangan tertipu oleh zona-zonaan. Zona merah, kuning, hijau itu tidak sepenuhnya mencerminkan situasi penyebaran virus corona. Kritikan mengenai ini dilontarkan oleh Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian. Menurut Tito, daerah yang mengklaim diri zona hijau masih banyak yang minim tes PCR. Jambi termasuk daerah yang sebelumnya banyak memiliki zona hijau. Tapi bukannya memuji, Tito meminta Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jambi introspeksi diri. Tito menganggap kasus covid-19 di Jambi yang sangat rendah (Jambi peringkat ke-6 terendah di Indonesia) tidak masuk akal, khususnya bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Jambi. Ini semua terjadi karena kapasitas tes swab di Jambi masih rendah.

Sampai di sini kita paham bahwa angka kasus covid-19 di Jambi tidak representatif, alias diragukan keakuratannya. Besar kemungkinannya jumlah orang yang terinfeksi covid-19 di Jambi berkali-kali lipat dari data yang tersedia.

Kewaspadaan kita akan ancaman virus corona perlu ditingkatkan karena ruang isolasi covid-19 Provinsi Jambi sudah penuh. Dengan semakin banyaknya kasus positif covid-19, tidak mustahil hal yang sama terjadi di kabupaten-kabupaten. Keadaan ini tentu saja akan sangat berbahaya jika ada penduduk desa yang terkena corona, lebih-lebih mereka yang termasuk kategori rentan.

Dalam menghadapi permasalahan ini, Pemerintah Kota Jambi mempersiapkan rumah-rumah kosong sebagai ruang isolasi alternatif. Selain itu, hotel juga disiapkan untuk orang-orang ‘kaya’ atau ASN dengan skema pembiayaan mandiri. Tentu masih belum jelas ukuran ‘kaya’ di sini, dan tidak menutup kemungkinan ini menjadi alasan bagi pemerintah kota untuk lepas tangan.

Kita perlu mengapresiasi kinerja pemerintah dalam menanggulangi covid-19. Akan tetapi, kita tidak perlu berharap banyak karena kemampuan penelusuran (contact tracing) pemerintah, khususnya jika dibandingkan dengan negara lain yang persebaran virusnya dapat ditekan, masih sangat lemah. Orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi biasanya hanya disarankan isolasi mandiri setelah pulang dari luar kota. Mereka tidak dikontrol secara ketat, dan siapa saja yang berinteraksi dengan mereka tidak didata. Alhasil, ketika ada yang terinfeksi virus corona, pemerintah kesulitan memetakan siapa saja yang pernah kontak dengan si penderita.

Lantas, dengan bahaya yang sudah di depan mata, apa yang  mesti kita perbuat? Tidak lain tidak bukan mulai hari ini kita harus menganggap ancaman covid-19 memang nyata adanya. Kita tidak perlu berhenti berkerja karena itu sama saja bunuh diri. Kita tetap bisa beribadah dan mengerjakan segenap aktivitas lainnya. Kita hanya wajib untuk selalu memakai masker ketika ke luar rumah. Pemakaian masker juga harus dengan benar. Banyak dari kita yang memakai masker ketika berkendara, tapi membukanya saat berbicara dengan orang lain. Ini keliru karena virus corona menular melalui manusia bukan ketika sendiri di atas sepeda motor (meskipun bisa tertular jika ada virus yang sedang bertebaran di udara). 

Beberapa hari setelah anaknya dimakamkan, Fasha mencurahkan isi hatinya melalui puisi yang amat menyayat hati. Pada tiap-tiap bait puisi itu tergambar amat jelas betapa Fasha kehilangan buah hatinya. Dengan lirih Fasha merapal:

“Saat yang paling meremukkan dada ayahmu ini, saat menenangkan hati mengazanimu. Kilatan bayangan saat mengazanimu di momen berbeda kelahiranmu di dunia, bermain-main di pelupuk mata. Aktifitas yang sama, Anakku. Azan menyambutmu ke dunia dan kali ini azan melepasmu kembali ke haribaan-Nya.”

Tentu kita tidak mau menggubah puisi serupa. Oleh karena itu, jaga dirimu dan keluargamu dari virus corona.(*)



Artikel Rekomendasi